OPINI

Kita Tidak Hidup dari Dolar

×

Kita Tidak Hidup dari Dolar

Sebarkan artikel ini

Padahal bagi banyak masyarakat adat di Indonesia, tanah bukan sekadar ruang produksi ekonomi. Tanah adalah identitas, sejarah, sumber kehidupan, bahkan bagian dari hubungan spiritual mereka dengan alam. Ketika negara membuka lahan pertanian dalam skala besar tanpa memahami budaya masyarakat sekitar, maka yang berubah bukan hanya bentang alam, tetapi juga cara hidup masyarakat itu sendiri.

Papua menjadi contoh penting untuk memahami persoalan ini. Sebagian besar wilayah di Papua masih berada dalam penguasaan tanah adat. Masyarakatnya selama turun-temurun hidup berdampingan dengan alam melalui pola survival yang sangat bergantung pada hutan, sungai, hewan buruan, dan tanaman lokal seperti sagu. Dalam banyak komunitas adat, sagu bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari kebudayaan dan identitas hidup mereka.

Baca Juga  Refleksi Kritis Terhadap Perilaku Korupsi: Sebuah Kehancuran Moral dan Sosial

Karena itu, ketika pemerintah menjalankan program perluasan area persawahan di Papua, pendekatannya tidak bisa semata-mata melihat wilayah tersebut sebagai lahan kosong yang siap diolah menjadi sawah produktif. Pemerintah perlu memahami bahwa perubahan hutan menjadi sawah juga berarti perubahan budaya masyarakat setempat.

Masyarakat yang sebelumnya hidup dari hutan perlahan akan dipaksa menyesuaikan diri dengan pola ekonomi baru. Ruang hidup mereka berubah, sumber pangan tradisional mereka berkurang, dan hubungan sosial yang selama ini terbentuk dari kehidupan berbasis alam bisa ikut mengalami perubahan. Jika persoalan ini tidak dipahami secara mendalam, maka pembangunan justru berpotensi menimbulkan konflik sosial di kemudian hari.

Karena itu, selain kajian sosial, ekonomi, dan lingkungan, pemerintah juga perlu melakukan kajian budaya secara serius terhadap setiap daerah yang menjadi tujuan pengembangan lahan pertanian. Kajian budaya penting untuk memahami pola hidup masyarakat, hubungan adat dengan tanah, sumber pangan tradisional, hingga cara masyarakat menjaga keberlangsungan hidup mereka selama ini.

Baca Juga  100 Hari Usai Pelantikan, Perubahan di Padang Pariaman Mulai Terlihat

Pendekatan budaya akan membantu negara melihat masyarakat adat bukan sebagai penghambat pembangunan, tetapi sebagai bagian penting dari masa depan pembangunan itu sendiri.

Jika misalnya dibuka lahan pertanian baru seluas satu juta hektare, maka pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa besar produksi padi yang dihasilkan. Negara juga harus memikirkan berapa luas lahan yang benar-benar dialokasikan untuk masyarakat setempat agar mereka memiliki jaminan kehidupan hingga generasi mendatang.