Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi tim akademisi UPI dalam mengembangkan STEAMVR Edukit agar semakin sesuai dengan kondisi pembelajaran di lapangan. Nanang menegaskan, pemanfaatan teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan posisi guru dalam proses belajar-mengajar.
“STEAMVR Edukit hadir sebagai alat bantu yang fleksibel. Penerapannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah. Masukan dari guru-guru MGMP ini sangat berharga bagi kami untuk menyempurnakan pengembangannya agar aplikasi ini semakin terjangkau dan mudah digunakan,” ujarnya.
Melalui kegiatan tersebut, UPI mendorong pemanfaatan teknologi VR tidak sekadar menjadi inovasi baru di ruang kelas, tetapi menjadi media yang dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual, visual, dan menarik bagi siswa. (*)







