OPINI

Refleksi 70 Tahun Unand: Dari Ranking Menuju Universitas Berdampak

×

Refleksi 70 Tahun Unand: Dari Ranking Menuju Universitas Berdampak

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Ir. Rusfidra, S.Pt, IPM ASEAN Eng.
(Dosen Fak. Peternakan, Wadir I Sekolah Pascasarjana Unand)

Tanggal 13 September 2026 Universitas Andalas merayakan Dies Natalis ke-70. Usia yang panjang bagi perjalanan sebuah institusi pendidikan tinggi. Dalam usia tujuh dekade tersebut sudah banyak rekam jejak dan prestasi yang diraih Unand, termasuk meluluskan sekitar 150 ribu kaum intelektual yang tersebar di berbagai belahan dunia. Capaian ini tentu perlu disyukuri. Momentum 70 tahun adalah waktu yang tepat untuk bertanya kemana Unand akan bergerak? Pertanyaan tersebut penting karena dunia pendidikan tinggi kini sedang berubah. Institusi pendidikan tinggi tidak hanya berkompetisi dalam jumlah mahasiswa, jumlah program studi, gedung kuliah, atau jumlah lulusan. Persaingan juga berkaitan dengan kualitas penelitian, inovasi, reputasi akademik, jejaring global, kualitas lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bangsa dan dunia.

Berbagai perangkingan sudah menempatkan Unand dalam radar perangkingan perguruan tinggi kelas dunia. Namun demikian, pemeringkatan perguruan tinggi perlu dibaca secara bijak. Ranking bukan tujuan utama, tetapi juga tidak dapat diabaikan. Rangking agaknya dapat dipandang sebagai cermin untuk mengetahui posisi Unand, mengenali kekuatan, menemukan kelemahan, dan mengidentifikasi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Berbagai lembaga perangkingan seperti QS World University Ranking, Times Higher Education (THE), EduRank, Webometrics, dan Sustainability Impact Rating memiliki metodologi dan indikator yang berbeda dalam menilai perguruan tinggi.

Baca Juga  Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Kalangan Remaja

Pada tahun 2026, menurut QS WUR Unand berada pada kelompok 1401+. THE WUR menempatkan Unand pada posisi 1501+. EduRank menempatkan Unand pada posisi ke-1.303, sedangkan perangkingan Webometric, Unand pada rangking 920 dunia. Selain itu, THE Sustainability Impact Ratings menempatkan Unand pada kelompok 401600 dunia. Posisi Unand cukup kompetitif dalam bidang Interdisciplinary Science yakni rangking 201-250.
Berbagai hasil perangkingan tentu harus dibaca secara bijak. Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar berapa peringkat Unand, tetapi apa yang harus dilakukan Unand agar lulusannya makin kompetitif di pasar global. Selain itu, kualitas riset dan angka sitasi perlu ditingkatkan agar berdampak. Internasionalisasi dan jejaring global perlu diperluas. Kompetensi lulusan perlu diperkuat dan disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja.

Tantangan terbesar perguruan tinggi bukan sekadar transfer pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa, tetapi bagaimana Unand menyiapkan lulusan menghadapi dunia kerja yang sedang berubah dengan cepat. Perkembangan teknologi kecerdasan buatan, otomatisasi, robotik, big data, bioteknologi, ekonomi digital, transisi energi, dan ekonomi hijau sedang berlangsung secara masif. Sebagian pekerjaan lama mungkin akan hilang, tetapi sejumlah pekerjaan baru akan muncul. Laporan Future of Jobs Report dari World Ekonomi Forum 2025 menyebutkan perubahan struktur pekerjaan di masa depan. Hingga tahun 2030, diperkirakan sekitar 22 persen pekerjaan formal akan berubah. Pada saat yang sama, dunia membutuhkan keterampilan baru, terutama berkaitan dengan AI, data, teknologi digital, keamanan siber, kreativitas, kemampuan berpikir analitis, fleksibilitas, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi.

Baca Juga  Tambang Rakyat, Cukong Berganti Wajah?

Masalah masa depan bukan karena kurangnya pekerjaan, melainkan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya menyiapkan mahasiswa untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus. Perguruan tinggi harus menyiapkan lulusan agar mampu beradaptasi ketika pekerjaan berubah. Jika dulu universitas berorientasi pada transfer pengetahuan, maka ke depan universitas harus menjadi pusat pengembangan kapasitas manusia.