OPINI

Sekolah Rakyat Pemutus Rantai Kemiskinan, Benarkah?

×

Sekolah Rakyat Pemutus Rantai Kemiskinan, Benarkah?

Sebarkan artikel ini

Tepat pada Jum’at 31 Juli 2026, anak-anak yang terlahir dari keluarga miskin itu menikmati indahnya pendidikan. “Kamar tidurnya lebih bagus dari kamar tidur rumah kami,” kata anak anak itu.

“Di sini makannya enak, kami makannya teratur,” kata anak itu lagi.

Mungkin tanpa adanya SRT anak-anak yang tidak menghendaki kemiskinan itu, sulit mengenyam pendidikan gratis dengan fasilitas yang sangat lebih dari cukup.

Buktinya, anak-anak yang masuk ke SRT 3 itu ada anak yang sudah putus sekolah.

Sebanyak 390 anak ditampung di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Kabupaten Dharmasraya, ada dari Kota Padang, dari Sijunjung, Kabupaten Solok, Kabupaten Dharmasraya, tempat berdirinya sekolah yang menelan dana APBN ratusan miliar itu.

Baca Juga  Meskipun Hujan, Kepala Daerah dari Sumbar Tetap Semangat Ikuti Gladi Bersih

Wajah-wajah ceria itu, membuat Wakil Gubernur Vasco Rusaimi dan Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani kehilangan rasa letihnya yang dari awal berjuang ke pemerintah pusat, agar SRT berdiri di Ranah Cati Nan Tigo itu.

Berkat perjuangan itu, sekolah itu berdiri, anak-anak sudah mulai melaksanakan MPLS perdana yang dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah. Ia menegaskan bahwa pendidikan akan dijadikan sebagai alat pemutus rantai kemiskinan.

Apakah yang disampaikan oleh Buya itu sangat tepat rasanya, kenapa tidak, investasi pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang dapat menumpas kemiskinan.

Baca Juga  Budaya Konsumsi Aplikasi Berlangganan

Suatu bangsa akan hancur apabila pendidikan nya lemah, rapuh, tetapi apabila pendidikan suatu bangsa itu baik, kuat dan kokoh, serta berkarakter, maka bangsa itu akan menjadi kuat dan kokoh pula.

Ayo para penguasa, mari kita lirik investasi jangka panjang yaitu pendidikan. (*)