PADANG, HARIANHALUAN.ID — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat inflasi year-on-year (y-on-y) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) sebesar 4,70 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,51. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Dharmasraya sebesar 5,91 persen dengan IHK sebesar 115,54, dan inflasi terendah terjadi di Kota Padang sebesar 4,19 persen dengan IHK sebesar 112,83.
Sementara secara month-to-month (m-to-m), bulan Juni 2026 Sumbae mengalami inflasi sebesar 0,50 persen. Dengan ini, hingga Juni 2026, inflasi year-to-date (y-to-d) Sumbar tercatat sebesar 0,98 persen.
Kepala BPS Sumbar, Nurul Hasanudin mengatakan, Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya 11 kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 7,76 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,58 persen; dan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,26 persen.
Kemudian, kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 4,80 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,78 persen; kelompok transportasi sebesar 4,45 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,25 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 1,04 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,17 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,72 persen; serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 10,74 persen.
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y pada Juni 2026 antara lain: cabai merah, emas perhiasan, beras, bensin, minyak goreng, angkutan udara, Sigaret Kretek Mesin (SKM), bawang merah, ikan cakalang/ikan sisik, nasi dengan lauk, ikan nila, bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, tomat, Sigaret Kretek Tangan (STK), daging ayam ras, ayam goreng, mobil, pepaya, dan ikan tongkol/ikan ambu-ambu.
“Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi y-on-y pada Juni 2026 antara lain: kentang, kelapa, telur ayam ras, popok bayi sekali pakai/ diapers, santan segar, susu bubuk, sabun cair/cuci piring, sabun mandi cair, pembalut wanita, dan telur puyuh,” kata Nurul dalam keterangan resmi, Rabu (1/7).
Sementara komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi m-to-m pada Juni 2026 antara lain: cabai merah, bensin, tomat, angkutan udara, bahan bakar rumah tangga, bawang putih, telepon seluler, daun seledri, pasta gigi, wortel, cabai rawit, emas perhiasan, kentang, Sigaret Kretek Mesin (SKM), jengkol, daun bawang, cabai hijau, Sigaret Putih Mesin (SPM), bayam, dan ikan nila.
Selanjutnya, komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi m-to-m pada Juni 2026 antara lain: daging ayam ras, telur ayam ras, sawi hijau, buncis, kangkung, minyak goreng, cumi-cumi, bawang merah, ketimun, terong, dan buah naga.
Seluruh kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y. Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,54 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,10 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,23 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,16 persen; dan, kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen.
Lalu, kelompok transportasi sebesar 0,47 persen; kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,09 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen; kelompok pendidikan sebesar 0,10 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,42 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,55 persen. (*)












