PADANG, HALUAN – Upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya dimulai pada masa kehamilan atau balita, tetapi juga harus dipersiapkan sejak remaja, khususnya remaja putri sebagai calon ibu di masa mendatang. Berangkat dari pemikiran tersebut, tim dosen Poltekkes Kemenkes Padang melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan mengusung tema “Penerapan Psikoedukasi Berbasis Social Support Theory pada Remaja Putri untuk Mewujudkan Generasi Maju Bebas Stunting.”
Kegiatan yang dilaksanakan pada 31 Juli 2026 itu dipusatkan di SMAN 5 Padang, Kelurahan Gunung Sarik. Program dipimpin oleh Dr. Ns. Delima, S.Pd., S.Kep., M.Kes. sebagai ketua pelaksana bersama tim yang terdiri atas Herwati, SKM., S.Kep., M.Biomed., Dr. Metri Lidya, M.Biomed., Ns. Yosi Suryarilnilsih, M.Kep., Sp.Kep., Sp.KMB., dan Dr. Elsyie Yuniarti, A.Md.Gz., S.K.M., M.M.
Sebanyak 50 siswa anggota Palang Merah Remaja (PMR) mengikuti kegiatan ini dan dipersiapkan sebagai Duta Remaja Peduli Stunting. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam meningkatkan pengetahuan dan kepedulian teman sebaya terhadap pentingnya pencegahan stunting sejak usia remaja.
Ketua pelaksana, Dr. Ns. Delima, S.Pd., S.Kep., M.Kes., menegaskan bahwa investasi kesehatan remaja merupakan strategi penting dalam memutus mata rantai stunting antargenerasi. Menurutnya, remaja putri yang sehat, bebas anemia, memiliki status gizi baik, serta memahami pentingnya pola hidup sehat akan lebih siap menjalani kehamilan yang sehat di masa depan.
“Pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum seorang perempuan menjadi ibu. Masa remaja merupakan periode emas untuk membangun perilaku hidup sehat, memperbaiki status gizi, dan meningkatkan pengetahuan agar kelak mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” ujarnya.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini mengintegrasikan pendekatan psikoedukasi berbasis Social Support Theory, yaitu pendekatan yang menekankan pentingnya dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, guru, dan lingkungan sekolah dalam membentuk perilaku kesehatan remaja. Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, serta komitmen remaja dalam menerapkan perilaku hidup sehat secara berkelanjutan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan skrining kadar hemoglobin (HB) untuk mendeteksi dini anemia pada remaja putri. Pemeriksaan ini dinilai penting karena anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup tinggi pada kelompok remaja dan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah maupun stunting di masa mendatang.
Selain pemeriksaan hemoglobin, tim juga melakukan skrining status gizi remaja melalui pengukuran antropometri sebagai dasar untuk mengetahui kondisi kesehatan peserta. Hasil skrining kemudian dijadikan bahan edukasi individual agar setiap peserta memahami kondisi kesehatannya serta memperoleh rekomendasi mengenai perbaikan pola makan, aktivitas fisik, dan gaya hidup sehat.
Tahapan berikutnya adalah penyampaian psikoedukasi interaktif mengenai stunting, anemia, gizi seimbang, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), kesehatan reproduksi remaja, serta pentingnya persiapan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Materi disampaikan secara komunikatif menggunakan media edukasi berupa booklet, poster, infografis, dan diskusi kelompok sehingga peserta lebih mudah memahami materi yang diberikan.
Dalam sesi diskusi, para peserta menunjukkan antusiasme tinggi. Berbagai pertanyaan muncul mengenai pola makan sehat, penyebab anemia, pentingnya konsumsi tablet tambah darah, hingga persiapan kesehatan reproduksi sebelum memasuki usia pernikahan. Interaksi aktif tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran remaja mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak dini sebagai investasi bagi kehidupan di masa depan.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim pengabdian juga membentuk Duta Remaja Peduli Stunting yang berasal dari anggota PMR SMAN 5 Padang. Para duta ini diharapkan menjadi pelopor edukasi kesehatan di lingkungan sekolah melalui kegiatan penyuluhan sebaya, kampanye hidup sehat, promosi konsumsi tablet tambah darah, serta penyebaran informasi mengenai pencegahan stunting kepada teman-teman mereka.
Pendekatan peer educator atau edukasi teman sebaya dipilih karena dinilai lebih efektif dalam menjangkau kelompok remaja. Informasi kesehatan yang disampaikan oleh sesama remaja cenderung lebih mudah diterima sehingga diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku yang lebih berkelanjutan.
Tim pengabdian juga mengapresiasi dukungan penuh dari pihak SMAN 5 Padang yang telah memfasilitasi seluruh rangkaian kegiatan. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan pendidikan sekaligus memperkuat program pemerintah dalam percepatan penurunan stunting.
Melalui kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Padang menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat yang berbasis hasil penelitian dan kebutuhan nyata masyarakat. Pendekatan yang mengintegrasikan aspek kesehatan, pendidikan, psikologi, serta dukungan sosial diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas terhadap peningkatan kualitas kesehatan remaja.
Ke depan, program serupa direncanakan akan dikembangkan secara berkelanjutan melalui pendampingan terhadap Duta Remaja Peduli Stunting, monitoring perilaku kesehatan remaja, serta kolaborasi dengan puskesmas, sekolah, dan pemerintah daerah agar terbentuk ekosistem sekolah yang mendukung pencegahan stunting sejak usia remaja.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para remaja putri tidak hanya memiliki pengetahuan yang lebih baik mengenai stunting, tetapi juga mampu menerapkan perilaku hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari serta menjadi agen perubahan bagi teman sebaya dan keluarganya. Melalui dukungan sosial yang kuat, perilaku sehat yang berkelanjutan, serta keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, cita-cita mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan bebas stunting akan semakin mudah diwujudkan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi bukti bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Melalui kolaborasi antara dunia pendidikan, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat, remaja putri dapat dipersiapkan menjadi generasi yang sehat dan berkualitas, sehingga mampu melahirkan generasi emas Indonesia pada masa yang akan datang. (h/yes)












