PADANG PANJANG, HALUAN – Perundungan atau bullying masih menjadi persoalan yang sering ditemui di lingkungan sekolah. Banyak anak yang sebenarnya datang ke sekolah dengan rasa takut karena pernah diejek, dijauhi, bahkan diperlakukan kasar oleh teman-temannya sendiri. Hal seperti ini sering dianggap biasa, padahal dampaknya bisa memengaruhi mental dan semangat belajar anak.
Dari permasalahan inilah Program Studi Humanitas Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di SDN 06 Padang Panjang Timur pada April 2026 lalu. “Stop Bullying, Yuk Jadi Anak Hebat!” menjadi tema kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak.
Dalam kegiatan tersebut, siswa diberikan pemahaman sederhana mengenai bullying, baik dari jenis dan bentuk, serta penanganannya. Materi disampaikan dengan bahasa yang ringan agar mudah dipahami anak-anak. Mulai dari tindakan mengejek teman, memanggil dengan nama buruk, mengucilkan teman bermain, hingga tindakan melalui media sosial dijelaskan sebagai bentuk bullying yang tidak boleh dilakukan.
“Suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh interaksi. Anak-anak terlihat antusias saat diajak berdiskusi dan berbagi pengalaman tentang peristiwa yang pernah mereka lihat di sekolah. Mahasiswa yang terlibat juga aktif mendampingi siswa sehingga suasana terasa lebih akrab dan tidak kaku. Pendekatan seperti ini membuat anak-anak lebih berani menyampaikan pendapat dan memahami pesan yang diberikan,” ujar Helsi Zulfan Ramadani selaku ketua tim pengabdian.
Tidak hanya membahas bentuk bullying, siswa juga diajak memahami dampak yang bisa dirasakan korban. Anak yang menjadi korban bullying biasanya merasa sedih, minder, takut datang ke sekolah, bahkan kehilangan semangat belajar. Karena itu, anak-anak diajak untuk lebih menghargai teman dan menjaga ucapan saat berinteraksi.
Kegiatan pengabdian ini juga menanamkan nilai bahwa menjadi anak hebat bukan berarti paling kuat atau paling berani, tetapi mampu bersikap baik kepada orang lain. Anak-anak diajak untuk saling membantu, tidak mudah mengejek, serta berani melapor kepada guru apabila melihat tindakan perundungan terjadi di lingkungan sekolah.
“Di tengah perkembangan media sosial saat ini, siswa juga diingatkan agar lebih bijak menggunakan internet dan telepon genggam. Cyber bullying menjadi salah satu bentuk perundungan yang kini sering terjadi tanpa disadari anak-anak. Karena itu, edukasi seperti ini dianggap penting agar anak-anak memahami bahwa perkataan di media sosial juga bisa melukai perasaan orang lain,” jelasnya.
Melalui kegiatan pengabdian ini, dosen dan mahasiswa Program Studi Humanitas ISI Padangpanjang berharap tumbuh kesadaran sejak dini tentang pentingnya menghormati sesama. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang membuat anak merasa aman dan bahagia untuk belajar, bukan tempat yang menimbulkan rasa takut. Hal sederhana seperti menjaga ucapan, menghargai teman, dan mau berteman dengan siapa saja sebenarnya sudah menjadi langkah awal untuk mencegah bullying. Dari kebiasaan kecil itulah nantinya akan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki rasa peduli dan nilai kemanusiaan yang kuat. (Helsi Zulfan Ramadani, M.Sos)






