SOLOK, HARIANHALUAN.ID – Kelangkaan pupuk dan tingginya harga pupuk menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petani di Jorong Sampan Tanah, Nagari Baru Bajanjang, Kabupaten Solok.
Kondisi tersebut mendorong Universitas Tamansiswa Padang (UNITAS) menghadirkan pelatihan pembuatan pupuk organik cair, sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan pupuk bagi masyarakat.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) UNITAS Tahun 2026 dengan skema Integrasi Inovasi Daerah dan Pemberdayaan Masyarakat, Mewujudkan Pembangunan Berdampak Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal. Program dilaksanakan oleh seluruh program studi dan tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Sumatera Barat (Sumbar).
Di Jorong Sampan Tanah, kegiatan dipimpin Walfajri Gumanti dengan pendampingan dua dosen pembimbing lapangan, yak ini Dr. Ir. Syafizal, MP dan Marissa Jemmy, SH., MH. Kegiatan melibatkan mahasiswa, serta perangkat nagari dan kelompok tani setempat.
Tim pelaksana terdiri atas Walfajri Gumanti selaku ketua, Fadil Sofwan dan Revalina Fitri sebagai sekretaris, Rafiva Zahara sebagai bendahara, serta anggota Diva Yulanda Putri, Suci Ramadani, Muhammad Fadhil, Yandi Wiryo Masrial, Deva Fernando, Ferdiansyah Muhammad Noor, Joni Sartika, Ari Fadilah Aljumar, dan Sesti Junita. Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan dari kelompok KKN perguruan tinggi lainnya.
Sebelum menentukan program, mahasiswa melakukan diskusi dan observasi langsung bersama masyarakat dan petani. Langkah tersebut dilakukan untuk mengetahui persoalan yang paling membutuhkan solusi di lokasi mitra.
Dari hasil pengamatan dan diskusi, tim menemukan persoalan utama berupa sulitnya petani mendapatkan pupuk. Kalaupun tersedia, harga pupuk dinilai cukup mahal, sehingga dapat menambah beban biaya produksi pertanian.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim KKN UNITAS menawarkan pembuatan pupuk organik cair dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Bahan utama yang digunakan berasal dari sampah organik sisa pertanian dan limbah organik rumah tangga. Sementara bahan pendukung terdiri dari air, gula, serta larutan eco enzyme.
Selain membantu menyediakan alternatif pupuk, program ini sekaligus mendorong masyarakat agar tidak membuang sampah organik begitu saja.
Dalam pelatihan, mahasiswa memperkenalkan tahapan pembuatan pupuk organik cair kepada petani. Sampah organik terlebih dahulu dihaluskan menjadi ukuran kecil sebelum dimasukkan ke dalam reaktor.












