HEADLINENASIONAL

Indonesia Perlu Siapkan Cadangan Strategis BBM Nasional

×

Indonesia Perlu Siapkan Cadangan Strategis BBM Nasional

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Merespons defisit neraca perdagangan Mei 2026, setelah sebelumnya selama 72 bulan berturut-turut surplus, Anggota Komisi Energi DPR RI periode 2019-2024, Mulyanto, mengusulkan agar pemerintah secara bertahap membangun cadangan strategis BBM Nasional dengan target minimal mampu menopang kebutuhan impor bersih selama 90 hari, sejalan dengan praktik terbaik internasional.

Politisi senior PKS itu menilai defisit neraca perdagangan yang dipicu oleh membengkaknya impor sektor migas, khususnya BBM dan LPG, sangat membahayakan stabilitas keuangan dan fiscal negara. Fakta tersebut menegaskan bahwa persoalan energi tidak lagi semata-mata menjadi isu sektoral, tetapi telah menjadi persoalan ketahanan ekonomi nasional.

“Setiap liter BBM dan setiap kilogram LPG yang kita impor berarti devisa negara keluar. Sebaliknya, setiap keberhasilan mengurangi impor energi akan langsung memperkuat neraca perdagangan, cadangan devisa, dan nilai tukar rupiah. Ini artinya, ketahanan energi adalah sumber bagi ketahanan devisa kita,” kata Mulyanto kepada media ini, Kamis (2/7).

Selama beberapa tahun terakhir, kata Mulyanto, surplus perdagangan nonmigas masih mampu menutup defisit migas. Namun, ketika harga minyak dunia melonjak dan kita tidak memiliki cadangan penyangga BBM, maka impor energi membengkak. Akibatnya Indonesia kembali mengalami defisit neraca perdagangan.

Baca Juga  Khairul Jasmi: Masih Dipercaya di Tengah Badai Disrupsi, Akurasi Harga Mati Pers Mainstream

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap energi impor telah menjadi salah satu titik lemah fundamental perekonomian nasional. Karena itu, langkah pemerintah untuk mulai mensubstitusi LPG dengan CNG berbasis gas bumi domestik merupakan arah kebijakan yang tepat. Indonesia memiliki cadangan gas yang cukup besar dan pemanfaatannya di dalam negeri akan mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor.

Namun, tanpa adanya Cadangan Stategis BBM Nasional, kebijakan ini masih pincang.

“Indonesia sudah saatnya membangun Cadangan Strategis BBM Nasional (Strategic Petroleum Reserve) sebagai bagian dari sistem ketahanan energi nasional. Cadangan ini berfungsi sebagai penyangga apabila terjadi gangguan pasokan global, lonjakan harga minyak dunia, konflik geopolitik, maupun bencana yang mengganggu distribusi energi,” katanya.

Saat ini menurutnya kapasitas cadangan operasional BBM Indonesia masih relatif terbatas dibandingkan banyak negara lain. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan Cadangan Strategis BBM Nasional secara bertahap dengan target minimal mampu menopang kebutuhan impor bersih selama 90 hari, sejalan dengan praktik terbaik internasional.

Baca Juga  Truk VS Bus Sembodo Laga Kambing, Tiga Orang Luka Ringan, Satu Luka Berat

“Cadangan tersebut bukan hanya menjaga keamanan pasokan, tetapi juga memberikan ruang bagi pemerintah untuk meredam gejolak harga dan mengurangi risiko terhadap stabilitas ekonomi nasional,” terang Mulyanto.

Selain itu, menurut Mulyanto, penting bagi pemerintah untuk melakukan pembenahan manajemen hulu migas secara menyeluruh. Pemerintah perlu membangun kilang-kilang baru BBM, agar produksi BBM nasional meningkat.

Ke depan, kebijakan energi harus disusun secara terpadu dari hulu hingga hilir. Peningkatan produksi migas, pembangunan dan modernisasi kilang, substitusi LPG impor dengan gas domestik, peningkatan efisiensi energi, serta pembangunan Cadangan Strategis BBM Nasional harus menjadi satu kesatuan strategi nasional yang saling memperkuat.

Indonesia dianugerahi sumber daya energi yang melimpah. Sudah saatnya kekayaan tersebut dikelola untuk memperkuat kemandirian bangsa. Sebab pada akhirnya, ketahanan energi bukan hanya menjaga pasokan energi, tetapi juga menjaga devisa negara, memperkuat rupiah, dan membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih tangguh di tengah dinamika global. (h/sam)