OPINI

Peternakan Berkelanjutan: Dari Animal Welfare hingga Precision Livestock Farming

×

Peternakan Berkelanjutan: Dari Animal Welfare hingga Precision Livestock Farming

Sebarkan artikel ini

Dari Precision Livestock Farming Menuju Precision Livestock Extensive Farming

Transformasi terbesar dalam dunia peternakan saat ini datang karena kemajuan teknologi. Konsep Precision Livestock Farming (PLF) atau peternakan presisi memungkinkan peternak memantau kondisi ternak secara real time menggunakan sensor, kamera, kecerdasan buatan, dan teknologi digital. Revolusi peternakan bukan sekadar meningkatkan produksi, melainkan bagaimana mengintegrasikan kesejahteraan hewan, kecerdasan buatan, sensor digital, dan konservasi sumber daya lingkungan dalam satu sistem berkelanjutan.

Seekor sapi dapat mengenakan kalung pintar yang memantau aktivitasnya selama 24 jam. Sensor di dalam rumen mampu mengukur pH dan suhu tubuh secara real-time. Kamera berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat mendeteksi kepincangan bahkan sebelum terlihat oleh mata manusia. Mikrofon digital dapat mengenali suara batuk pada babi atau perubahan vokalisasi suara ayam yang mengindikasikan gangguan kesehatan. Fenomena ini dikenal sebagai PLF, yakni sebuah pendekatan yang mengintegrasikan sensor, Internet of Things (IoT), big data, machine learning, dan AI untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, kesehatan, serta kesejahteraan ternak.

Ada dua buku penting yang menjadi referensi perkembangan PLF, yaitu buku Precision Livestock Farming Applications karya Ilan Halachmi (2015) dan buku Precision Technology and Sensor Applications for Livestock Farming and Companion Animals oleh Lenny van Erp-van der Kooij (2021). Halachmi (2015) menyatakan bahwa PLF merupakan sistem manajemen peternakan berbasis data yang memungkinkan ternak dipantau secara individual. Melalui berbagai perangkat sensor, peternak dapat mengetahui kondisi kesehatan, aktivitas, perilaku makan, reproduksi, hingga tingkat stres ternak.

Baca Juga  Menjaga Nilai Adat dan Moralitas Masyarakat dari Dinamika LGBT

Teknologi membantu deteksi birahi secara akurat, sehingga meningkatkan efisiensi reproduksi dan produktivitas ternak. Kamera tiga dimensi dan sistem pengolahan citra mampu menganalisis pola berjalan ternak dan mengidentifikasi perubahan kecil yang tidak mudah dikenali mata manusia. Pada peternakan babi dan unggas, teknologi mikrofon dan sistem analisis suara digunakan untuk deteksi batuk pada babi sebagai indikator penyakit pernapasan. Kamera yang dipasang di kandang ayam mampu memantau distribusi dan aktivitas ayam.

Keunggulan PLF terletak pada kemampuannya menghasilkan data secara berkelanjutan selama 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu. Sensor dan perangkat digital berfungsi sebagai mata dan telinga tambahan peternak. Namun demikian, sistem PLF tidak bertujuan menggantikan peran manusia, melainkan memperkuat kemampuan peternak dalam mengambil keputusan yang lebih cepat, akurat, dan berbasis bukti. Di era digital, sensor, kecerdasan buatan, dan data analitik bukan sekadar alat bantu, melainkan fondasi yang menentukan arah perkembangan peternakan dunia di masa mendatang.

Baca Juga  Kalah Boleh, Menyerah Jangan

PLF kini berkembang menjadi Precision Livestock Extensive Farming (PLEF), sebuah paradigma baru yang menjembatani produktivitas, kesejahteraan hewan, dan keberlanjutan lingkungan. Jika selama ini peternakan presisi identik dengan kandang modern yang dipenuhi sensor dan komputer, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa revolusi digital mulai menjangkau sistem peternakan ekstensif. Studi yang dilakukan Bernabucci et al., (2025) menyatakan bahwa teknologi PLF berkembang menuju konsep PLEF. Ia melakukan analisis pada 710 karya ilmiah yang terbit pada jurnal internasional antara tahun 1980-2024.

PLF memanfaatkan sensor yang dipasang pada ternak, perangkat pemantau lingkungan, citra satelit, drone, serta kecerdasan buatan. Melalui teknologi sensor, peternak dapat mengetahui lokasi ternak, aktivitas merumput, tingkat kesehatan, hingga tanda-tanda awal penyakit. Sementara itu, data satelit dan drone dapat digunakan untuk menilai kualitas hijauan, ketersediaan air, dan kondisi lingkungan penggembalaan.