PADANG, HARIANHALUAN.ID— Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat menawarkan peta jalan (Strategic Waste Blueprint) sebagai solusi transformasi pengelolaan sampah Kota Padang.
Dokumen tersebut dirancang untuk mengubah paradigma lama pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada pola kumpul–angkut–buang menuju sistem ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
Tawaran itu disampaikan dalam diskusi antara pengurus METI Sumbar dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Padang pada 10 Juni 2026. Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Umum METI Sumbar Dr Ir Firman Hidayat, Sekretaris Umum M Fauzi, Kabid Pengelolaan Sampah Durain P. Siregar, Kabid Ekonomi Sirkular Alvin, inovator pembangkit listrik tenaga gelombang Zamrisyaf SY, serta disambut langsung Kepala DLH Kota Padang Fadelan Mista Masta.
Dalam forum itu, METI memaparkan berbagai tantangan pengelolaan sampah Kota Padang sekaligus menawarkan strategi transformasi yang mencakup penguatan regulasi, pembangunan infrastruktur pengolahan, pengembangan industri daur ulang, hingga peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya.
Kabid Pengelolaan Sampah METI Sumbar Durain P. Siregar mengatakan, pengelolaan sampah di Kota Padang memerlukan perubahan paradigma secara menyeluruh.
Menurutnya, pendekatan yang selama ini berorientasi mengumpulkan, mengangkut, lalu membuang sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sudah tidak memadai untuk menjawab peningkatan timbulan sampah yang mencapai sekitar 400 ton per hari.
“Selama ukuran keberhasilan masih dihitung dari banyaknya sampah yang berhasil diangkut ke TPA, persoalan sampah tidak akan pernah selesai. Yang harus menjadi indikator adalah seberapa besar sampah yang berhasil dicegah agar tidak masuk ke TPA,” ujarnya.
Durain menjelaskan, sebagian besar sampah rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan maggot, sedangkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan kaca dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri daur ulang.
Karena itu, METI menawarkan perubahan pendekatan dari waste collection menjadi resource management yakni menempatkan sampah sebagai sumber daya ekonomi yang dapat dimanfaatkan kembali melalui prinsip pengurangan, penggunaan ulang, daur ulang, hingga pemanfaatan kembali.
Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular bukan hanya akan mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA, tetapi juga mampu menekan biaya operasional pengangkutan, memperpanjang umur TPA, mengurangi emisi gas rumah kaca, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dalam Strategic Waste Blueprint yang ditawarkan kepada Pemerintah Kota Padang, METI merumuskan sejumlah langkah strategis. Di antaranya memperkuat kebijakan pengurangan sampah dari sumber, membangun fasilitas pengolahan sampah skala kawasan, memperluas jaringan bank sampah, mengembangkan industri daur ulang, serta mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi baru dan terbarukan.
Blueprint tersebut juga menempatkan perubahan perilaku masyarakat sebagai fondasi utama keberhasilan transformasi. Edukasi publik dinilai harus diarahkan agar pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah semata, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat sejak sampah pertama kali dihasilkan.
Kepala DLH Kota Padang Fadelan Mista Masta menyambut positif berbagai gagasan yang disampaikan METI Sumbar. Menurutnya, tantangan pengelolaan sampah memang membutuhkan kolaborasi lintas sektor.
“Masukan dari METI memberikan perspektif baru bagi kami. Pengelolaan sampah membutuhkan inovasi, kolaborasi, dan partisipasi seluruh elemen masyarakat. Karena itu kami menyambut baik ajakan untuk bekerja bersama,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, DLH Kota Padang dan METI Sumbar dalam waktu dekat akan menandatangani nota kesepahaman (MoU) mengenai pengembangan pengelolaan sampah terpadu sekaligus pemanfaatan energi baru dan terbarukan berbasis sampah.
Sementara itu, Sekretaris Umum METI Sumbar M. Fauzi menilai persoalan sampah saat ini tidak lagi sekadar menjadi isu kebersihan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan ekonomi, lingkungan, dan ketahanan perkotaan.
“Padang sebenarnya tidak sedang kekurangan sampah, tetapi kekurangan sistem yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya. Selama paradigma kita masih berorientasi membuang, maka TPA akan selalu menjadi titik akhir persoalan. Yang harus dibangun adalah sistem agar sampah berhenti menjadi beban dan mulai menjadi aset ekonomi,” ujarnya.
Ia berharap kolaborasi antara METI Sumbar dan Pemerintah Kota Padang dapat menjadi momentum lahirnya model pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular di Sumatera Barat.
“Target kita bukan sekadar memperpanjang umur TPA. Yang ingin dibangun adalah ekosistem yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi, membuka lapangan kerja hijau, mengurangi emisi karbon, sekaligus menjadikan Padang sebagai rujukan pengelolaan sampah berkelanjutan di Sumatera,” pungkasnya. (*).












