Oleh: Syafruddin Karimi (Departemen Ekonomi/Universitas Andalas)
Bank Indonesia mengambil langkah tegas dengan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin ke 5,25 persen. Keputusan ini mengirim pesan kuat kepada pasar: stabilitas rupiah menjadi prioritas utama. BI tidak hanya menaikkan angka suku bunga, tetapi juga membangun kembali kredibilitas moneter di tengah tekanan global yang makin keras. Reuters mencatat rupiah sempat menyentuh Rp17.745 per dolar AS pada perdagangan pagi sebelum keputusan, lalu bergerak ke sekitar Rp17.600 setelah keputusan diumumkan. Respons awal ini menunjukkan pasar menerima sinyal BI secara positif.
Kenaikan suku bunga ini efektif sebagai rem awal terhadap gejolak nilai tukar. Pasar sebelumnya lebih banyak memperkirakan kenaikan 25 basis poin. Karena itu, kenaikan 50 basis poin memberi efek kejutan yang penting. BI ingin mematahkan ekspektasi depresiasi rupiah sebelum ekspektasi itu berubah menjadi perilaku pasar yang lebih agresif. Ketika pelaku usaha memperkirakan rupiah terus melemah, importir akan mempercepat pembelian dolar, korporasi akan menambah lindung nilai valas, dan investor asing akan menahan pembelian aset rupiah. Pola semacam itu dapat mempercepat pelemahan rupiah.
Langkah BI juga memperbesar daya tarik aset rupiah. Imbal hasil instrumen rupiah menjadi lebih kompetitif pada saat investor global masih memburu aset dolar. Kondisi ini penting karena US Treasury 10 tahun berada sekitar 4,66 persen, sehingga aset dolar tetap memberi imbal hasil tinggi dengan risiko lebih rendah. Rupiah tidak cukup dijaga dengan retorika. Rupiah membutuhkan selisih imbal hasil yang menarik, intervensi valas yang konsisten, instrumen moneter yang kredibel, dan koordinasi fiskal yang disiplin.
Meski demikian, kenaikan bunga tidak otomatis membuat rupiah pulih kuat. Tekanan eksternal tetap besar. Perang Timur Tengah mendorong harga minyak dunia tetap tinggi. Harga energi yang mahal memperbesar kebutuhan dolar untuk impor, menambah beban subsidi, dan menaikkan risiko inflasi impor. Reuters juga menyoroti kekhawatiran investor terhadap dampak perang Iran, rencana belanja pemerintah, independensi bank sentral, dan transparansi pasar modal. Faktor-faktor itu membuat pasar menilai rupiah bukan hanya dari inflasi dan cadangan devisa, tetapi juga dari kredibilitas kebijakan.
Konsekuensi terbesar dari kenaikan BI-Rate akan terasa pada kredit. Bank akan menyesuaikan biaya dana secara bertahap. Bunga simpanan dapat naik, lalu bunga kredit mengikuti. Sektor properti, otomotif, konstruksi, perdagangan, pembiayaan konsumen, dan UMKM akan merasakan tekanan lebih cepat. Rumah tangga dapat menunda pembelian rumah, kendaraan, elektronik, dan barang tahan lama. Dunia usaha akan menghitung ulang rencana ekspansi karena biaya pinjaman naik bersamaan dengan tekanan kurs, energi, dan logistik.
BI mencoba mengurangi risiko perlambatan kredit melalui kebijakan makroprudensial longgar. BI menegaskan kebijakan moneter diarahkan untuk stabilitas, sedangkan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran diarahkan untuk pertumbuhan. Insentif Likuiditas Makroprudensial mencapai Rp424,7 triliun hingga minggu pertama Mei 2026. Kredit perbankan juga masih tumbuh 9,98 persen secara tahunan pada April 2026, dengan kredit investasi naik 19,48persen, kredit modal kerja 6,04 persen, dan kredit konsumsi 6,13 persen. Data ini menunjukkan kapasitas pembiayaan belum kering. Tantangannya terletak pada minat debitur dan keberanian dunia usaha mengambil risiko baru.
Dampak terhadap investasi bergerak dua arah. Investasi portofolio dapat masuk karena SRBI dan SBN menawarkan imbal hasil lebih menarik. BI mencatat aliran masuk portofolio asing triwulan II 2026 mencapai 5,5 miliar dolar AS hingga 18 Mei, terutama ke SRBI dan SBN. Akan tetapi, investasi riil dapat tertahan jika biaya modal naik terlalu lama. Perusahaan akan menunda proyek baru ketika permintaan belum kuat dan biaya pembiayaan meningkat.
Pertumbuhan ekonomi akhirnya menghadapi ujian keseimbangan. BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 pada kisaran 4,9–5,7 persen. Kenaikan suku bunga dapat menekan konsumsi berbasis kredit dan investasi swasta, sehingga pertumbuhan berisiko bergerak ke batas bawah proyeksi. Akan tetapi, membiarkan rupiah jatuh lebih dalam akan menimbulkan biaya yang lebih besar: inflasi impor, tekanan utang valas, pelemahan daya beli, dan kenaikan premi risiko.
Keputusan BI layak dibaca sebagai biaya stabilisasi yang perlu dibayar sekarang agar ekonomi tidak membayar harga lebih mahal nanti. Kebijakan ini akan berhasil jika pemerintah menjaga disiplin fiskal, menata subsidi energi, mengelola belanja besar secara efisien, dan menjaga pasar SBN tetap likuid. Rupiah yang stabil menjadi fondasi bagi kredit, investasi, dan pertumbuhan. Tanpa kepercayaan terhadap rupiah, pertumbuhan hanya berdiri di atas pijakan yang rapuh. (*)











