PADANG PARIAMAN, harianhaluan.id — Persoalan remaja putus sekolah tidak hanya berkaitan dengan terhentinya pendidikan formal, tetapi juga menyangkut terbatasnya kesempatan untuk memperoleh keterampilan praktis yang dapat dikembangkan menjadi bekal kehidupan. Di sisi lain, sampah yang belum dimanfaatkan secara optimal masih menjadi persoalan lingkungan di tengah masyarakat.
Berangkat dari dua persoalan tersebut, Program Studi S1 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Padang (UNP) menghadirkan Program Integrasi Prodi dengan Nagari (PIPN) 2026 di Nagari Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Melalui program yang berlangsung selama September 2026 itu, remaja putus sekolah diberikan pelatihan pengelolaan sampah dan pemanfaatan teknologi fisika terapan dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Kegiatan dipusatkan di Kantor Korong Pasa Tangah, Nagari Kayu Tanam, dengan melibatkan mahasiswa dan dosen Pendidikan Fisika UNP serta ibu-ibu PKK sebagai pendamping peserta.
Program yang mengusung tema “Pemberdayaan Remaja Putus Sekolah di Nagari Kayu Tanam dalam Pengelolaan Sampah Menjadi Produk Fisika Terapan Terintegrasi Pendekatan STEM” tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman membuat produk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini diharapkan membuka ruang bagi remaja untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan, meskipun mereka tidak lagi mengikuti pendidikan formal.
Ketua tim PIPN, Renol Afrizon, S.Pd., M.Pd., Ph.D., mengatakan, pembelajaran fisika perlu diperkenalkan melalui kegiatan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Menurutnya, konsep fisika tidak semestinya hanya dipahami sebagai teori dan persamaan di dalam kelas, melainkan juga dapat menjadi dasar untuk menghasilkan teknologi sederhana yang berguna.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa fisika tidak hanya dipelajari melalui teori dan persamaan di dalam kelas, tetapi juga dapat diterapkan untuk menghasilkan produk yang bermanfaat. Kami berharap para peserta memperoleh pengalaman, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki,” ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan pembuatan AC portable tanpa freon yang memanfaatkan es, garam, kipas, dan wadah sederhana. Teknologi ini menjadi salah satu contoh penerapan konsep fisika dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga diajak memahami proses kerja alat serta mengenal pemanfaatan bahan sederhana untuk menghasilkan teknologi yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.
Selain itu, peserta mendapatkan pelatihan hidroponik sistem sumbu atau wick system. Sistem tersebut diperkenalkan karena tidak membutuhkan pompa, relatif hemat energi, dan dapat diterapkan di rumah. Melalui kegiatan ini, peserta belajar mengenai pemanfaatan air dan prinsip penyaluran larutan nutrisi bagi tanaman sekaligus mengenal alternatif kegiatan produktif dengan memanfaatkan ruang dan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
PIPN Pendidikan Fisika Unp Berdayakan Remaja Putus Sekolah
Pelaksanaan kegiatan menggunakan tahapan STEM, mulai dari memahami konsep sains, mengenal teknologi sederhana, merancang dan membuat produk, hingga melakukan pengujian serta perbaikan. Dengan pola pembelajaran tersebut, peserta tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam proses pembuatan dan memahami prinsip kerja produk yang dihasilkan.
Pemerintah Nagari Kayu Tanam turut hadir dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah nagari, remaja putus sekolah, dan ibu-ibu PKK diharapkan dapat mendukung keberlanjutan program. Namun, pengembangan keterampilan dan pemanfaatan produk secara berkelanjutan tetap memerlukan pendampingan serta keterlibatan berbagai pihak agar hasil pelatihan dapat terus diterapkan setelah kegiatan berakhir.
Melalui PIPN 2026, Pendidikan Fisika UNP berupaya menghadirkan pembelajaran yang menjawab persoalan di tengah masyarakat, terutama terkait keterbatasan akses keterampilan bagi remaja putus sekolah dan pemanfaatan sampah. “Program ini diharapkan mampu menumbuhkan kreativitas, kepedulian lingkungan, serta kepercayaan diri peserta untuk terus belajar dan berkarya. Sampah dan bahan sederhana di sekitar pun diperkenalkan bukan semata sebagai limbah, melainkan sebagai sumber belajar dan peluang menghasilkan produk fisika terapan yang bernilai guna,” tutupnya. (h/rat)












