Zubir Said (Arsitek Jiwa Kebangsaan): Lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, maestro musik ini merantau ke Singapura dan menggubah “Majulah Singapura”, lagu kebangsaan yang hingga kini dinyanyikan dalam bahasa Melayu oleh seluruh warga negara Singapura. Ia memberi ruh dan identitas budaya bagi nasionalisme negara-kota tersebut.
Letnan Kolonel Adnan Saidi (Benteng Pertahanan Terakhir): Perwira militer keturunan Minangkabau yang dikenang atas keberaniannya memimpin perlawanan dalam Pertempuran Bukit Chandu tahun 1942 demi mempertahankan Singapura dari invasi Jepang. Namanya hingga kini dihormati sebagai salah satu pahlawan perang terbesar dalam sejarah pertahanan Singapura dan Malaysia.
Ketiga tokoh ini menunjukkan bahwa dalam denyut sejarah Singapura modern mengalir kontribusi nyata manusia Nusantara—melalui pemikiran, karya, keberanian, dan pengorbanan mereka
VIII. Cambuk Sejarah bagi Indonesia: Meluncurkan Danantara
Melihat keberhasilan Singapura mengadopsi identitas Temasek untuk menguasai ekonomi kawasan adalah cambuk keras bagi Indonesia. Sebagai pewaris sah rahim peradaban Sriwijaya, Indonesia terlalu lama tertidur dalam zona nyaman ekonomi berbasis daratan (land-based economy) dan melupakan jati diri maritimnya.
Namun, arah angin sejarah kini mulai bergeser. Indonesia tidak lagi tinggal diam menonton dominasi Temasek. Melalui pembentukan Danantara (Daya Anagata Nusantara) sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) super raksasa yang baru, Indonesia sedang melakukan langkah koreksi sejarah yang masif.
Jika dulu kita menggunakan nama administrasi Barat seperti INA (Indonesia Investment Authority), pemilihan nama Danantara adalah pernyataan politik-ekonomi yang berani. Danantara mengonsolidasikan seluruh aset BUMN terbesar Indonesia—dari perbankan, energi, hingga telekomunikasi—menjadi satu kendaraan investasi tunggal untuk mengiringi model bisnis Temasek Singapura. Ini adalah langkah konkret Indonesia untuk mereplikasi kembali strategi penguasaan aset berskala besar.






