PESISIR SELATAN

Di Bawah Gema Takbir dan Langit Painan, Iduladha Menyatukan Ribuan Hati di GOR H. Ilyas Yakub

×

Di Bawah Gema Takbir dan Langit Painan, Iduladha Menyatukan Ribuan Hati di GOR H. Ilyas Yakub

Sebarkan artikel ini

PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID- Fajar belum sepenuhnya meninggi ketika kawasan GOR H. Ilyas Yakub Painan, Kecamatan IV Jurai, mulai dipenuhi langkah-langkah kecil manusia. Dari berbagai arah, masyarakat datang berbondong-bondong membawa sajadah, mengenakan pakaian terbaik, dan menggandeng anak-anak mereka menuju lapangan utama yang menjadi pusat pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Rabu (27/5/2026).

Udara pagi yang masih sejuk bercampur dengan gema takbir yang terus berkumandang dari pengeras suara. Suara itu menyelinap di antara pepohonan, memantul di dinding bangunan, lalu larut bersama wajah-wajah penuh syukur yang memenuhi arena GOR.

Di halaman luar, anak-anak tampak berlarian kecil sambil menggenggam tangan orang tua mereka. Para perantau yang pulang kampung saling bersalaman dengan kerabat yang lama tak berjumpa. Hari raya kurban di Painan pagi itu bukan sekadar ritual ibadah tahunan, melainkan peristiwa emosional yang menghadirkan rasa berbagi, kebersamaan, dan harapan.

Tak lama kemudian, saf-saf salat mulai tersusun rapi. Ribuan jemaah tampak memadati area GOR. Di barisan depan terlihat hadir Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni bersama Wakil Bupati Risnaldi Ibrahim, Sekda Zainal Arifin, Kapolres AKBP Derry Indra, Wakapolres Kompol Syafrizen, Kepala Kantor Kementerian Agama Pesisir Selatan Yufrizal, Ketua PHBI Afrizal Dt Rangkayo Basa, tokoh agama, jajaran OPD, hingga para niniak mamak dan tokoh masyarakat.

Ketika takbiratul ihram dikumandangkan, suasana mendadak hening. Ribuan kepala tertunduk bersamaan. Di tengah kebersamaan itu, perbedaan status sosial, jabatan, maupun latar belakang seakan melebur menjadi satu, sebagai hamba yang datang membawa doa dan pengharapan.

Salat Id dipimpin Imam Ustadz Zainul Fikri Al Hafidz dengan bacaan yang tenang dan menyentuh hati. Banyak jemaah tampak larut dalam kekhusyukan. Sebagian menitikkan air mata ketika lantunan ayat suci menggema di dalam arena.

Usai salat, khutbah Iduladha disampaikan Ustadz Wawan Gunawan. Dengan suara tegas namun menyejukkan, ia mengajak jemaah memahami makna kurban lebih dalam, bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi pengorbanan melawan hawa nafsu dan ego manusia.

Baca Juga  Ribuan Warga Hadiri Perayaan Iduladha, Bupati Welly Ajak Perkuat Kebersamaan

Menurutnya, manusia sering kali diuji bukan oleh kekurangan, melainkan oleh kelimpahan dan kesombongan. Karena itu, ibadah kurban menjadi pengingat agar manusia tetap rendah hati dan peduli terhadap sesama.

“Makna kurban adalah kemampuan mengendalikan diri dan menjadi pribadi yang lebih ikhlas serta peduli,” ucapnya di hadapan jemaah.

Khutbah itu disimak dengan penuh perhatian. Sesekali terasa angin bertiup pelan, sementara ribuan jemaah tetap duduk tenang mendengarkan pesan-pesan keagamaan yang mengalir dari mimbar.

Suasana haru kembali terasa ketika Bupati Hendrajoni menyampaikan sambutannya. Ia mengatakan Iduladha bukan hanya tentang perayaan, tetapi momentum memperkuat rasa kemanusiaan dan solidaritas sosial di tengah masyarakat.

“Iduladha mengajarkan arti pengorbanan yang sesungguhnya, yaitu rela berbagi dan peduli terhadap sesama,” ujarnya.

Di hadapan masyarakat, Hendrajoni mengajak seluruh warga menjadikan semangat berkurban sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Menurutnya, pengorbanan tidak selalu berbentuk materi, tetapi juga waktu, tenaga, perhatian, dan keikhlasan membantu orang lain.

Pagi itu, nuansa Iduladha juga diwarnai rasa haru ketika Bupati Hendrajoni mengajak jemaah mendoakan para jemaah haji asal Pesisir Selatan yang tengah menjalani ibadah di Tanah Suci. Di antara ratusan jemaah haji tersebut, terselip kabar duka tentang wafatnya Imam Kanapi (81), jamaah asal Kecamatan Lunang yang meninggal dunia di Makkah pada 20 Mei 2026.

“Atas nama pemerintah daerah, kami turut berduka cita. Semoga almarhum mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT,” katanya.

Beberapa jemaah tampak menundukkan kepala ketika doa dipanjatkan. Suasana mendadak sunyi, hanya terdengar suara angin dan gema doa yang mengalun pelan di dalam GOR.

Menurut Hendrajoni, sebanyak 209 jemaah haji asal Pesisir Selatan tahun ini tengah menunaikan ibadah haji dan dijadwalkan kembali ke tanah air pada Juni mendatang.

Selain menyampaikan pesan keagamaan, Hendrajoni juga memanfaatkan momentum berkumpulnya masyarakat untuk menyampaikan berbagai program pembangunan daerah. Ia memaparkan rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Nagari Lakitan senilai Rp160 miliar, pembangunan Laboratorium Kesehatan Masyarakat di Sago senilai Rp20 miliar, serta pembangunan puskesmas di Tapan, Airpura, Air Haji, dan Surantih.

Baca Juga  Harimau Terkam Sapi di Lubuk Betung Pessel, Warga Dilanda Kecemasan

Di sela-sela sambutannya, ia juga menegaskan bahwa pemerintah daerah terus melanjutkan pembangunan infrastruktur jalan, jembatan gantung, hingga hunian tetap bagi masyarakat terdampak bencana.

Tak hanya itu, pemerintah daerah juga mengusulkan sekitar 40 ribu masyarakat kurang mampu untuk menerima layanan BPJS kesehatan gratis pada tahun 2026 melalui pendanaan APBN.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Pesisir Selatan Yufrizal mengingatkan bahwa para jemaah haji saat ini tengah bersiap menjalani puncak ibadah wukuf di Arafah. Ia mengajak masyarakat memperbanyak doa agar seluruh jamaah diberikan kesehatan dan kelancaran selama menjalankan ibadah.

Di sisi lain, semangat berbagi masyarakat Painan juga terlihat dari tingginya jumlah hewan kurban tahun ini. Ketua PHBI Pesisir Selatan Afrizal Dt Rangkayo Basa menyebut, di wilayah Kenagarian Painan saja terdapat 164 ekor sapi dan 12 ekor kambing yang dikurbankan.

Menurutnya, angka tersebut mencerminkan masih kuatnya rasa kebersamaan dan kepedulian sosial masyarakat.

“Kurban adalah wujud nyata kepedulian dan kebersamaan umat,” ucapnya.

Menjelang siang, satu per satu jemaah mulai meninggalkan kawasan GOR H. Ilyas Yakub. Sebagian berhenti untuk bersalaman dan berfoto bersama keluarga. Anak-anak tampak ceria berlari kecil di halaman, sementara para orang tua bercengkerama dengan kerabat dan sahabat yang lama tak bertemu.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat, Iduladha di Painan pagi itu seakan menjadi pengingat bahwa manusia tidak hidup sendiri. Ada nilai kebersamaan yang harus dijaga, ada kepedulian yang harus terus dirawat, dan ada pengorbanan yang harus selalu dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di bawah langit Painan yang perlahan mulai terik, gema takbir masih terasa tinggal di hati ribuan jemaah yang pulang membawa ketenangan, harapan, dan keyakinan bahwa semangat berbagi akan selalu menemukan jalannya di tengah kehidupan masyarakat Pesisir Selatan. (*)