Oleh : Rahmi Yuliani, S.Pd (Guru Bahasa Indonesia SMP N 3 Bukittinggi)
Di sebuah ruang kelas, selalu ada anak yang paling mudah terlihat. Ia yang sering mengangkat tangan. Ia yang cepat menjawab pertanyaan. Ia yang tertawa paling keras, aktif berdiskusi, dan dengan percaya diri maju ke depan kelas.
Namun, ada pula anak yang nyaris tidak terdengar. Duduk tenang di tempatnya. Tidak banyak bertanya. Jarang mengangkat tangan. Ketika guru mengajukan pertanyaan, matanya tertunduk atau hanya tersenyum kecil.
Ketika teman-temannya berebut menyampaikan pendapat, ia memilih diam. Anak seperti ini seringkali luput dari perhatian. Bukan karena ia tidak ada, melainkan karena ia tidak banyak meminta perhatian. Kadang-kadang, di balik diam seorang anak, ada begitu banyak hal yang sedang berlangsung.
Setiap anak datang ke sekolah membawa cerita yang berbeda. Ada yang datang dengan penuh semangat. Ada yang masih mengantuk. Ada yang baru saja dimarahi di rumah. Ada yang sedang memikirkan pertengkaran dengan teman.
Ada yang cemas karena tugas belum selesai. Ada pula yang sedang berusaha memahami dirinya sendiri. Mereka duduk di ruangan yang sama, mengikuti pelajaran yang sama, tetapi tidak selalu datang dengan perasaan yang sama. Karena itu, ketika seorang anak diam, terlalu cepat jika diam tersebut diterjemahkan sebagai malas, tidak mampu, tidak percaya diri, atau tidak memiliki minat belajar.
Anak-anak tidak selalu mampu menjelaskan apa yang mereka rasakan. Sebagian bahkan belum memiliki kosakata yang cukup untuk mengatakan, “Aku sedang tidak baik-baik saja.” Maka, diam terkadang menjadi bahasa yang mereka miliki.
Pembelajaran di kelas sering kali terlihat hidup ketika banyak tangan terangkat, banyak suara terdengar, dan diskusi berlangsung ramai. Kelas yang aktif memang menyenangkan.
Namun, kelas yang ramai belum tentu menjadi ruang yang aman bagi semua anak. Sebab keberanian berbicara tidak tumbuh dalam ruang yang membuat anak takut salah.
Seorang anak akan lebih mudah mengemukakan pendapat ketika ia tahu bahwa kesalahannya tidak akan menjadi bahan tertawaan.
Tugas guru bukan hanya membuat kelas berbicara, tetapi juga memastikan setiap anak merasa memiliki hak untuk berbicara. Sebab tujuan pembelajaran bukan menciptakan kelas yang paling gaduh, melainkan ruang belajar yang membuat setiap anak berani bertumbuh.
Tidak semua anak dapat langsung menjawab pertanyaan guru. Ada anak yang membutuhkan beberapa detik untuk berpikir. Ada yang harus menuliskan gagasannya terlebih dahulu sebelum mampu mengucapkannya.
Ada pula yang lebih nyaman menyampaikan pendapat melalui tulisan. Sementara anak yang membutuhkan waktu akan terus berada di belakang.
Padahal, cepat menjawab bukan satu-satunya ukuran kemampuan. Oleh karena itu, terkadang yang dibutuhkan bukan pertanyaan yang lebih sulit, melainkan waktu tunggu yang lebih panjang. Bukan tekanan untuk segera berbicara, melainkan kesempatan untuk mempersiapkan diri.
Menjadi guru bukan hanya soal menguasai materi pelajaran. Guru juga perlu belajar membaca kelas. Siapa yang hari ini lebih banyak diam daripada biasanya?
Siapa yang biasanya aktif, tetapi tiba-tiba kehilangan semangat? Siapa yang selalu duduk di belakang dan tidak pernah meminta bantuan? Siapa yang tersenyum ketika ditanya, tetapi matanya menunjukkan keraguan?
Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam itu dapat membuka pintu menuju pemahaman yang lebih besar. Kadang-kadang, satu kalimat sederhana dari seorang guru dapat membuat seorang anak merasa keberadaannya diperhatikan.
Pada akhirnya, mungkin kebutuhan paling sederhana seorang anak di sekolah adalah merasa bahwa dirinya dilihat. Bukan hanya nilainya. Bukan hanya kehadirannya. Bukan hanya prestasinya. Tetapi dirinya sebagai manusia.
Anak yang aktif perlu dihargai. Anak yang berprestasi perlu diapresiasi. Tetapi anak yang diam juga perlu diperhatikan. Sebab bisa jadi, anak yang paling jarang mengangkat tangan justru memiliki cerita yang paling panjang. Bisa jadi, anak yang tidak pernah maju ke depan memiliki mimpi yang besar.
Bisa jadi, anak yang selalu memilih duduk di sudut kelas sedang menunggu seseorang mengatakan bahwa suaranya juga berharga. Maka, ketika seorang anak diam, jangan buru-buru mengisinya dengan penilaian. Berikan ruang, berikan waktu.
Sebab tugas pendidikan bukan sekadar membuat anak mampu berbicara di depan kelas. Lebih jauh dari itu, pendidikan perlu memastikan bahwa ketika suatu hari anak tersebut menemukan suaranya, ia tahu bahwa ada orang-orang yang bersedia mendengarkan. Di balik setiap anak yang diam, mungkin ada banyak hal yang belum terucap. Tugas seorang guru bukan selalu membuat mereka segera berbicara. Kadang-kadang, tugas yang lebih mulia adalah memastikan bahwa ketika mereka akhirnya berbicara, dunia di sekelilingnya cukup aman untuk mendengarkan. (*)












