BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.ID — Pemko Bukittinggi sukses menyelenggarakan rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang yang kegiatan puncaknya berlangsung pada 3 hingga 21 Juni 2026.
Iven bersejarah ini tidak hanya menjadi momentum mengenang satu abad ikon kebanggaan masyarakat Bukittinggi, tetapi juga berhasil mengangkat kembali posisi strategis Bukittinggi dalam sejarah bangsa sebagai Kota Perjuangan, sekaligus memberikan dampak nyata terhadap sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
Mengusung semangat pelestarian sejarah, penguatan budaya, literasi, diplomasi internasional, lingkungan hidup hingga pengembangan ekonomi kreatif, rangkaian kegiatan 100 Tahun Jam Gadang melibatkan berbagai unsur pemerintah, akademisi, budayawan, komunitas, pelaku usaha, perantau, serta delegasi dari puluhan negara.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias mengatakan, perayaan peringatan 100 Tahun Jam Gadang diawali dengan pelaksanaan International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 yang menghadirkan peserta dan narasumber dari berbagai negara.
Selama beberapa hari, Bukittinggi menjadi ruang perjumpaan dunia melalui seminar internasional, diskusi kebudayaan, pertunjukan seni, parade budaya, pembacaan puisi dunia, hingga forum diplomasi yang memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau kepada masyarakat internasional.
Peringatan 100 Tahun Jam Gadang bukan sekadar perayaan usia sebuah bangunan bersejarah, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas Bukittinggi sebagai kota sejarah, kota budaya, kota pendidikan, kota wisata dan kota perjuangan.
“Jam Gadang bukan hanya simbol Kota Bukittinggi, tetapi juga saksi perjalanan sejarah bangsa. Melalui momentum satu abad ini, kami ingin memperkuat kesadaran sejarah, memperkenalkan Bukittinggi ke dunia internasional serta membangun masa depan tanpa melupakan akar budaya dan perjuangan yang menjadi identitas kota ,” kata Ramlan.
Menurutnya, dengan semangat satu abad Jam Gadang, Pemko Bukittinggi berkomitmen untuk terus menjaga warisan sejarah, memperkuat identitas sebagai Kota Perjuangan, mengembangkan pariwisata berkelanjutan, serta menjadikan Bukittinggi sebagai pusat pembelajaran sejarah, budaya dan peradaban yang membanggakan Indonesia di mata dunia.
Salah satu capaian penting dari rangkaian peringatan 100 Tahun Jam Gadang adalah menguatnya dukungan berbagai tokoh nasional terhadap pencanangan Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan.
Dalam Seminar Nasional Bukittinggi Kota Perjuangan, sejumlah sejarawan, akademisi dan tokoh nasional menegaskan bahwa Bukittinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam sejarah Republik Indonesia, terutama saat menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada masa Agresi Militer Belanda II.
Sejarawan senior Prof. Anhar Gonggong menyebut Bukittinggi memiliki kekhasan sejarah yang tidak dimiliki daerah lain karena menjadi pusat “kenyataan kedaruratan Republik” yang menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ketika pemerintahan pusat mengalami krisis.
Dukungan juga datang dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang melalui pesannya menegaskan bahwa ketika Republik hampir padam pada tahun 1948, Bukittinggi menjadi salah satu daerah yang menjaga nyala Republik tetap hidup melalui keberadaan PDRI.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, turut menyatakan dukungannya agar identitas Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan terus dikedepankan karena perannya yang sangat besar dalam sejarah kemerdekaan dan keberlangsungan Republik Indonesia.
Dukungan dari berbagai tokoh nasional tersebut menjadi modal penting bagi Pemko Bukittinggi dalam memperjuangkan pengakuan yang lebih luas terhadap nilai historis dan kontribusi Bukittinggi dalam perjalanan bangsa.
Perayaan 100 Tahun Jam Gadang juga berhasil memperluas jejaring internasional Kota Bukittinggi. Kehadiran delegasi dari berbagai negara, para duta besar, akademisi, budayawan dan pegiat literasi internasional menjadikan Bukittinggi sebagai pusat diplomasi budaya selama penyelenggaraan kegiatan.
Seminar internasional bertema hubungan diplomatik Indonesia-Belanda, forum literasi dunia, hingga berbagai kegiatan budaya internasional memperkuat posisi Bukittinggi sebagai kota yang memiliki daya tarik sejarah dan budaya di tingkat global.
Momentum ini sekaligus membuka peluang kerja sama internasional di bidang pendidikan, kebudayaan, penelitian, ekonomi kreatif, pariwisata, hingga pengembangan museum dan arsip digital sejarah.(h/tot)












