OPINI

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Kalangan Remaja

×

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di Kalangan Remaja

Sebarkan artikel ini
FOMO
Ilustrasi FOMO

Oleh: Nayla Ivana Indra

Mahasiswa S1-Akuntansi Universitas Andalas

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan remaja. Berbagai platform seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook memungkinkan pengguna untuk mendapatkan berbagai informasi, tren viral, hiburan, hingga transaksi jual-beli secara online. Namun, dibalik kemudahan tersebut muncul sebuah fenomena psikologis yang semakin banyak dialami oleh generasi muda, yaitu Fear of Missing Out atau yang lebih dikenal dengan istilah FOMO.

Fear of Missing Out (FOMO) adalah kondisi ketika seseorang merasa cemas, khawatir, atau takut tertinggal karena tidak mengikuti aktivitas tertentu yang tengah terjadi di masyarakat. Perasaan cemas atau takut berlebih yang timbul pada diri seseorang akibat ketinggalan sesuatu yang baru seperti tren di media sosial, berita, dan lainnya. Rasa takut ini mengacu pada perasaan atau persepsi bahwa orang lain memiliki kehidupan yang lebih baik. Perasaan ini mendorong individu untuk terus memantau media sosial agar tidak merasa “ketinggan zaman” atau tertinggal dari lingkungan sosialnya. Fenomena ini semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja dan mahasiswa.

Mengapa Fomo Banyak Dialami Remaja?

Remaja adalah kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial. Dalam tahap pertumbuhan ini, kebutuhan akan penerimaan sosial, mendapatkan pengakuan, dan identitas diri sangat tinggi. Ketika mereka melihat teman-teman sebaya mengunggah foto liburan, gaya hidup mewah, pencapaian akademik, maka akan muncul pada diri remaja tersebut untuk membandingkan dirinya dengan teman sebayanya itu.

Dalam Penelitian yang dilakukan Fazria et al. (2024) mengungkapkan bahwa FOMO pada remaja muncul karena adanya kebutuhan yang tinggi untuk tetap terhubung dengan lingkungan sosialnya. Remaja merasa khawatir apabila tidak mengetahui informasi terbaru atau tidak ikut dalam aktivitas yang sedang menjadi tren di kelompok pertemanannya. Kondisi inilah yang membuat mereka terus memantau media sosial agar tetap merasa menjadi bagian dari kelompok sosialnya.

Baca Juga  PSGM vs Siguntur FC Jadi Laga Pembuka Tarkam Terbesar di Sumbar, Kintani Meriahkan Acara

Selain itu, perkembangan teknologi digital membuat arus informasi bergerak sangat cepat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Senda et al. (2024) menyatakan bahwa kondisi ini yang menciptakan tekanan sosial bagi remaja, karena mereka harus selalu terhubung dengan dunia digital untuk selalu mengikuti perkembangan terbaru agar mereka tidak kehilangan kesempatan atau pengalaman yang dianggap berharga.

Dampak FOMO terhadap kehidupan Remaja

Fenomena FOMO tidak hanya mempengaruhi pola pnggunaan media sosial, tetapu juga berdampak pada kesehatan mental dan kehidupan sehari-hari seseorang.

Meningkatnya Kecemasan dan Stres. Ketika remaja terus-menerus membandingkan kehidupan dengan orang lain, maka akan muncul persaan tidak puas terhadap dirinya sendiri. Akibatnya, remaja tadi menjadi mudah merasa cemas, minder, dan stres karena menganggap kehidupannya tidak sebaik yang ditampilkan orang lain di media sosial.

Menurunnya Kosentrasi Belajar dan Produktivitas. Dorongan untuk terus memeriksa notifikasi media sosial membuat banyak remaja sulit fokus pada tugas akademik maupun melakukan suatu pekerjaan. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar sering kali habis untuk mengikuti tren di media sosial yang sebenarnya tidak penting.

Memicu Kecanduan Media Sosial. FOMO mendorong seseorang untuk selalu online agar tidak tertinggal informasi terbaru. Menurut Afifah dan Tjie (2024), semakin tinggi tingkat FOMO, semakin tinggi pula kecenderungan seseorang mengalami kecanduan media sosial.

Mengganggu Kesehatan Mental. Penggunaan media sosial yang berlebihan bagi seorang remaja dapat mengganggu kesehatan mental seperti stres, gangguan tidur, kecemasan, hingga depresi pada usia muda.

Peran Media Sosial Dalam Memperkuat FOMO

Media sosial dirancang untuk memberikan informasi secara terus-menerus melalui fitur notifikasi, stories, reels, hingga live straming. Fitur-fitur tersebut membuat para pengguna merasa harus selalu aktif agar tidak tertinggal informasi terbaru. Selain itu, di media sosial pengguna cenderung membagikan momen bahagia, pencapaian, dan pengalaman positif. dibandingkan kesulitan yang mereka alami. Akibatnya, banyak orang memiliki persepsi bahwa kehidupan orang lain selalu lebih baik dari keidupannya sendiri.

Baca Juga  Indonesia dan Yuanisasi Selat Hormuz

Fenomena ini yang sering menyebabkan munculnya perbandangin sosial yang tidak sehat di lingkungan  remaja. Remaja kemudian merasa harus mengikuti tren, hingga mengikuti gaya hidup temannya agar merasa dianggap oleh kelompok pertemannnya.

Cara Mengatasi FOMO

Menghadapi Fenomena FOMO memerlukan kesadaran dan kemampuan mengelola punggunaan teknologi secara bijak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan:Membatasi waktu penggunaan media sosial agar tidak mengganggu aktivitas utama seperti belajar, melakukan suatu perkerjaan dan berinteraksi secara langsung.

Menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap individu memiliki kondisi yang berbeda. Memperbanyak aktivitas di dunia nyata, seperti berolahraga, membaca buku,  journaling, atau mengembangkan keterampilan baru. Melatih rasa syukur terhadap pencapaian dan kondisi yang dimiliki saat ini.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin umum terjadi dikalangan remaja saat ini akibat dari perkembangan teknologi digital dan media sosial. Meskipun media sosial memberikan banyak manfaat dalam memperoleh informasi dan membangun relasi, penggunaan media sosial yang tidak bijak berdampak buruk pada diri remaja, bahkan bisa mengganggu kesehatan mental mereka. Diperlukan kesadaran untuk menggunakan media sosial secara seimbang dan bijaksana. Remaja perlu memahami bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan dari tren yang diikuti, maupun aktivitas yang dipamerkan di media sosial. Sebaliknya, nilai diri sesungguhnya dibangun melalui karakter dan kontribusi nyata di kehidupan. Penting bagi seorang remaja untuk bisa menyaring informasi dan membatasi screen time agar terhindar dari kecemasan, kecanduan, dan tekanan psikologis. (*)