PARIWISATA

UNP Dorong Perkampungan Adat Sijunjung Naik Kelas Lewat Digitalisasi

×

UNP Dorong Perkampungan Adat Sijunjung Naik Kelas Lewat Digitalisasi

Sebarkan artikel ini
Perkampungan
Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) dengan mengembangkan program bertajuk Nagari Creative Hub: Percepatan Digitalisasi Nagari Adat Sijunjung untuk Peningkatan Transformasi Pembangunan Indeks Desa dan Pariwisata Berkelanjutan. HUMAS

SIJUNJUNG, harianhaluan.id — Kekayaan budaya Perkampungan Adat Nagari Sijunjung tidak hanya tersimpan pada rumah gadang, tradisi dan kesenian yang diwariskan turun-temurun. Potensi tersebut kini didorong untuk berkembang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan penguatan kapasitas warga.

Upaya itu dilakukan Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Program Pengabdian UNP Berdampak (PPUB) dengan mengembangkan program bertajuk Nagari Creative Hub: Percepatan Digitalisasi Nagari Adat Sijunjung untuk Peningkatan Transformasi Pembangunan Indeks Desa dan Pariwisata Berkelanjutan.

Program tersebut diarahkan untuk menjadikan masyarakat sebagai bagian utama dalam pengembangan destinasi wisata. Teknologi digital dimanfaatkan bukan semata sebagai sarana promosi, tetapi juga untuk memperkuat pelayanan, pemasaran produk lokal, pengembangan ekonomi kreatif dan tata kelola nagari.

Ketua tim pengabdian, Dr. Sri Gusti Handayani, S.Pd., M.Pd., mengatakan pengembangan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung membutuhkan keterlibatan berbagai unsur, terutama masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan dan kebudayaan di kawasan tersebut.

Dalam pelaksanaannya, Sri Gusti Handayani didampingi Prof. Arsil, M.Pd., Rini Afriani, M.Pd., dan Weny Sasmitha, S.Pd., M.Pd. Tim juga melibatkan mahasiswa Ingri Rahmadani dan Intan Gia Pertiwi serta mitra Candra Irawan selaku Ketua Pokdarwis.

“Perkampungan Adat Nagari Sijunjung yang berada di Jorong Koto Padang dan Jorong Tanah Bato memiliki modal besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya. Rumah gadang, tradisi masyarakat, kesenian, kuliner hingga aktivitas keseharian warga menjadi daya tarik yang tidak ditemukan di semua daerah,” katanya kepada Haluan Selasa (6/10/2026) di Padang.

Kawasan tersebut katanya, bahkan telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional dan menjadi bagian dari keragaman budaya kawasan Geopark Ranah Minang Silokek. Potensi itu dinilai perlu dikemas lebih menarik agar mampu menjangkau wisatawan yang lebih luas.

Di sisi lain ujarnya, pengembangan destinasi masih menghadapi sejumlah persoalan. Keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata perlu diperkuat, begitu juga kemampuan pemasaran, pelayanan wisata dan pemanfaatan teknologi digital.

Baca Juga  Pemkab Jadikan Wisata Religius Syekh Burhanuddin sebagai Pusat Destinasi Wisata Padang Pariaman

“Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena terjadi penurunan kunjungan wisatawan setelah 2019. Kondisi itu mendorong perlunya strategi baru dalam memperkenalkan kembali Perkampungan Adat Nagari Sijunjung kepada calon wisatawan,” paparnya.

Salah satu terobosan yang dilakukan melalui program Nagari Creative Hub adalah menghadirkan website desa wisata. Platform digital tersebut menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal Perkampungan Adat Nagari Sijunjung sebelum datang secara langsung.

Melalui website itu, informasi mengenai sejarah, budaya, destinasi, UMKM, kuliner, kerajinan dan berbagai aktivitas masyarakat dapat ditampilkan dalam satu kanal. Pengelola wisata juga mendapat pendampingan untuk memperbarui informasi serta mengunggah foto dan video secara berkala.

Tidak hanya membangun sarana digital, UNP juga memberikan perhatian terhadap kesiapan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan. Salah satunya melalui pelatihan Bahasa Inggris bagi pemilik dan pengelola homestay serta masyarakat yang terlibat dalam kegiatan pariwisata.

Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, mulai dari menyambut tamu, memperkenalkan homestay, menjelaskan fasilitas kamar, memberikan informasi destinasi dan arah perjalanan, menawarkan makanan lokal hingga menangani reservasi.

UNP Dorong Perkampungan Adat Sijunjung Naik Kelas Lewat Digitalisasi

Dikatakan Prof. Arsil, M.Pd, metode pelatihan dilakukan secara praktis melalui dialog, bermain peran dan simulasi pelayanan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memahami teori, tetapi juga terbiasa berkomunikasi ketika berhadapan dengan wisatawan.

“Penguatan juga menyentuh sektor ekonomi kreatif. Masyarakat dibekali pengetahuan mengenai digital marketing, pengembangan produk, kemasan, penentuan harga hingga strategi pemasaran. Peserta diarahkan mengenali target konsumen dan membangun identitas usaha agar produk lokal memiliki nilai jual lebih tinggi,” tuturnya.

Kemampuan membuat konten tambah Rini Afriani, M.Pd, juga menjadi bagian penting. Warga dilatih menghasilkan foto dan video produk, menyusun copywriting, membuat konten media sosial hingga melakukan simulasi live selling. Kanal digital diharapkan membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau secara langsung.

Baca Juga  Raih ASEAN Tourism Award 2025, Ini Deretan Prestasi Membanggakan Kampung Wisata Saribu  Gonjong Sarugo!

“Program Nagari Creative Hub tidak berhenti pada promosi dan pemasaran. Tim juga mendorong lahirnya kegiatan sport tourism, di antaranya melalui gagasan kejuaraan rafting atau trekking. Aktivitas tersebut diharapkan dapat menjadi magnet baru yang menghubungkan olahraga, petualangan dan promosi wisata budaya,” jelasnya.

Di bidang tata kelola ujar Weny Sasmitha, S.Pd., M.Pd., penguatan Data Teras Nagari dilakukan melalui input dan validasi data, pembaruan informasi serta pengembangan konten. Data yang lebih baik diharapkan dapat membantu pemerintah nagari dan masyarakat dalam menyusun perencanaan pembangunan secara lebih tepat.

“Melalui berbagai kegiatan tersebut, Nagari Creative Hub diarahkan menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah nagari, masyarakat, pelaku UMKM, komunitas, pengelola wisata dan wisatawan. Digitalisasi menjadi salah satu alat untuk mempertemukan berbagai potensi tersebut dalam satu ekosistem,” ungkapnya.

Program ini sekaligus diarahkan mendukung pembangunan berkelanjutan, termasuk SDGs 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDGs 10 tentang berkurangnya kesenjangan. Pada akhirnya, penguatan kapasitas masyarakat dan pemanfaatan teknologi diharapkan mampu membuat Perkampungan Adat Nagari Sijunjung semakin dikenal tanpa kehilangan identitas budayanya.

“Dengan kekuatan budaya yang dimiliki dan dukungan masyarakat yang semakin terampil memanfaatkan teknologi, Perkampungan Adat Nagari Sijunjung kini memiliki peluang untuk naik kelas. Bukan sekadar menjadi tempat kunjungan wisata, tetapi berkembang sebagai destinasi berbasis masyarakat yang mampu menggerakkan ekonomi lokal dan menjaga warisan budaya untuk generasi berikutnya,” tutup Sri Gusti Handayani. (h/isr)