PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kasus dugaan perundungan yang berujung pada tindakan nekat merakit bom oleh seorang pelajar di MAN 3 Padang menjadi pengingat bahwa perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan tidak lagi dapat dipandang sebagai kenakalan remaja semata. Berbagai kalangan menilai, sekolah harus memperkuat upaya pencegahan melalui pendidikan karakter, pengawasan, hingga pendampingan psikologis terhadap peserta didik.
Seorang Kepala SMA Negeri di Kota Padang yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh siswa. Menurutnya, perundungan berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kondisi psikologis korban apabila tidak segera ditangani.
“Perundungan tidak boleh lagi dianggap sebagai kenakalan biasa. Dampaknya bisa memengaruhi kesehatan mental siswa dan memicu berbagai persoalan lain,” ujarnya kepada Haluan Rabu (15/7) di Padang.
Ia menilai, sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, meningkatkan pengawasan terhadap interaksi antarsiswa, serta mengoptimalkan peran wali kelas dan guru dalam mendeteksi perubahan perilaku peserta didik sejak dini.
Selain itu, setiap sekolah juga perlu memiliki mekanisme pelaporan yang mudah diakses dan menjamin kerahasiaan, sehingga siswa yang menjadi korban maupun saksi perundungan berani melapor tanpa rasa takut.
Pandangan serupa disampaikan seorang guru Bimbingan Konseling (BK) di salah satu SMA Negeri di Kota Padang. Menurutnya, penanganan kasus perundungan tidak cukup berhenti pada pemberian sanksi, tetapi harus disertai pendampingan psikologis secara berkelanjutan, baik kepada korban maupun pelaku.
“Edukasi tentang pengendalian emosi, penyelesaian konflik secara damai, hingga bahaya membuat atau memiliki benda yang dapat mengancam keselamatan orang lain harus terus diberikan kepada siswa,” katanya.
Sementara itu, salah seorang orang tua siswa SMA di Kota Padang, Rini, berharap peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bagi seluruh pihak. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak menjadi kunci untuk mengetahui persoalan yang dihadapi siswa di sekolah.
Pakar Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Dr. Fitri Arsih, menilai maraknya kasus bullying menunjukkan masih lemahnya sistem perlindungan anak di lingkungan sekolah. Menurutnya, sekolah tidak boleh hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memastikan setiap peserta didik merasa aman, dihargai, dan terlindungi.
“Bullying merupakan tindakan agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang terhadap seseorang yang berada pada posisi lebih lemah. Ketimpangan kekuatan menjadi ciri utamanya, baik berupa kekuatan fisik, pengaruh sosial maupun tekanan verbal. Karena itu, bullying berbeda dengan konflik biasa antar teman karena terdapat unsur dominasi yang bertujuan menyakiti korban,” ujar Fitri Arsih, Selasa (14/7).
Ia menjelaskan, banyak kasus perundungan berkembang tanpa terdeteksi hingga akhirnya menimbulkan dampak yang lebih besar. Menurutnya, lemahnya deteksi dini menjadi salah satu penyebab utama kasus bullying terus berulang di berbagai sekolah. “Banyak kasus berkembang tanpa diketahui guru ataupun pihak sekolah hingga akhirnya menimbulkan dampak serius. Bahkan di beberapa lingkungan pendidikan, budaya kekerasan dan perpeloncoan masih dianggap lumrah sehingga tanpa disadari terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Fitri menegaskan, sekolah harus memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan dipahami seluruh warga sekolah. Aturan tersebut tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi harus menjadi budaya yang diterapkan dalam setiap aktivitas pendidikan. “Sekolah perlu memiliki komitmen bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk perundungan. Anak-anak harus memahami sejak awal mana yang masih sebatas candaan dan mana yang sudah masuk kategori bullying. Edukasi seperti ini harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika muncul kasus,” tegasnya.
Menurutnya, guru memegang peran strategis dalam mendeteksi gejala awal perundungan. Perubahan perilaku seperti siswa yang tiba-tiba pendiam, enggan bergaul, sering tidak masuk sekolah, hingga prestasi belajar yang menurun harus menjadi perhatian serius. “Ketika ada siswa yang mulai menarik diri, enggan berinteraksi atau prestasinya tiba-tiba menurun, guru harus segera melakukan pendekatan. Jangan menunggu kasus menjadi besar. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah dampak yang lebih buruk,” jelasnya.
Selain itu, Fitri mendorong setiap sekolah menyediakan mekanisme pelaporan yang aman dan ramah anak. Menurutnya, banyak korban memilih bungkam karena takut mendapat balasan dari pelaku atau khawatir laporannya tidak dipercaya. “Korban harus merasa aman ketika melapor. Jangan sampai mereka justru disalahkan atau dianggap berlebihan. Sekolah harus membangun budaya saling melindungi sehingga siswa berani berbicara ketika melihat ataupun mengalami tindakan perundungan,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia (UPI) YPTK Padang, Neny Andriani, M.Psi., Psikolog, CI, C, NLP, mengatakan pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman kepada pelaku. Yang lebih penting adalah membangun budaya sekolah yang aman, saling menghargai, dan penuh empati.
“Bullying tidak bisa diselesaikan hanya dengan menghukum pelaku. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya empati di sekolah sehingga setiap anak mampu menghargai perbedaan, saling menghormati, dan memahami dampak dari perilaku yang menyakiti teman sebayanya,” ujar Neny.
Menurutnya, sekolah harus memiliki sistem pencegahan dan penanganan yang jelas, mulai dari kebijakan anti-perundungan, mekanisme pelaporan yang aman bagi korban maupun saksi, hingga layanan konseling dan pendampingan psikologis yang dapat diakses seluruh peserta didik.
“Korban sering kali memilih diam karena takut mendapat intimidasi atau tidak dipercaya. Karena itu, sekolah harus menyediakan ruang yang aman agar siswa berani melapor tanpa rasa takut. Setiap laporan juga harus ditindaklanjuti secara profesional dan tidak dianggap sebagai persoalan sepele,” katanya.
Neny juga menekankan pentingnya kehadiran guru di titik-titik yang rawan menjadi lokasi terjadinya bullying, seperti lorong sekolah, kantin, toilet, lapangan, maupun area di luar kelas. Menurutnya, guru tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai sosok yang mampu membangun kedekatan emosional dengan peserta didik.
“Guru perlu menjadi figur yang mudah didekati oleh peserta didik. Ketika hubungan guru dan siswa terbangun dengan baik, anak akan lebih nyaman bercerita jika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan,” ungkapnya. (h/yes/put)












