OPINI

Saat Hutan Hilang, Banjir Datang: Krisis Kepercayaan di Tengah Rusaknya Alam Sumatera

×

Saat Hutan Hilang, Banjir Datang: Krisis Kepercayaan di Tengah Rusaknya Alam Sumatera

Sebarkan artikel ini

Kepentingan ekonomi dan investasi kadang lebih diprioritaskan dibanding keselamatan lingkungan dan warga sekitar. Padahal, masyarakatlah yang paling merasakan dampak dari kerusakan hutan tersebut. Ketika banjir bandang terjadi, banyak warga kehilangan rumah, sawah, dan sumber penghasilan mereka.

Petani gagal panen karena lahan tertutup lumpur. Anak-anak juga kesulitan pergi sekolah karena jalan dan jembatan rusak. Dalam situasi seperti ini, rasa kecewa masyarakat semakin besar karena mereka merasa tidak benar-benar dilindungi.

Krisis kepercayaan ini juga muncul karena kurangnya keterbukaan dalam pengelolaan hutan. Banyak masyarakat tidak tahu bagaimana izin pembukaan lahan diberikan, siapa yang mengawasi, dan apakah aturan lingkungan benar-benar dijalankan.

Akibatnya, muncul kecurigaan bahwa ada pihak yang lebih mementingkan keuntungan daripada keselamatan alam dan masyarakat. Padahal, kepercayaan masyarakat sangat penting untuk mengatasi masalah lingkungan.

Kalau masyarakat sudah tidak percaya, maka program pemerintah juga akan sulit berjalan dengan baik. Misalnya, program penghijauan atau pencegahan bencana tidak akan efektif kalau warga merasa pendapat mereka diabaikan.Karena itu, pemerintah perlu menunjukkan tindakan nyata, bukan hanya sekadar janji.

Baca Juga  LKKPN Pekanbaru Gandeng Pemko Pariaman untuk Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan di Pulau Bando

Penegakan hukum terhadap pelaku illegal logging dan perusakan hutan harus dilakukan dengan serius. Kalau ada perusahaan yang terbukti merusak lingkungan, maka harus diberi sanksi yang tegas.

Selain itu, pemulihan hutan juga harus dilakukan secara terus-menerus. Menanam pohon tidak cukup hanya untuk acara seremonial atau formalitas saja. Hutan perlu benar-benar dirawat agar bisa kembali menjalankan fungsinya sebagai penyerap air dan pelindung lingkungan.

Perusahaan juga punya tanggung jawab besar dalam menjaga alam. Mereka tidak bisa hanya fokus mencari keuntungan tanpa memikirkan dampaknya bagi masyarakat sekitar. Bisnis memang penting, tapi keselamatan lingkungan dan warga juga harus jadi perhatian utama.

Media dan masyarakat juga punya peran penting dalam mengawasi kerusakan hutan. Informasi tentang dampak deforestasi perlu terus disebarkan supaya masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan. Dengan begitu, tekanan terhadap pihak-pihak yang merusak hutan juga akan semakin besar.

Baca Juga  Tok! Paripurna DPR RI Sahkan UU Tentang Provinsi Sumatera Barat,  Riau, Jambi, NTB dan NTT

Banjir bandang di Sumatera seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak. Ini bukan sekadar bencana alam biasa, tetapi juga akibat dari kerusakan lingkungan yang terus dibiarkan.

Kalau hutan terus ditebang tanpa pengawasan yang jelas, maka bencana seperti ini akan semakin sering terjadi. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan pihak terkait. Kalau masyarakat sudah tidak percaya, kerja sama untuk menjaga lingkungan juga akan semakin sulit dilakukan.

Sumatera sebenarnya masih punya hutan yang bisa diselamatkan. Tapi semua pihak harus bergerak sekarang sebelum kerusakan menjadi semakin parah. Menjaga hutan bukan cuma soal menjaga alam, tetapi juga menjaga keselamatan dan masa depan masyarakat yang hidup di sekitarnya (*)