OPINI

Keluarga dan Ninik Mamak, Benteng Terakhir Generasi

×

Keluarga dan Ninik Mamak, Benteng Terakhir Generasi

Sebarkan artikel ini

Sayangnya, di tengah derasnya arus digital, peran keluarga dan ninik mamak mulai memudar. Anak lebih akrab dengan media sosial daripada berdialog dengan orang tua atau mamaknya. Padahal komunikasi yang hangat merupakan benteng paling efektif menghadapi berbagai pengaruh negatif, termasuk penyebaran paham LGBT.

Karena itu, sudah saatnya rumah kembali menjadi pusat pendidikan karakter. Luangkan waktu setiap hari untuk berdialog dengan anak, membaca Al-Qur’an bersama, mendengarkan cerita mereka, dan mendampingi aktivitas digitalnya. Surau juga perlu kembali dihidupkan sebagai ruang pembinaan akhlak dan penguatan nilai adat.

Baca Juga  Padang; Kota Banjir Krisis Air

Menghadapi pengaruh LGBT tidak cukup hanya dengan penolakan atau regulasi. Yang lebih penting adalah memperkuat keluarga sebagai tempat anak bertumbuh dengan kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan. Regulasi dapat menjadi pagar, tetapi keluarga adalah pondasi.

Pada akhirnya, masa depan generasi Minangkabau tidak hanya ditentukan oleh sekolah atau pemerintah. Ia dibangun setiap hari di dalam rumah. Ketika orang tua kembali menjadi pendidik pertama dan ninik mamak kembali menjalankan perannya sebagai pembimbing anak kemenakan, maka masyarakat memiliki benteng yang kokoh untuk menjaga generasi tetap tumbuh sesuai fitrah, nilai agama, dan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. (*)

Baca Juga  Thawalib Kembali Ke Khittahnya

Oleh: Bedrizal Zandra, S.Pd
(Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)