NASIONAL

Jangan Tunggu Gempa Selanjutnya Baru Antisipasi, CEO Kawoong Innovation Ingatkan Struktur Bangunan Jadi Kunci Hadapi Gempa

×

Jangan Tunggu Gempa Selanjutnya Baru Antisipasi, CEO Kawoong Innovation Ingatkan Struktur Bangunan Jadi Kunci Hadapi Gempa

Sebarkan artikel ini

PADANG, HALUAN – CEO Kawoong Innovation, Hadi Wardoyo menyebut struktur bangunan menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko korban dan kerusakan saat gempa terjadi.

Menurutnya, keselamatan penghuni harus sudah menjadi pertimbangan sejak tahap perencanaan bangunan, terutama dalam menentukan sistem fondasi dan struktur yang sesuai dengan karakteristik wilayah rawan gempa.

“Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana keselamatan manusia menjadi prioritas sejak bangunan itu direncanakan. Gempa tidak bisa kita hentikan, tetapi risiko akibat keruntuhan bangunan dapat kita kurangi,” ujarnya, Jumat (20/8).

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa yang berpusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo itu sempat memicu peringatan dini tsunami.

Peristiwa tersebut kembali menunjukkan besarnya risiko gempa di Indonesia yang berada di kawasan tektonik aktif. Karena itu, menurut Hadi, mitigasi tidak seharusnya baru dilakukan setelah bencana terjadi.

“Indonesia tidak mungkin menunggu gempa berikutnya untuk kemudian berbenah,” lanjutnya.

Hadi menilai salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian adalah fondasi. Sistem fondasi harus mampu bekerja sesuai karakteristik tanah sekaligus merespons energi yang muncul ketika terjadi guncangan. Untuk itulah pihaknya dikatakan Hadi, memperkenalkan Konstruksi Jaring Rusuk Beton (KJRB), pengembangan dari Konstruksi Sarang Laba Laba (KSLL) yang ditemukan Ryantori dan Sutjipto pada 1976. KJRB katanya, dikembangkan dengan fokus pada keseimbangan fondasi untuk membantu mengurangi risiko kemiringan bangunan.

Baca Juga  Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 3 Maret 2026

Ia mengatakan KJRB telah digunakan pada berbagai jenis bangunan di sejumlah wilayah Indonesia. Menurutnya, teknologi fondasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu pendekatan untuk menghadapi tantangan konstruksi di wilayah yang memiliki risiko gempa. “Kuncinya adalah kekuatan dan fleksibilitas fondasi dalam menahan guncangan gempa. Fondasi yang kokoh dan fleksibel mampu menyalurkan energi gempa secara lebih merata ke tanah, mengurangi risiko keretakan, dan pada akhirnya dapat menekan biaya perbaikan,” tuturnya.

Namun, Hadi menekankan keselamatan bangunan tidak hanya ditentukan oleh fondasi. Sistem struktur, kondisi tanah, kualitas material, desain bangunan, standar konstruksi, hingga pengawasan pengerjaan di lapangan juga menjadi faktor yang menentukan.

Sebelumnya, Pakar Geologi dan Kegempaan Universitas Andalas, Dr Ir Badrul Mustafa Kemal menambahkan, KJRB sebagai penyempurnaan dari KSLL yang dapat diterapkan di wilayah rawan gempa, termasuk pada kondisi tanah lunak.

Baca Juga  Perlindungan Hak Pilih dan Dipilih Tentukan Kualitas Pemilu

Salah satu penerapannya terdapat pada Gedung Perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) yang memiliki tujuh lantai. Sistem fondasi bangunan tersebut menggunakan KJRB setelah sebelumnya direncanakan menggunakan bore pile.

“Gedung-gedung yang memakai KJRB seperti pusat perbelanjaan, perkantoran, dan fasilitas publik tidak mengalami kerusakan signifikan,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Pakar Geoteknik Universitas Andalas Prof Abdul Hakam juga menyebut, KJRB telah digunakan pada sejumlah gedung bertingkat di Kota Padang dan secara empiris dinilai mampu menghadapi guncangan gempa.

Sementara itu, pakar struktur bangunan gedung dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ivindra Pane PhD menyampaikan, gempa NTT menjadi pengingat pentingnya integritas sistem fondasi sebagai bagian dari keseluruhan struktur bangunan.

“Keselamatan jiwa harus dijamin sejak tahap perencanaan, sehingga inovasi konstruksi tahan gempa tidak boleh berhenti sebagai teori belaka, melainkan wajib diterapkan secara nyata sebagai standar utama mitigasi bencana di seluruh wilayah rawan gempa Indonesia,” tutupnya. (h/yes)