OPINI

Bahasa Indonesia di Ujung Jari Kita

×

Bahasa Indonesia di Ujung Jari Kita

Sebarkan artikel ini
Bahasa
Ilustrasi Bahasa Indonesia di Ujung Jari

Beatrice Clarissa Salim

Mahasiswa Program S1 Akuntansi Semester 2, Universitas Andalas

Bagaimana era digital dapat mengubah cara kita berbahasa—dan apa artinya bagi kita sebagai sebuah bangsa dan negara? Secara teknis, kita semua pasti seringkali menggunakan bahasa yang tidak baku dalam percakapan sehari-hari, contohnya “lagi healing nih”, “vibes-nya beda banget” dan masih banyak lagi contoh lainnya. Tapi kalau kalimat-kalimat tersebut dibacakan di sidang skripsi, kira-kira akan seperti apa situasinya? Inilah yang seringkali menjadi dilema bagi kita hari ini.

Bahasa yang Bergerak Cepat

Bahasa Indonesia tidak pernah stagnan. Sejak pertama kali diikrarkan dalam Sumpah Pemuda pada tahun 1928, ia terus tumbuh secara progresif dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zamannya. Tapi tidak ada periode yang membuatnya berubah secepat sekarang—era media sosial, TikTok, Instagram, X (Twitter), dan aplikasi-aplikasi lainnya yang memungkinkan pengguna untuk chat tanpa henti.

Hari ini, kata-kata baru lahir bukanlah dari kamus ataupun lembaga resmi, namun dari kolom-kolom komentar, caption, dan meme yang viral. “Baper”, “mager”, “gaskeun”, “receh”—semuanya adalah kata-kata yang muncul dari ruang digital dan langsung diadopsi menjadi bagian dari percakapan sehari-hari oleh berjuta-juta orang di Indonesia.

Perubahan ini bukan sesuatu yang bisa kita hentikan—dan mungkin memang tidak perlu juga untuk dihentikan. Bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis. Yang perlu kita perhatikan adalah ke mana perubahan ini membawa kita.

Soal Campur-Campur

Salah satu fenomena yang paling sering terlihat di media sosial adalah campur kode—mencampur penggunaan Bahasa Indonesia dengan bahasa asing, terutama Inggris, di dalam satu kalimat. “Lagi self-reward”, “affordable banget”, “setting boundaries”—frasa-frasa ini pastinya terdengar sangat familiar bagi kita.

Campur kode bukan artinya bodoh atau tidak memiliki rasa nasionalis. Tetapi, apabila dipergunakan terus-menerus tanpa sadar konteks, bisa-bisa kita lupa bahwa “self-reward” bisa diganti dengan “hadiah untuk diri sendiri”, dan “boundaries” bisa menjadi “batasan”.

Baca Juga  Dituduh "Londo Ireng" Wartawan Meradang

Di satu sisi, ini mencerminkan kemampuan bilingual dan keterbukaan terhadap dunia luar. Di sisi lainnya, ada resiko yang harus kita hadapi: Bahasa Indonesia terdengar “kurang keren” dibanding bahasa asing, padahal Bahasa Indonesia sudah menjadi simbol yang menyatukan lebih dari 270 juta orang dari ratusan suku yang berbeda.

Bukan Hanya Sebagai Ancaman

Sebelum timbul kekhawatiran, kita harus melihat dari berbagai sisi terlebih dahulu. Media sosial juga menjadi ruang yang luar biasa untuk memperkuat identitas nasional. Konten Budaya Lokal: musik tradisional, resep daerah, cerita rakyat—kini menyebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri lewat media-media sosial seperti TikTok dan YouTube.

Bahasa Daerah: Jawa, Sunda, Minang, dan Bali mulai hadir kembali di konten-konten digital, menunjukkan kebanggaan masyarakat terhadap akar budaya. Kampanye nasional, gerakan sosial, dan diskusi civic engagement banyak menggunakan Bahasa Indonesia yang jelas dan kuat sebagai suatu pengikat.

Generasi muda yang seringkali diasosiasikan dengan bahasa gaul dan campur kode, ternyata juga bisa menjadi generasi yang memegang teguh nilai nasionalisme—mereka hanya mengekspresikannya dengan cara-cara yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Nasionalisme mereka bukan dalam bentuk pidato-pidato formal; ia hadir dalam konten-konten kreatif, dukungan untuk produk-produk lokal, dan keberanian memperkenalkan budaya Indonesia ke panggung dunia secara global.

Apa yang Perlu Kita Jaga?

Inti dari masalah bukanlah memilih antara “bahasa baku” atau “bahasa gaul”—keduanya memiliki tempat dan fungsinya masing-masing. Yang penting adalah kemampuan kita untuk beralih konteks—tahu kapan harus santai, kapan harus formal dalam berbahasa.

Baca Juga  Harapan di Tengah Jeda Perang Iran-Israel dan Ikhtiar Presiden Prabowo Bawa Komitmen Investasi Asing

Mahasiswa yang chatting dengan teman sehari-hari menggunakan bahasa gaul, lalu menggunakan bahasa yang formal dalam mengerjakan tugas, menulis laporan, atau mengerjakan skripsi dengan bahasa yang tepat—ini bukan inkonsisten. Itu justru menunjukkan kecerdasan dalam berbahasa. Masalahnya akan muncul ketika batas antara kedua hal itu menjadi kabur: ketika tugas-tugas dikerjakan seperti caption Instagram, atau ketika bahasa formal dipakai kaku di semua situasi tanpa rasa.

Bahasa Indonesia tidak perlu dilindungi dari perubahan. Ia perlu dijaga agar tetap menjadi bahasa yang bisa kita gunakan dengan bangga—di café, di ruang sidang, dan di panggung dunia sekaligus.

Peran Kita

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah dua dunia—dunia formal pendidikan dan dunia cair media sosial—kita punya posisi yang unik. Kita memiliki banyak kesempatan untuk menjadi sebuah jembatan: yang membuktikan bahwa Bahasa Indonesia dengan baik itu bukanlah hal yang ketinggalan zaman, dan berkreasi dengan bahasa itu bukan hal yang salah.

Bagaimana caranya? Kita tidak perlu besar-besaran. Cukup memulai dari hal yang sederhana: membaca lebih banyak secara offline ataupun online, menulis, dan sesekali coba cari padanan Bahasa Indonesia sebelum langsung menggunakan kata asing. Bukan karena terpaksa, tapi karena kita sadar bahwa bahasa adalah bagian dari identitas kita.

Bahasa Indonesia sudah melewati banyak zaman—penjajahan, kemerdekaan, reformasi. Era digital hanyalah babak berikutnya. Dan seperti babak-babak sebelumnya, ia akan melewatinya—selama kita yang memakainya tetap sadar dan bangga. Karena pada akhirnya, bahasa bukan hanya alat komunikasi. Ia adalah cermin dari siapa kita, dan siapa yang ingin kita jadi. (*)