Laporan : Hasril Chaniago
Republik Rakyat Tiongkok adalah negara dengan jumlah kota besar (megacity) terbanyak di dunia. Bila kita hitung kota dengan jumlah penduduk di atas lima juta, di dunia jumlahnya ada sekitar 90, dan 25 di antaranya ada di Tiongkok. Artinya, lebih seperempat dari megapolitan yang ada di muka bumi ini ada di Negeri China.
Bila kita bicara kota-kota terbesar di Tiongkok, 20 tahun lalu yang paling populer tetaplah Beijing dan Shanghai, seperti Washington D.C. dan New York di Amerika Serikat. Yang satu lebih terkenal karena ibu kota negara yang lainnya karena merupakan pusat ekonomi dan bisnis. Namun sejak 10 tahun terakhir, ada nama baru yang menyeruak dan menarik perhatian dunia di Tiongkok, yaitu Kota Chongqing.
Chongqing adalah salah satu dari empat kota setingkat provinsi (municipality) yang berada langsung di bawah pemerintah pusat, bersama Beijing, Shanghai, dan Tianjin. Kota ini dikenal sebagai gerbang menuju Tiongkok Barat dan merupakan pusat industri, logistik, serta transportasi terbesar di kawasan barat daya negara ini.
Sejak sepuluh tahun terakhir, Chongqing juga dikenal sebagai Ibu Kota Otomotif Tiongkok, karena kota ini menghasilkan hampir tiga juta mobil setiap tahun, terbesar di antara kota-kota pusat otomotif seluruh China.
Dulu Chongqing adalah bagian dari Provinsi Sichuan, dan sejak 17 Maret 1997 ditetapkan sebagai kota otonom (minicipality) setingkat provinsi yang berada langsung di bawah pemerintah pusat. Megapolitan ini memiliki luas wilayah 82.400 km persegi atau hampir dua kali luas Provinsi Sumatera Barat, dengan jumlah penduduk tahun 2025 sekitar 32 juta (kota berpenduduk terbesar di Tiongkok bahkan dunia).
Secara administratif pemerintahan, Chongqing terdiri atas 38 wilayah setingkat kabupaten dengan ibukota pemerintahan adalah Distrik Yuzhong. Letak geografis kota ini berada di pertemuan dua sungai besar, yakni Sungai Yangtze dan Sungai Jialing.
Sungai Yangtze adalah sungai terpanjang ketiga di dunia setelah Sungai Nil (Afrika) dan Sungai Amazon (Amerika). Karena dibelah oleh dua sungai besar, bagian-bagian kota ini harus dihubungkan dengan banyak jembatan dengan panjang rata-rata ratusan meter sampai 1 kilometer. Saking banyaknya jembatan, Chongqing juga dijuluki “Kota Seribu Jembatan”.
Topografinya yang berbukit-bukit dan penuh lembah serta jurang, membuatnya juga dijuluki Mountain City (Shancheng) atau “Kota 8 Dimensi” (8D City) karena tata kota yang bertingkat-tingkat, dengan jalan layang, terowongan, dan rel kereta yang melintasi gedung pancakar langit.
Dewasa ini Chongqing merupakan salah satu pusat ekonomi terbesar di Tiongkok bagian barat. Kota ini merupakan pusat untuk industri otomotif (pusat produksi Changan Automobile), sepeda motor, elektronik dan laptop, material baru, industri kimia, peralatan cerdas (smart manufacturing), logistik dan pelabuhan sungai.
Kota ini memiliki infrastruktur yang lengkap. Chongqing adalah salah satu pelabuhan sungai terbesar di Sungai Yangtze.
Bandara Chongqing Jiangbei International Airport, salah satu yang tersibuk di Tiongkok. Kota ini memiliki jaringan metro sepanjang lebih dari 500 km, termasuk jalur kereta terkenal yang melintas di dalam gedung apartemen di Liziba Station. Kota ini juga dilewati jalur kereta barang menuju Eropa melalui jaringan China–Europe Railway Express.
Dan yang paling spektakuler adalah East Chongqing Railway Station (Stasiun Kereta Chongqing Timur) yang baru saja dinobatkan sebagai stasiun kereta terbesar di muka bumi. Stasiun ini memiliki total area konstruksi mencapai 1,22 juta meter persegi atau setara dengan luas 170 lapangan sepak bola standar internasional. Mega-proyek yang menelan investasi fantastis sebesar US$7,8 miliar atau sekitar sekitar Rp138,8 triliun ini diselesaikan dalam waktu 38 bulan, dan telah berfungsi penuh sejak Juni 2025.
Stasiun Chongqing menjadi pusat perhatian global setelah CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, mengunggah video kekagumannya terhadap stasiun ini di platform X yang langsung ditonton lebih dari 56 juta kali.
Melansir laporan Xinhua News Agency, stasiun raksasa ini memiliki desain vertikal bertingkat yang terdiri dari delapan lantai. Pada jam-jam sibuk, mahakarya arsitektur ini dirancang mampu menampung dan melayani pergerakan hingga 16.000 penumpang setiap jam. Infrastruktur ini ditopang oleh 29 peron (platform) jalur keberangkatan serta 15 jalur rel kereta aktif.
Jalur rel ini didesain khusus untuk mendukung operasional kereta peluru dengan kecepatan super tinggi hingga 350 kilometer per jam. Stasiun ini menghubungkan wilayah barat daya China langsung ke berbagai pusat ekonomi dan wisata utama seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, Chengdu, dan Xi’an.
Selain kecanggihan fisiknya, stasiun ini telah mengadopsi sistem manajemen digital berbasis kecerdasan buatan (AI), sistem pemandu arah pintar (intelligent guidance), serta atap kaca raksasa dengan desain hemat energi untuk memaksimalkan pencahayaan alami di dalam ruang tunggu (waiting hall).
Kesamaan Sejarah dengan Kota Bukittinggi
Chongqing bukan hanya megapolitan penting Tiongkok masa kini dan masa depan. Kota ini adalah kota bersejarah yang memiliki jejak penting masa lalu, khususnya selama masa Perang Jepang Kedua dan Perang Saudara 1949 yang mengakhiri kekuasaan Kuomintang di seluruh daratan Tiongkok.

Selama Perang China-Jepang II (1938-1943), Chongqing menjadi ibu kota sementara Republik Tiongkok setelah Nanjing jatuh ke tangan Jepang tahun 1937. Sejak itu, Chongqing telah menjadi sasaran pengeboman dan serangan udara Jepang yang berlangsung selama lebih dari lima tahun tanpa henti. Diperkirakan terjadi lebih dari 200 kali serangan udara besar antara 1938 hingga 1943.
Guna mempertahankan kota ini dari gempuran udara Jepang, pemerintah dan rakyatnya yang heroik membuat lubang-lubang dan bunker perlindungan yang totalnya sepanjang 4 kilometer. Karena kota ini berada di daerah berbukit dan berbatu, mereka memanfaatkan lereng-lereng bukit untuk menggali terowongan perlindungan (air raid shelters), gua buatan,lorong bawah tanah, dan uang perlindungan besar yang mampu menampung ribuan orang.
Terdapat ribuan bunker yang tersebar di seluruh kota, beberapa bunker memiliki panjang ratusan meter hingga lebih dari satu kilometer. Di dalamnya tersedia ruang berkumpul, tempat tidur darurat, sumur, gudang makanan, hingga ruang medis sederhana.
Selama perang, saat sirene berbunyi, warga segera masuk ke bunker hingga serangan selesai.
Namun demikian, terjadi beberapa kali tragedi yang menelan banyak korban. Salah satu peristiwa paling tragis terjadi pada 5 Juni 1941, dikenal sebagai “Chongqing Tunnel Disaster”. Ketika serangan udara berlangsung selama beberapa jam, ribuan orang berlindung di sebuah terowongan. Karena ventilasi yang buruk dan pintu keluar yang sulit dibuka, banyak orang kehabisan oksigen dan meninggal akibat sesak napas. Korban diperkirakan mencapai ribuan jiwa, menjadikannya salah satu bencana sipil terbesar selama perang Tiongkok -Jepang.
Guna mengenang sejarah masa lalu, sebagian bunker masih dipertahankan dan dimanfaatkan sebagai museum sejarah perang, ruang pamer, gudang, restoran, hingga tempat penyimpanan anggur karena suhu di dalamnya stabil sepanjang tahun.
Beberapa terowongan di pusat kota dapat dikunjungi wisatawan sebagai bagian dari wisata sejarah Chongqing. Ketika menerjemahkan penjelasan pemandu wisata di dalam bunker puluhan meter di bawah tanah, Konsul Muda Yu Lei sempat menyelutuk sembari menoleh kepada saya, “Pak Hasril, dengan adanya lubang Perang Jepang ini, Chongqing mirip dengan Bukittinggi ya,” katanya.
Meski mirip, tentu ada bedanya. Lobang Jepang di Bukittinggi dibuat tentara pendudukan Jepang dengan mengorbankan ribuan romusha rakyat Indonesia demi melindungi tentara Jepang dari Sekutu. Sedangkan lubang perlindungan perang di Chongqing adalah simbol ketahanan warga Chongqing dari pengeboman Jepang.
Bersama monumen Jiefangbei Liberation Monument dan berbagai museum perang di kota tersebut, bunker-bunker ini mengingatkan pengunjung pada pengorbanan masyarakat sipil yang bertahan menghadapi salah satu kampanye pengeboman udara paling intensif pada masa Perang Dunia II.
Lepas Perang Dunia II, khususnya tahun 1949, merupakan masa yang sangat penting dalam sejarah Chongqing karena menandai berakhirnya kekuasaan Kuomintang (KMT) di kota tersebut, sekaligus dimulainya pemerintahan Republik Rakyat China di bawah Mao Ze Dong.
Selama Second Sino-Japanese War, Chongqing menjadi ibu kota sementara Republik Tiongkok setelah Nanjing jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1937.
Setelah Jepang menyerah pada 1945, perang saudara antara Kuomintang dan Partai Komunis Tiongkok kembali berkecamuk. Pada 1949, pasukan komunis berhasil merebut sebagian besar wilayah Tiongkok. Dan pada pada 30 November 1949, Tentara Pembebasan Rakyat memasuki Chongqing. Pasukan Kuomintang mundur ke arah Chengdu sebelum akhirnya banyak yang mengungsi ke Taiwan.
Peristiwa ini mengakhiri pemerintahan Kuomintang di Chongqing dan menandai dimulainya administrasi Republik Rakyat Tiongkok di kota tersebut.
Peristiwa inilah, “Chongqing 1949”, yang dikreasi menjadi sebuah pertunjukan spektakuler berskala besar yang dipentaskan secara permanen di Grand Theatre Chongqing 1949, berlokasi di Ciqikou Ancient Town, Distrik Shapingpa.
Teater ini dibangun khusus untuk pertunjukan tersebut dan dikenal sebagai salah satu teater imersif terbesar di dunia. Memiliki kapasitas 1.500 tempat duduk, tempat duduk penonton maupun pentas pertunjukan dapat berputar 360 derajat, sehingga penonton seperti terlibat langsung dalam drama tersebut.
Ikut menonton dari kursi VIP-Premium dengan tiket seharga 888 yuan (lk. Rp2,3 juta), saya membayangkan sedang menonton drama klosal “Bukittinggi 1948”, suatu peristiwa heroik ketika rakyat Minangkabau mempertahankan kelangsungan Republik Indonesia selama masa PDRI.
Mungkinkah itu? Tentu saja mungkin, karena Bukittinggi juga punya anak-anak muda kreatif, seumpama sutradara Arief Malinmudo, untuk melahirkan sebuah karya teater klosal. Apalagi sekarang Bukittinggi juga sedang diperjuangkan sebagai “Kota Pusat Perjuangan PDRI”.
Masalahnya adalah untuk membangun gedung pertunjukan modern seperti Grand Theatre Chongqing 1949 yang menelan biaya setara Rp1,8 triliun. Nampaknya bagi Bukittinggi, bahkan Sumatera Barat, ini masih jauh dari angan-angan.
Memang ada beberapa kesamaan antara masa lalu Chongqing dan Bukittinggi. Sama-sama pernah menjadi ibu kota negara sementara, sama-sama memiliki “lobang Jepang”, dan sama-sama pernah menjadi pusat perjuangan mempertahankan eksistensi negara. Namun dalam konteks masa kini dan masa depan, terlalu jauh perbedaannya. (*)












