Pada peternakan sapi perah, sensor dapat mendeteksi perubahan aktivitas dan indikasi sapi birahi, gangguan kesehatan, atau penurunan konsumsi pakan. Di bidang reproduksi, berbagai inovasi seperti inseminasi buatan (IB), sinkronisasi birahi, transfer embrio, hingga kriopreservasi sperma dapat mempercepat perbaikan mutu genetik ternak. Perkembangan biologi molekuler membuka peluang baru dalam pemuliaan ternak. Peneliti kini mampu mengidentifikasi gen-gen yang berperan dalam pertumbuhan, kualitas karkas, kualitas daging, efisiensi pakan, hingga ketahanan terhadap penyakit.
Gen myostatin dan SCD1 pada sapi potong memengaruhi perkembangan otot dan kualitas daging. Kualitas daging sapi merupakan hasil interaksi kompleks antara genetika, nutrisi, manajemen, kesejahteraan hewan, dan teknologi pascapanen (Collo dan Szabo, 2025). Program seleksi harus mempertimbangkan kesejahteraan hewan agar peningkatan produktivitas tidak menghasilkan masalah kesehatan baru.
Menghadapi Krisis Lingkungan
Tidak dapat dipungkiri bahwa sektor peternakan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Pemanfaatan limbah ternak menjadi biogas, penggunaan pakan alternatif berbasis sumber daya lokal, pengurangan limbah produksi, hingga pengembangan sistem peternakan sirkular menjadi bagian dari solusi yang dapat diterapkan. Di wilayah tropis, potensi pemanfaatan bahan pakan lokal seperti daun gamal, enceng gondok, limbah sagu, dan berbagai limbah pertanian membuka peluang untuk efisiensi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor. Konsep ekonomi sirkular dapat menjadi arah baru pembangunan peternakan berkelanjutan. Limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, pupuk organik, maupun bahan pakan.
Pandemi COVID-19 mengingatkan dunia bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak dapat dipisahkan. Pendekatan One Health kini menjadi kerangka penting dalam pembangunan sistem pangan global. Dalam konteks peternakan, pendekatan ini mencakup pengendalian penyakit zoonosis, peningkatan biosekuriti, penggunaan antibiotik secara bijak, serta pengawasan keamanan pangan dari kandang hingga sampai di meja makan (from farm to table).
Peternakan Berkelanjutan
Sebagai negara tropis dengan keanekaragaman sumber daya hayati, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pelopor peternakan berkelanjutan. Berbagai plasma nutfah lokal seperti ayam kampung unggul, ayam Kokok Balenggek, sapi Bali, sapi Pesisir, kerbau Lokal, kambing Kacang, dan berbagai rumpun ternak lokal lainnya merupakan sumber daya genetik yang sangat berharga. Jika dipadukan dengan teknologi reproduksi, pemuliaan ternak, dan sistem produksi berkelanjutan, potensi tersebut dapat menjadi fondasi kuat bagi ketahanan protein hewani nasional. Selain itu, melimpahnya sumber daya pakan lokal serta berkembangnya teknologi digital memberikan peluang untuk mengembangkan model peternakan yang produktif dan ramah lingkungan.






