PADANG, HARIANHALUAN.ID— Persoalan peternakan rakyat tidak selalu terletak pada kemampuan masyarakat memelihara ternak. Di balik kandang-kandang kecil milik peternak, terdapat persoalan yang jauh lebih besar. Siapa yang menjamin bibit, dari mana pakan diperoleh, bagaimana modal tersedia, ke mana hasil produksi dijual, hingga siapa yang memastikan usaha tersebut tetap berjalan ketika harga dan pasar berubah.
Berangkat dari persoalan tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat, Sukarli, mengajukan sebuah gagasan yang disebut Sistem Orkestrasi Peternakan Rakyat Terintegrasi (SOPRANO) dalam forum Pelatihan Kepemimpinan (PKM) I 2026 .
Bagi Sukarli, SOPRANO bukan sekadar konsep teknis untuk meningkatkan produksi ternak. Gagasan tersebut berangkat dari cara pandang bahwa peternakan rakyat merupakan sebuah ekosistem, bukan kumpulan usaha peternak yang berdiri sendiri-sendiri.
“Peternakan rakyat harus kita orkestrasi. Jangan masing-masing bergerak sendiri. Inilah gagasan Suprano,” ujarnya kepada Haluan Kamis (27/8/2026).
Selama ini, ia menilai pembangunan peternakan kerap dilihat dari sisi produksi. Peternak didorong memiliki ternak, kemudian produktivitasnya ditingkatkan.
Namun, ketika ternak telah menghasilkan, persoalan baru muncul. Peternak harus mencari pembeli sendiri. Ketika harga pakan naik, peternak menanggung sendiri bebannya. Ketika bibit sulit diperoleh, mereka kembali mencari sendiri.
Dalam perspektif inilah menurutnya SOPRANO mencoba mengubah logika pembangunan peternakan. Peternak tidak lagi ditempatkan sebagai mata rantai paling ujung yang hanya menerima program pemerintah, tetapi menjadi bagian dari satu sistem ekonomi yang saling terhubung.
Ada peternak di satu sisi. Ada petani jagung sebagai pemasok bahan baku pakan. Ada koperasi dan BUMNag sebagai kelembagaan ekonomi. Ada perguruan tinggi dan tenaga teknis sebagai sumber inovasi. Ada dunia usaha sebagai mitra investasi dan off-taker. Ada pemerintah sebagai regulator sekaligus kolaborator. Hingga pasar yang menjadi tujuan akhir produk.
“Semua elemen tersebut harus bergerak dalam irama yang sama itulah filosofi “orkestrasi” dalam SOPRANO. Sebagaimana sebuah orkestra, setiap pemain memiliki instrumen dan peran berbeda. Namun, musik baru akan menghasilkan harmoni ketika seluruh instrumen dimainkan dalam satu komposisi. Begitu pula peternakan rakyat,” tuturnya.










