OPINI

Layar Gawai dan Ilusi Realitas: Ketika Sensasi Mengalahkan Konteks

×

Layar Gawai dan Ilusi Realitas: Ketika Sensasi Mengalahkan Konteks

Sebarkan artikel ini

Oleh Mariani

Mahasiswa Magister Komunikasi FISIP UNAND

Dahulu, media massa memiliki posisi dominan dalam menentukan arus informasi. Ketika sebuah peristiwa meletus, publik mengandalkan wartawan yang meliput dan editor yang menyaring fakta sebelum tersaji sebagai berita.

Proses gatekeeping ini memastikan setiap informasi melewati kurasi yang ketat. Namun, pola tersebut berubah di era digital. Kehadiran platform media sosial membuat siapa saja dapat mengambil peran sebagai pembuat dan penyebar informasi.  

Dewasa ini, setiap individu tidak hanya sekadar memegang gawai, tetapi memiliki panggung untuk merekam kejadian, memproduksi konten, mengutarakan sudut pandang, hingga menyebarkannya secara instan. Arus informasi tidak lagi mengalir kaku dari atas ke bawah, melainkan bergerak bebas antarpengguna secara peer-to-peer. 

Komunikasi yang tadinya bersifat satu arah kini bertransformasi menjadi jauh lebih interaktif, partisipatif dan berjaringan secara masif. Transformasi ini membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk lebih bersuara dan berpartisipasi. 

Isu-isu lokal yang sebelumnya jarang mendapat sorotan media, kini bisa mendadak menyita perhatian publik hanya lewat satu unggahan. Publik pun dapat lebih leluasa menyuarakan empati, pendapat dan pengalaman pribadi mereka.

Namun, di balik kebebasan dan kecepatan ini, terselip tantangan mendasar. Ketika semua orang bisa menjadi produsen sekaligus distributor informasi, sebuah pertanyaan krusial muncul: Bagaimana publik memastikan bahwa informasi yang mereka lihat di layar gawai menggambarkan kenyataan secara utuh, bukan sekedar potongan fakta yang terdistorsi?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan saat sebuah peristiwa yang kompleks justru dipahami publik hanya melalui potongan video berdurasi singkat. Apa yang terekam di dalam kamera mendadak menyita seluruh perhatian masyarakat, sementara konteks utuh di luar kamera tenggelam begitu saja. 

Baca Juga  Empat WBP Lapas Bukittinggi Korban Miras Oplosan Meninggal Dunia di Rumah Sakit

Hal ini bukan berarti informasinya keliru, melainkan cara sebuah cerita dikemas terbukti sangat ampuh mempengaruhi pemahaman publik terhadap peristiwa yang terjadi. 

Fenomena ini tampak nyata pada riuhnya perhatian publik atas kasus tragis tewasnya pria berinisial KD di Tabanan, Bali, pada akhir Juli 2026 lalu setelah diduga mencuri ayam. 

Peristiwa tersebut menarik atensi publik setelah potongan video yang memperlihatkan anak korban menangis histeris meratapi ayahnya yang tewas akibat diamuk massa beredar luas di media sosial. Gelombang perhatian tersebut kian membesar usai direspons oleh konten kreator sekaligus tokoh publik asal Malaysia, Aisar Khaled melalui akun Instagram pribadinya @aisar_khaledd.

Menariknya, Aisar tidak berhenti sebagai penonton pasif. Ia melangkah lebih jauh dengan membuat konten reaction yang menampilkan kesedihan, kemarahan hingga kekecewaannya secara terbuka. Beberapa hari kemudian, Aisar bahkan datang secara langsung mengunjungi keluarga korban untuk menyampaikan empati sekaligus memberikan bantuan. Rangkaian tindakan tersebut memperlihatkan bagaimana posisi khalayak dalam ekosistem ekonomi digital telah berubah.

Bermula dari seorang penonton (audience) yang menerima pesan, Aisar kemudian bertindak sebagai peserta (participant) yang merespons, hingga akhirnya menjadi seorang prosumer, yaitu sosok yang tidak hanya mengonsumsi informasi, tetapi juga mengolah respons emosionalnya menjadi konten baru dan menyebarkan kembali ke audiens yang lebih luas. 

Perubahan posisi Aisar tersebut bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Di era digital, pola serupa dapat dilakukan oleh hampir semua pengguna media sosial. Masyarakat tidak lagi sekadar menunggu pemberitaan dari media massa, tetapi mereka dapat mengambil informasi yang sudah beredar, menafsirkan ulang, memberi respons, lalu mengemasnya kembali menjadi pesan baru. 

Alur ini berlangsung sangat cepat dan sederhana, mulai dari melihat, merespons, membuat konten, lalu membagikannya. 

Baca Juga  Seruan Taubat Ekologis di Balik Galodo Sumatera

Dinamika ini melahirkan User Generated Content (UGC) yaitu konten yang dibuat dan disebarkan  oleh pengguna media sosial. kehadiran UGC membuat arus informasi semakin ramai karena sebuah peristiwa dapat dikemas dan dibagikan dari berbagai sudut pandang. Didukung kecepatan teknologi digital, sebuah konten bahkan bisa diproduksi dan menyebar secara serentak. 

Besarnya daya jangkau konten sejenis ini terlihat dari tingginya keterlibatan publik pada unggahan Aisar. Vidio reaksinya memperoleh 16,1 juta views, 1 juta likes, 25,5 ribu komentar, 44,9 ribu repost, 17,5 ribu shares, dan 13,1 ribu saves.

 Sementara itu, unggahan kunjungan dan pemberian bantuan memperoleh 21 juta views, 1,6 juta likes, 34,6 ribu komentar, 67,3 ribu repost, 27,3 ribu shares dan 22,2 ribu saves. Data statistik tersebut tersebut menunjukkan betapa pesan yang diolah secara personal sanggup menjangkau audiens secara masif dan memancing reaksi berantai di media sosial. 

Namun besarnya jangkauan sebuah konten tidak selalu berbanding lurus dengan kelengkapan konteks yang dibawanya. Ketika seseorang mengubah sebuah peristiwa nyata menjadi materi konten, ia tentu memilih sudut mana yang ingin diperlihatkan dan mana yang harus ditinggalkan. 

Sebab, tidak mungkin seluruh rangkaian kejadian dimuat secara utuh dalam satu video berdurasi singkat. Selalu ada bagian yang terekam kamera dan ada yang tertinggal di luar frame. Ada informasi yang dieksplorasi secara mendalam, ada pula yang terabaikan. Pilihan sudut pandang inilah yang mempengaruhi cara publik memandang suatu kejadian. 

Dalam kasus KD, narasi kemanusian dan muatan emosional menonjol begitu kuat lewat tangisan pilu sang anak, duka kehilangan figure ayah, ekspresi Aisar, hingga aksi sosial berupa kunjungan dan bantuan.