OPINI

O2SN seperti “Telur Mata Sapi”

×

O2SN seperti “Telur Mata Sapi”

Sebarkan artikel ini

HARIANHALUAN.ID – Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) merupakan iven yang digelar setiap tahunnya oleh pemerintah, mulai dari tingkat sekolah sampai ke tingkat nasional. Artinya, iven tersebut bukan iven acak-acakan dan itu dilaksanakan secara serius oleh pemerintah daerah atau kabupaten dan kota, provinsi dan pemerintah pusat.

Namun pelaksanaan iven olahraga untuk para pelajar itu di tingkat bawah atau di tingkat daerah memang acak-acakan atau asal jadi, yang penting iven tersebut dilaksanakan. Hal hasil memang acak-acakan juga, seperti ibarat pepatah mengatakan, tanam padi hasilnya ya padi, tanam lalang hasilnya ya lalang.

Begitulah setiap tahunnya iven yang digelar di bawah Kementerian Pendidikan itu pada akhir-akhir ini, dimana sebelumnya pelaksanaan O2SN mulai dari tingkat kecamatan sampai ke tingkat provinsi sangat bagus dan sangat berkesan bagi peserta. Kenapa tidak, untuk tingkat kabupaten dibuka secara resmi oleh bupati, untuk tingkat provinsi dibuka oleh gubernur. Ini jangankan bupati, gubernur, bawahan dari kepala daerah dan kepala dinas saja tidak tampak mukanya, O2SN berjalan seperti ayam kehilangan induknya.

Yang menjadi motivasi bagi siswa adalah mendapatkan juara, menjadi yang terbaik pada cabang olahraga yang ia ikuti, dengan goalnya adalah meraih medali, mulai dari medali emas untuk pemuncak, medali perak peringkat kedua dan medali perunggu sebagai peringkat ketiga. Tetapi itulah, yang tidak ada dengan alasan klasik anggaran tidak ada.

Baca Juga  Mereview Keterlibatan Influencer Bayaran untuk Kampanye RKUHP

Dari cabang olahraga yang diperlombakan atau dipertandingkan, ada cabor renang, atletik, silat, panjat dinding dan lain sebagainya, dimana setiap tahun ada beberapa cabor yang berubah.

Ada beberapa pertanyaan muncul, apakah benar anak itu berasal dari sekolah itu?? Jawabannya pasti benar, karena tidak mungkin pihak sekolah atau kepala sekolah akan mengeluarkan SK anak tersebut untuk berangkat atau Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan SK untuk mengutus anak tersebut mewakili sekolah atau daerah asalnya.

Apakah anak-anak atau siswa tersebut latihan setiap harinya, jawaban ada, tapi pertanyaan yang sulit untuk dijawab adalah apakah anak tersebut dilatih secara rutin oleh pihak sekolah atau guru olahraganya. Kebanyakan jawabannya adalah tidak, karena kehebatan anak tersebut si cabornya karena tergabung di sebuah klub atau perguruan dimana ia menimba ilmu olahraganya.

Baca Juga  Seabad Chairil dalam Zaman yang Bising

Hal itu sangat sulit untuk dijawab, pasalnya anak tersebut tidak pun sekolah di sekolah yang ia wakili, anak tersebut akan tetap sebagai juara atau mewakili dimana saja ia bersekolah.

Jangankan untuk dilatih, yang paling menyedihkan dan paling menyakitkan, baik oleh anak atau siswa atau juga atlet adalah tidak adanya perhatian dari pihak sekolah terutama guru olahraganya atau diperhatikan oleh pihak sekolah bagaimana anak tersebut latihan. Jangankan dilatih, ditanya pun tidak dan bagaimana dengan vitamin anak dan bahkan anak mau seleksi tingkat kecamatan saja tidak dikasih tau kalau tidak diberi tahu oleh pelatihnya yang punya link ketingkat lebih atas.

Setelah lolos seleksi tingkat kecamatan terus seleksi lagi di tingkat kabupaten atau O2SN tingkat kabupaten dimana dulu dulunya atau sebelum-sebelumnya, O2SN tingkat kabupaten langsung dibuka oleh bupati atau walikota, namun akhir-akhir ini iven tersebut tidak masuk dalam agenda bupati alias berjalan sampai pada Dinas Pendidikan saja. Itupun berjalan sendiri oleh guru-guru olahraga yang tergabung dalam IGOR.