OPINI

Kenapa Perilaku Trump Seperti Itu?

×

Kenapa Perilaku Trump Seperti Itu?

Sebarkan artikel ini
Prof Herri (Dosen FEB Unand/Mantan Ketua LLDIKTI Wilayah X)
Prof Herri

OLEH: Prof Herri
Dosen FEB Unand/Mantan Ketua LLDIKTI Wilayah X

Donald Trump, Presiden Amerika Serikat ke-45 dan ke-47, kembali menjadi perhatian dunia sejak terpilih lagi memimpin negara adidaya tersebut. Hampir setiap kebijakan, pernyataan, maupun tindakannya selalu memunculkan perdebatan. Mulai dari kebijakan tarif perdagangan yang agresif, sikap keras terhadap Iran, perubahan pernyataan dalam waktu singkat, hingga gaya komunikasi yang konfrontatif membuat banyak orang bertanya-tanya: mengapa seorang presiden dari negara sebesar Amerika Serikat tampil dengan perilaku seperti itu?

Pertanyaan tersebut menjadi menarik karena selama ini publik internasional terbiasa melihat presiden Amerika sebagai figur yang relatif terukur dalam berbicara maupun bertindak. Sebagai negara adidaya, setiap ucapan presiden Amerika dapat memengaruhi ekonomi global, stabilitas keamanan, bahkan hubungan antarnegara. Karena itu diplomasi biasanya dijalankan dengan penuh kehati-hatian. Namun Trump sering tampil berbeda. Ia terlihat spontan, agresif, keras, bahkan kadang sulit diprediksi.

Dalam banyak kesempatan, Trump tampak lebih menyerupai seorang negosiator bisnis dibandingkan kepala negara dalam pengertian tradisional. Cara berbicaranya langsung menyerang, sering menekan lawan, serta tidak ragu mengubah posisi ketika dianggap menguntungkan dirinya. Bagi sebagian orang, gaya seperti itu dianggap menunjukkan ketegasan dan keberanian. Namun bagi sebagian lainnya, perilaku tersebut dipandang dapat menciptakan ketidakpastian dan ketegangan dalam hubungan internasional.

Sebenarnya perilaku seorang pemimpin tidak muncul secara tiba-tiba. Cara seseorang memimpin biasanya merupakan hasil dari perjalanan hidup yang panjang. Lingkungan keluarga, pola pendidikan, pengalaman sosial, budaya tempat ia dibesarkan, hingga profesi yang dijalani selama bertahun-tahun ikut membentuk karakter dan cara pandangnya terhadap dunia.

Dalam teori Bounded Rationality yang diperkenalkan oleh Herbert A. Simon dijelaskan bahwa manusia sesungguhnya tidak pernah mengambil keputusan secara sepenuhnya rasional. Keputusan seseorang selalu dibatasi oleh pengalaman, pengetahuan, emosi, lingkungan, dan kapasitas berpikir yang dimilikinya. Karena itu seorang pemimpin sebenarnya mengambil keputusan berdasarkan “ingredient pengalaman” yang terbentuk sepanjang hidupnya. Pengalaman keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, profesi, bahkan keberhasilan dan kegagalan hidup akhirnya menjadi lensa dalam membaca realitas dan menentukan tindakan.

Dalam konteks ini, memahami perilaku Trump tidak cukup hanya melihat kebijakan politiknya semata, tetapi juga perlu melihat bagaimana perjalanan hidupnya membentuk cara berpikirnya. Trump tumbuh dalam keluarga yang dikenal sangat kompetitif. Ayahnya, Fred Trump, merupakan pengusaha properti yang keras dan sangat menekankan pentingnya kemenangan. Dalam berbagai biografi tentang Trump dijelaskan bahwa sejak kecil ia dididik untuk menjadi kuat, tidak menunjukkan kelemahan, dan harus mampu menguasai keadaan. Dunia dipandang sebagai arena persaingan antara pemenang dan pecundang. Dalam kultur seperti itu, keberhasilan menjadi ukuran utama penghargaan terhadap diri seseorang.

Baca Juga  Menyalakan Api Inovasi di Nagari, Digitalisasi sebagai Jalan Kemandirian Desa

Ketika masih muda, Trump juga dikirim ke sekolah militer karena dianggap sulit dikendalikan. Lingkungan semi militer tersebut ikut membentuk disiplin, keberanian, dan orientasi pada kontrol serta dominasi. Setelah itu ia masuk ke dunia bisnis properti New York yang terkenal sangat keras dan penuh persaingan. Dunia bisnis seperti itu menuntut keberanian mengambil risiko, kemampuan menekan lawan negosiasi, serta membangun citra diri yang kuat di hadapan publik.

Pengalaman hidup tersebut tampaknya memberi pengaruh besar terhadap cara Trump memimpin. Ia melihat banyak persoalan seperti arena kompetisi yang harus dimenangkan. Karena itu hubungan antarnegara sering diperlakukan seperti negosiasi bisnis: siapa yang paling kuat, dialah yang menentukan permainan. Dalam pola pikir seperti ini, tekanan ekonomi, ancaman tarif, perubahan sikap secara cepat, bahkan ketidakpastian dapat digunakan sebagai alat untuk memperoleh posisi tawar yang lebih tinggi.

Sejumlah analis politik bahkan menyebut gaya Trump mendekati apa yang dikenal sebagai Madman Theory yang populer pada era Richard Nixon. Teori ini menggambarkan bagaimana seorang pemimpin sengaja membangun citra tidak mudah diprediksi agar lawan merasa takut dan berhati-hati menghadapi dirinya. Dalam strategi seperti ini, ketidakpastian justru dijadikan alat untuk memperkuat posisi tawar politik dan diplomatik. Karena itu perubahan sikap secara mendadak atau pernyataan yang konfrontatif bukan selalu dipandang sebagai kelemahan, tetapi dapat menjadi bagian dari strategi tekanan psikologis terhadap lawan.

Hal itulah yang terlihat dalam berbagai kebijakan Trump terhadap negara lain. Ketika menghadapi Iran misalnya, pendekatan yang digunakan lebih menonjolkan tekanan dan dominasi dibandingkan kompromi diplomatik. Begitu pula dalam kebijakan perdagangan terhadap negara-negara lain. Ia sering menggunakan tarif dan ancaman ekonomi sebagai instrumen untuk menunjukkan kekuatan Amerika. Bahkan terhadap sekutu tradisional Amerika sendiri, Trump beberapa kali memperlihatkan pendekatan yang keras dan transaksional.

Fenomena Trump juga memperlihatkan bahwa memahami kepemimpinan modern tidak cukup hanya melihat institusi dan strategi formal semata. Dalam banyak kasus, keputusan besar dunia justru sangat dipengaruhi oleh karakter, pengalaman hidup, dan cara seorang pemimpin memandang dirinya maupun orang lain. Karena itu kajian Strategic Leadership menjadi semakin relevan dalam membaca perilaku pemimpin global.

Dalam literatur modern, pemikiran strategic leadership banyak dipengaruhi oleh gagasan Donald C. Hambrick dan Phyllis Mason melalui pendekatan Upper Echelons Theory. Teori ini menjelaskan bahwa keputusan strategis organisasi sangat dipengaruhi oleh karakteristik, pengalaman, nilai, dan cara berpikir pemimpinnya. Dengan kata lain, organisasi maupun negara sering kali menjadi refleksi dari siapa pemimpinnya.

Baca Juga  Membangun Manusia Tanpa Meruntuhkan Ruang Dialogis

Di satu sisi, gaya kepemimpinan seperti Trump memang memiliki daya tarik politik. Banyak pendukung Trump melihatnya sebagai pemimpin yang berani, tegas, dan tidak tunduk pada tradisi politik lama yang dianggap terlalu birokratis. Trump dianggap mampu menunjukkan kekuatan Amerika secara terbuka tanpa banyak basa-basi diplomasi. Dalam era politik populis modern, gaya seperti ini justru sering memperoleh dukungan besar dari kelompok masyarakat tertentu.

Namun di sisi lain, gaya kepemimpinan yang terlalu berorientasi pada dominasi juga memiliki risiko besar. Dunia internasional tidak hanya dibangun di atas kekuatan, tetapi juga kepercayaan, stabilitas, dan kemampuan menjaga keseimbangan hubungan antarnegara. Ketika ketidakpastian dijadikan strategi, maka negara lain juga akan merespons dengan ketidakpercayaan dan kewaspadaan yang tinggi. Akibatnya hubungan global menjadi lebih mudah mengalami ketegangan.

Kenapa Perilaku Trump Seperti Itu?

Dari kasus Trump, kita sebenarnya dapat mengambil pelajaran yang lebih luas, terutama dalam membangun karakter generasi muda. Persaingan memang penting untuk membentuk daya juang dan keberanian menghadapi tantangan. Namun apabila pendidikan anak terlalu menekankan obsesi untuk menang tanpa diimbangi empati dan kemampuan bekerja sama, maka yang tumbuh bukan hanya pribadi yang kuat, tetapi juga karakter yang sangat dominan.

Dunia modern sesungguhnya tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu menang dalam kompetisi, tetapi juga pemimpin yang memiliki kedewasaan emosional, kemampuan mendengar, dan kebijaksanaan dalam menggunakan kekuasaan. Sebab kekuasaan yang besar tidak hanya menentukan masa depan satu negara, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan jutaan manusia di seluruh dunia.

Pada akhirnya, kasus Donald Trump memperlihatkan bahwa kepemimpinan bukan sekadar soal jabatan dan kekuasaan, tetapi juga cerminan dari perjalanan hidup, karakter, lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman sosial, hingga profesi yang membentuk cara seseorang memandang dunia. Apa yang dilakukan seorang pemimpin sering kali merupakan proyeksi dari nilai, pengalaman, dan cara berpikir yang tertanam sejak lama dalam dirinya. Karena itu, dalam memilih pemimpin, masyarakat sesungguhnya tidak cukup hanya melihat janji politik dan kemampuan berbicara semata, tetapi juga perlu memahami latar belakang kehidupan, karakter, serta rekam jejak yang membentuk perilakunya.

Jika masyarakat menginginkan pemimpin dengan perilaku, tabiat, kompetensi, dan cara bertindak yang sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan, maka proses kaderisasi kepemimpinan perlu dilakukan secara sadar, terencana, dan berkelanjutan. Sebab kualitas seorang pemimpin sesungguhnya tidak lahir secara instan, melainkan dibentuk melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan karakter, pengalaman, lingkungan, serta nilai-nilai kehidupan yang terus ditanamkan sejak dini. (*)