HEADLINE

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (Bagian 8) : Pesona Kuil Fushimi Inari TaishaLambang Dewa Shinto di Kyoto

×

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (Bagian 8) : Pesona Kuil Fushimi Inari TaishaLambang Dewa Shinto di Kyoto

Sebarkan artikel ini

Keterangan foto : Berfoto di gerbang Torii Kuil Fushimi Inari di Kyoto Jepang. Ist.

Oleh : Dr. H. Jufri Syahruddin

Berwisata ke kota Kyoto merupakan pengalaman menarik yang tak terlupakan. Sebagai bagian dari Prefektur Osaka, Kyoto menyimpan objek wisata yang sangat masyhur yaitu Fushimi Inari Taisha sebagai lambang Dewa Shinto.

Kuil Fushimi Inari Taisha bukan sekadar kuil biasa, ia adalah simbol visual Jepang yang paling ikonis. Ribuan gerbang torii (tiang kayu bundar) berwarna merah cerah terpasang di kiri kanan membentuk lorong panjang menuju puncak Gunung Inari. Tempat ini menawarkan perpaduan sempurna antara spiritualitas, sejarah, dan keindahan visual yang memukau.
​
Kuil ini merupakan pusat dari sekitar 30.000 kuil Inari di seluruh Jepang. Inari adalah dewa Shinto untuk padi dan kemakmuran bisnis. Itulah alasan mengapa Anda akan melihat banyak sekali patung rubah (kitsune) di area ini karena bagi orang Jepang rubah dipercaya sebagai pembawa pesan suci dewa Inari.

Daya tarik utamanya adalah Senbon Torii yakni ribuan gerbang kayu berwarna oranye kemerahan. Torii ini merupakan sumbangan dari individu maupun perusahaan sebagai bentuk syukur atau doa agar bisnis mereka lancar. Sisi depan torii terlihat polos, licin dan megah, sementara di sisi belakang Anda akan melihat ukiran nama penyumbang dan tanggal pemasangan di setiap gerbang.
​
Gerbang torii ini sangat panjang menuju puncak gunung Inari.
Jumlah tiang gerbang torii di Fushimi Inari Taisha diperkirakan berjumlah lebih dari 10.000 buah. Meskipun sering disebut sebagai Senbon Torii yang secara harfiah berarti “seribu gerbang”, angka tersebut sebenarnya hanya merujuk pada lorong padat di awal jalur pendakian. Jika dihitung secara keseluruhan dari gerbang besar di pintu masuk hingga ke puncak Gunung Inari, jumlahnya jauh melampaui angka tersebut
​
Bagi pengunjung yang punya energi lebih, jangan hanya berhenti di area bawah. Jalur pendakian menuju puncak gunung memakan waktu sekitar 2-3 jam (pulang-pergi).
​
Di tengah lorong menuju puncak terdapat titik pemberhentian yang menawarkan pemandangan spektakuler kota Kyoto dari ketinggian. Semakin tinggi kita mendaki, suasana akan semakin tenang dan magis, jauh dari kerumunan turis di gerbang utama.

Baca Juga  Remaja 14 Tahun Tenggelam di Pantai Muaro Putuih Tiku, Pencarian Dilanjutkan Besok Pagi

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah saat subuh (sebelum jam 07.00) atau malam hari. Kuil ini dibuka 24 jam dan pemandangan gerbang di malam hari sangat dramatis.

Tidak ada biaya masuk untuk menjelajahi area kuil dan jalur pendakian. Untuk lebih nyaman dan aman gunakan sepatu lari atau sepatu jalan yang karena jalurnya didominasi anak tangga batu.

Untuk melepas lelah sebaiknya pengunjung mencoba kuliner khas Inari yaitu sushi (nasi dalam kulit tahu goreng) atau kitsune udon di kedai sekitar kuil. Konon, tahu goreng adalah makanan favorit para rubah.
​
Tatkala berada di Kuil ini banyak tempat berfoto yang menarik sebagai kenangan. Namun, ribuan wisatawan akan menyulitkan kita mengambil foto. Oleh sebab itu, jika Anda ingin mengambil foto tanpa gangguan orang lain, bersabarlah dan teruslah berjalan mendaki. Semakin jauh Anda melangkah ke atas, jumlah turis akan semakin berkurang secara signifikan.

Baca Juga  Wardah Raih Cannes Lion Pertama Lewat Hear in Hijab, Alat Bantu Dengar Inklusif untuk Perempuan Berhijab

​
Bamboo Forest Arashiyama

Di samping objek wisata ikonik Kuil Fushimi Inari Takaisha, ada objek wisata lain yang juga sangat terkenal di Kyoto, yakni Hutan Bambu Arashiyama. Ini adalah salah satu destinasi paling magis di Kyoto yang menawarkan suasana tenang dan visual yang luar biasa. Berada di distrik Arashiyama yang bersejarah, tempat ini wajib masuk dalam daftar kunjungan Anda.
​
Objek ini menawarkan pengalaman menjelajahi lorong hutan Bambu yang membentang sekitar ratusan meter, diapit oleh batang-batang bambu hijau yang menjulang sangat tinggi hingga menutupi sinar matahari.
​
Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menetapkan suara gesekan batang bambu di sini sebagai salah satu dari “100 Bunyi Lanskap Jepang”. Saat angin bertiup, dengarkan suara derit kayu dan gemerisik daun yang sangat menenangkan. (Bersambung)

​