OPINI

Kita Tidak Hidup dari Dolar

×

Kita Tidak Hidup dari Dolar

Sebarkan artikel ini

Penulis: Dr. Ir. Harison, M.Kom, M.Pd.T, IPM
Dosen Pendidikan Profesi Insinyur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas

Pernyataan Presiden pada 16 Mei 2026 tentang masyarakat desa yang tidak bergantung pada dolar menjadi perbincangan luas di media sosial. Menariknya, tepat sebulan sebelumnya, pada 16 April 2026, saya menuliskan dalam opini di Harian Haluan sebuah gagasan serupa: bahwa kita tidak hidup dari dolar atau emas, melainkan dari beras yang tersedia di meja makan.

Kesamaan gagasan ini menunjukkan satu kenyataan penting bahwa di tengah dunia yang semakin sibuk membicarakan investasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi, kebutuhan paling dasar manusia tetaplah sama, yakni pangan. Rakyat mungkin tidak terlalu memikirkan pergerakan dolar setiap hari, tetapi mereka langsung merasakan ketika harga beras naik, minyak goreng mahal, atau kebutuhan pokok mulai sulit dijangkau.

Baca Juga  Gastronomi dalam Lintas Waktu: Eksistensi Rendang Belalang yang Takkan pernah HilangĀ 

Karena itu, pernyataan Presiden sesungguhnya menyentuh realitas ekonomi rakyat yang paling nyata. Bahwa kekuatan ekonomi sebuah bangsa pada akhirnya bukan hanya ditentukan oleh besarnya cadangan devisa atau tingginya nilai mata uang, melainkan oleh kemampuan negara menjaga kebutuhan dasar masyarakatnya tetap tersedia dan terjangkau.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat desa hidup dari aktivitas riil. Mereka bertani, berkebun, menangkap ikan, memanfaatkan hasil alam, dan saling menopang melalui hubungan sosial yang kuat. Ekonomi seperti ini tidak selalu bergantung langsung pada transaksi dolar, tetapi bertumpu pada keberlangsungan pangan dan alam di sekitar mereka. Itulah sebabnya ketika kebutuhan pokok aman, masyarakat tetap dapat bertahan meskipun dunia sedang mengalami gejolak ekonomi.

Baca Juga  Perubahan Iklim Dunia yang Disebabkan Pembakaran Lahan untuk Memenuhi Komoditas Global

Namun demikian, menjaga ketahanan pangan bukanlah pekerjaan sederhana. Pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, alih fungsi lahan, hingga ketergantungan impor menjadi tantangan besar yang harus dihadapi negara. Dalam konteks inilah upaya pemerintah memperluas lahan pertanian untuk padi dan tebu perlu diapresiasi sebagai langkah strategis menjaga ketersediaan pangan dan energi nasional.

Meski demikian, pembangunan pertanian dalam skala besar tidak cukup hanya dilihat dari sudut ekonomi semata. Selama ini berbagai proyek pengembangan lahan lebih banyak bertumpu pada kajian ekonomi, sosial, dan dampak lingkungan. Semua itu memang penting, tetapi pengalaman menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan di lapangan.

Ada satu aspek yang sering kali terlupakan, yakni budaya masyarakat setempat.