HEADLINE

Melawat Negeri China (4) : Cara China Mengubah Sampah Sampai Jadi Listrik

×

Melawat Negeri China (4) : Cara China Mengubah Sampah Sampai Jadi Listrik

Sebarkan artikel ini
Pembangkit listrik tenaga sampah milik Sanfeng Group di Chongqing. Foto Hasril Chaniago

Laporan : Hasril Chaniago

Apakah yang anda bayangkan tentang proses mengubah sampah menjadi energi listrik?

Pertama soal sampah dulu. Kita yang tinggal di Indonesia mungkin hanya membayangkan sampah identik dengan hal-hal kotor dan bau tidak sedap. Ini tidak salah, mengingat pengalaman dan pemahaman kita tentang pengelolaan sampah di kota-kota di negeri kita. Sampah adalah sesuatu yang kotor. Sampah adalah sesuatu yang tidak berguna. Identik dengan bau busuk, lalat hijau, dan bahkan sumber pernyakit.

Segala citra dan bayangan buruk tentang sampah itu tidak akan Anda temui ketika berkunjung ke Sanfeng Yulin Waste-to-Energy Plant, salah satu pembangkit listrik tenaga sampah (Waste-to-Energy/WtE) paling modern milik Sanfeng Environment Group di Choingqing, China. Pembangkit yang berlokasi di kawasan Luoqi Circular Economy Industrial Park, Kota Luoqi, Distrik Yubei, ini dirancang sebagai pusat pengolahan sampah dan ekonomi sirkular yang terintegrasi.

Selain sebagai pembangkit listrik tenaga sampah berkapasitas 90 megawat (MW), fasilitas ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi lingkungan yang banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, dan para peneliti soal lingkungan. Juga sering dikunjungi para pejabat dan jurnalis dari luar negeri yang ingin menyaksikan kemajuan Tiongkok dalam pengolahan sampah dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga sampah yang modern dan ramah lingkungan. Ya, seperti kami rombongan 14 wartawan se-Sumatera yang difasilitas Konsulat Jenderal Republik Rakyat China di Medan melakukan kunjungan jrunalistik ke Tiongkok, khususnya Kota Chongqing dan Beijing dari 21 sampai 28 Juni 2026.

Sanfeng Yulin Waste-to-Energy Plant yang merupakan fasilitas tercanggih milik Sanfeng Environment Group, berada di kawasan seluas 18 hektar dengan luas bangunan total sekitar 100.000 meter persegi. Khusus pembangkit listrik, memiliki kapasitas pengolahan 3.000 ton sampah sehari dengan insenator empat jalur masing-masing 750 ton. Setiap hari ada 150 truk dengan tangki/bak tertutup bolak-balik mengisi gudang sampah berkapasitas 30.000 ton. Dengan membakar 3.000 ton sampah sehari, bisa menggerakkan dua turbin uap dengan kapasitas terpasang masing-masing 45 MW atau total 90 MW.

Proses pengisian gudang sampah, pengangkatan sampah ke tungku pembakaran, hingga penyaluran uap hasil pembakaran untuk menggerakkan turbin, tanpa menggunakan tenaga manusia karena umumnya digerakkan secara mekanis atau oleh komputer.Kita bisa menyaksikan proses pembongkaran sampah oleh truk-truk sampah ke dalam gudang sampah sampai proses pempemuatan ke tungku pembakaran dari balik dinding kaca anjungan gedung di lamtai empat. Tapi jangan berharap akan mencium sedikit pun bau sampah.

Baca Juga  Hadiri Upacara 5 Oktober di Padang, Bupati Sutan Riska Bersama Forkopimda Dharmasraya Ucapkan Dirgahayu TNI ke-77

Sanfeng Yulin merupakan pembangkit listrik tenaga sampah keempat yang melayani kawasan inti Chongqing. Bersama fasilitas Sanfeng lainnya seperti Baiguoyuan dan Fengsheng, pembangkit ini membantu kota Chongqing mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (landfill) sekaligus mengubah sampah rumah tangga menjadi energi listrik. Operasi pembangkit ini juga menjadi contoh penerapan otomatisasi dan kecerdasan buatan dalam industri waste-to-energy di China

Sanfeng Yulin menggunakan teknologi yang dikembangkan sendiri oleh Sanfeng. Pembangkit ini dirancang sebagai fasilitas ultra-low emission. Bangunan pembangkit tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas industri, tetapi juga dirancang dengan konsep arsitektur yang menyatu dengan lanskap Chongqing. Di dalam kompleks pembangkit terdapat Sanfeng Yulin Environment Education Base, yang menyediakan galeri interaktif mengenai pengelolaan sampah, ruang pamer teknologi waste-to-energy, koridor observasi proses pembakaran, ruang kontrol yang dapat dilihat pengunjung, dan platform observasi untuk melihat keseluruhan kompleks pembangkit. Semuanya sangat bersih, jauh dari citra sampah yang umumnya dibayangkan orang.

Fasilitas ini rutin menerima kunjungan pelajar, mahasiswa, peneliti, pejabat pemerintah, dan tamu internasional sebagai bagian dari edukasi mengenai ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah modern.

Tiga Besar di Tiongkok

Sanfeng Environment Group Corp., Ltd. saat ini adalah perusahaan publik yang terdaftar di papan utama Bursa Efek Shanghai. Perusahaan memulai langkahnya pada tahun 1998 dan telah berkembang menjadi salah satu pemimpin industri di bidang pengolahan sampah dengan teknologi pembakaran untuk menghasilkan energi listrik. Sanfeng Environment dikenal sebagai perusahaan “Dua Ratus” dalam reformasi BUMN yang ditetapkan oleh Dewan Negara China serta masuk dalam daftar 500 Besar Perusahaan Energi Baru Global.

Perusahaan ini memulai perjalanannya dengan fokus pada pengolahan sampah perkotaan. Pada tahun 2000, Sanfeng menjadi pionir di China dengan memperkenalkan teknologi pembangkit listrik tenaga sampah SITY2000 dari Martin GmbH Jerman. Teknologi ini kemudian berhasil dilokalisasi dan selanjutnya menjadi tulang punggung operasional perusahaan. Pada tahun 2008, Sanfeng Environment mengakuisisi 60% saham Covanta Energy (Shanghai) Co., Ltd. dan secara resmi mengubah namanya menjadi Sanfeng Covanta Energy Co., Ltd., memperkuat posisinya di industri sejenis.

Saat ini Sanfeng Group mengoperasikan 57 pembangkit listrik tenaga sampah di seluruh Tiongkok dengan kapasitas pengolahan sampah sekitar 61.450 ton sehari untuk membangkitkan listrik berkapasitas total 1,5 gigawat (1.500 MW). Dengan kapasitas tersebut, Sanfeng termasuk tiga besar operator pembangkit listrik tenaga sampah di China, bersama China Everbright Environment dan Shanghai SUS Environment.

Baca Juga  BREAKINGNEWS: SMAN 3 Bukittinggi Diblokir, Siswa Tidak Bisa Masuk Sekolah

Tidak hanya di Tiongkok, teknologi dan peralatan Sanfeng Group telah banyak digunakan di berbagai belahan dunia. Hingga saat ini, teknologi dan peralatan Sanfeng Environment telah diterapkan pada 433 jalur pembakaran dari 268 proyek pembangkit listrik tenaga sampah di 10 negara. Selain di China, juga di Amerika Serikat, India, Ethiopia, Thailand, Sri Lanka, Vietnam, Jerman, serta wilayah Makau, dengan total kapasitas pengolahan sampah rumah tangga harian melebihi 240.000 ton.

Sejak sepuluh tahun terakhir, China memang sangat antusias mengembangkan pembangkit listrik tenaga sampah. Selain menghasilkan listrik, penggunnaan teknologi ini juga turut menyelesaikan sebagian masalah persampahan yang merupakan persoalan besar terutama di perkotaan.

Di seluruh China kini terdapat lebih 1.100 pembangkit listrik tenaga sampah dengan kapasitas pembakaran sampah 300 ton sampai 4.500 ton per pembangkit/hari. Dari total pembangkit tersebut, China memiliki kapasitas terpasang listrik tenaga sampah sebesar 35.000 sampai 4.000 MW, atau sekitar 1 persen dari total kapasitas terpasang seluruh pembangkit listrik Amerika Serikat.

Walaupun perannya masih kecil di dalam negeri, namun secara global China saat ini adalah penghasil listrik tenaga sampah terbesar di dunia. Di bawah China dengan lebih 35.000 MW, ada Jepang (10.000 MW), Amerika Serikat (3.000 MW), Jerman (2.500 MW), Prancis (2.000 MW), Inggris (1.500 MW), Belanda, 1.200 MW), Italia (1.000 MW). Swedia (850 MW), dan Koresa Selatan (750 MW).

Sejauh ini negara kita, Indonesia, belum tercatat dalam daftar negara penghasil listrik tenaga sampah. Adakah kemungkinan, dan bagaimana prospeknya? Ya, kenapa tidak! Bukankah soal persampahan hingga saat ini masih masalah besar di negara kita, terutama di perkotaan. Dengan mulai mengembangkan listrik tenaga sampah, maka sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui. Masalah sampah teratasi, energi baru dapat pula.

Mungkinkah? Kenapa tidak. Di mana ada kemauan, di sana pasti ada jalan. Amalkan saja pepatah Arab klasik itu: Tuntutlah ilmu walau harus ke negeri China! (*)