Oleh : AFRIANITA
PALEMBAYAN, HALUAN—Jheny Putra (41), warga Jorong Kayu Pasak Nagari Salareh Aia Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam masih teringat bagaimana rumahnya hancur dihantam banjir bandang atau galodo pada 27 November 2025.
Untungnya ia besama istri dan tiga anaknya masih sempat melarikan diri sehingga bisa selamat dari ancaman galodo yang menghantam kampungnya pada waktu itu.
Akibat galodo rumahnya hancur tak bersisa, bahkan mobil dump truknya pun hanyut hingga 300 meter jauhnya dari lokasi rumah saat kejadiaan naas tersebut menimpa.
“Alhamdulillah mobil dam masih bisa ketemu walaupun dengan kondisi rusak berat. Saat ini sudah hampir selesai perbaikan di bengkel,” ujar Jenny kepada Haluan, Selasa (14/4) lalu.
Jhenny adalah salah satu nasabah dari Bank Nagari. Baru setahunan saat kejadian ia meminjam sebesar Rp150 juta untuk membuka lahan baru sawit saat itu karena kebun yang lama sudah tak produktif.
Mobil dam tersebutlah yang saat itu dijadikannya sebagai jaminanan untuk meminjam modal membuka kebun kepada Bank Nagari pada saat itu.
Selama ini mobil dam tersebut telah berjasa banyak dalam menopang kehidupan keluarganya, karena juga digunakan mengangkut hasil panen warga, pasir atau apapun yang bisa menghasilkan uang secara halal.
Di tengah luka, karena kehilangan rumah dan rusaknya mobil yang selama ini menjadi sumber mata pencahariannya, ia masih bisa bernafas lega.
“Pada saat kejadian, dari Bank Nagari Pak Hendra langsung menelepon saya menanyakan keadaan. Saya ceritakan bagaimana kondisi saya saat itu,” jelasnya.
Jhenny kemudian diminta datang ke Bank Nagari Cabang Pembantu Bawan di Kecamatan Ampek Nagari Agam untuk melaporkan kondisinya.
Bank Nagari kemudian memberikan keringanan berupa penangguhan pembayaran kredit selama 6 bulan ke depan.
Jika dalam jangka waktu 6 bulan kondisinya masih belum pulih atau mampu untuk membayar angsuran maka ia diberikan lagi waktu 6 bulan.
“Alhamdulillah saya cukup lega karena dengan kondisi terkena bencana tidak harus memikirkan angsuran juga. Saat ini sudah berjalan 4 bulan,” jelasnya.
Jheny tidak bisa membayangkan bagaimana kalau ia harus membayar angsuran juga saat kondisinya yang sedang kemalangan.
Setiap bulannya Jheny harus membayar angsuran sebesar Rp3,8 juta, angsuran menurun dan akan lunas dalam 4 tahun. Saat ini baru berjalan setahun.
Sedangkan kebun sawit yang dibukanya meskipun tidak terdampak, namun belum lagi memberikan hasil panen optimal. Setidaknya butuh lima tahun, kalua sekarang baru sekitar 300 kiloan.
Sejak bencana itu menghantam, ia dan keluarganya serta warga di kampungnya masih tinggal di hunian sementara yang berlokasi di SD 05 Jorong Kayu Pasak.
Sebelumnya mereka hanya tinggal di kelas-kelas sekolah, tetapi kemudian di sana dibangun hunian sementara (Huntara) yang kini mereka tempati.
“Kalau untuk hunian tetap kabarnya dananya sudah ada tetapi tanahnya yang belum ada sehingga kami masih tinggal di huntara ,” katanya lagi.
Nagari Salareh Aia adalah salah satu daerah yang terparah diterjang banjir bandang dan galodo saat itu. Ratusan rumah bahkan orang hilang, jalanan hancur, listrik terputus dan puluhan nyawa melayang.
Meski belum sepenuhnya pulih dari dampak bencana, namun demikian Jhenny tetap pantang putus asa. Ia berencana setelah mobil dumnya selesai diperbaiki, ia akan tancap gas kembali.
Jhenny adalah salah satu nasabah Bank Nagari terdampak banjir bandang yang mendapatkan restrukturisasi atau keringanan kredit sehingga mampu untuk bangkit kembali.
65 Nasabah Bank Nagari
Lubuk Basung Terdampak Banjir Bandang
Sementara itu Pemimpin Seksi Kredit Bank Nagari Cabang Lubuk Basung, Rezki Darma mengatakan ada 65 nasabah yang terdampak bencana banjir bandang dengan nilai kredit mencapai Rp12 miliar.
Sejauh ini dikatakannya sudah sebanyak 20 persen debitur atau peminjam terdampak galodo yang mengajukan atau menerima restrukturisasi kredit.
“Akibat galodo tersebut sebagian debitur kehilangan usaha mereka sehingga diberikan keringanan,” ujar Rezki Darma kepada Haluan, Senin (13/4).
Ia mengatakan akibat bencana tersebut maka diprediksi akan terjadi peningkatan rasio kredit macet atau NPL sebesar Rp2 miliar.
Keringanan yang diberikan kepada debitur dikatakannya adalah dengam memberikan bunga o persen untuk Kredit Usaha Rakyat pada tahun pertama.
Selain itu Bank Nagari juga ikut mendorong akses ke KUR baru untuk mendorong pemulihan usaha debitur terdampak.
Ia menambahkan hingga Desember 2025,Bank Nagari Cabang Lubuk Basung sudah mengucurkan kredit sebesar Rp700 miliar dengan 400 jumlah nasabah.
1.540 Debitur Bank Nagari
Terdampak Banjir Bandang
Sebanyak 1.540 debitur Bank Nagari terdampak bencana banjir bandang yang melanda Sumatera Barat sejak akhir November 2025 yang lalu.
Direktur Utama Bank Nagari, Gusti Candra mengatakan data didapatkan berdasarkan hasil identifikasi dan pemetaan aktif kondisi nasabah melalui Kantor Cabang di wilayah terdampak langsung bencana.
“Hasil identifikasi awal tersebut juga telah kami sampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan Sumatera Barat,” ujar Gusti Candra ketika dikonfirmasi Haluan, Selasa (16/12) lalu.
“Perkiraan kerugian tidak bisa kita sampaikan tetapi kalau total oustanding nilai pinjaman 1.540 debitur tersebut sekitar Rp199,1 miliar,” ujar Gusti lagi menambahkan.
Terkait skema dan Kebijakan restrukturisasi kredit, dikatakannya OJK telah mengeluarkan kebijakan khusus melalui Surat OJK Nomor S-47/D.03/2025 10 Desember 2025.
Yaitu perihal Penetapan Provinsi Aceh, Provinsi Sumatera Utara, dan Provinsi Sumatera Barat sebagai Daerah yang Memerlukan Perlakuan Khusus terhadap Kredit/Pembiayaan Bank.
Mempedomani surat OJK tersebut, maka Bank Nagari akan menindaklanjutinya dengan membuat Surat Juknis ke seluruh unit kerja berpedoman kepada poin-poin yang telah diatur dalam surat OJK tersebut.
Bagi nasabah yang mengalami dampak langsung akibat bencana dikatakannya dapat mengajukan restrukturisasi dengan menghubungi atau mendatangi Kantor Cabang Bank Nagari tempat fasilitas kredit/pembiayaan diterbitkan.
“Kantor Cabang akan melakukan verifikasi awal terhadap kondisi usaha dan dampak yang dialami nasabah, “ ujar pria kelahiran Lintau tersebut.
Dikatakannya seluruh proses ini mengikuti ketentuan POJK 19/2022 dan kebijakan internal Bank Nagari, serta dilakukan sejalan dengan arahan OJK terkait penanganan nasabah terdampak bencana.
“Nasabah akan dihubungi oleh pihak bank setelah hasil evaluasi selesai untuk penyampaian persetujuan dan penandatanganan dokumen restrukturisasi,” jelasnya.
Ia mengatakan tidak ada sektor tertentu yang menjadi prioritas restrukturisasi karena ada yang sifatnya terdampak langsung saat kejadian bencana, namun ada juga yang terdampak setelah bencana.
Misalnya putusnya atau sulitnya akses transportasi dan logistik akan mempengaruhi usaha debitur, atau menimbulkan hasil produksi tidak bisa dipanen atau dijual, dan lain sebagainya.
“Untuk itu nanti tim kami akan melakukan identifikasi dan penilaian tentang skema restrukturisasi yang sesuai berdasarkan kondisi dan kemampuan debitur,” tuturnya lagi.
Ditambahkannya Bank Nagari telah melakukan pemantauan aktif terhadap debitur dan nasabah terdampak bencana melalui kegiatan monitoring dan supervisi oleh kantor cabang yang berkoordinasi dengan unit terkait di Kantor Pusat.
Kantor cabang juga terus melakukan inventarisasi, pendampingan, serta tindak lanjut di lapangan untuk memastikan keberlanjutan usaha para debitur.
Selain itu, Bank Nagari tengah menyusun action plan terkait langkah-langkah yang diperlukan terhadap kredit atau pembiayaan yang sedang berjalan dan recovery usaha debitur.
Sejak awal kejadian, Bank Nagari melalui Tim Reaksi Cepat Bank Nagari Tanggap Bencana (TRC BNTB) Kantor Pusat dan Kantor Cabang langsung turun ke lapangan.
Tim menyalurkan bantuan ke berbagai titik terdampak di kabupaten/kota, baik kepada pemerintah daerah, dapur umum, maupun posko-posko pengungsian.
Pada usianya yang ke-64 tahun Bank Nagari semakin nyata menunjukkan kepeduliannya dengan memberikan keringanan kepada nasabahnya yang dalam kondisi mengalami penurunan kemampuan bayar akibat bencana.
Bank Nagari sangat menyadari bahwa keringanan kredit yang diberikan akan membantu nasabah yang sedang kesulitan untuk bisa bertahan dan bangkit kembali sehingga juga akan mendukung kelangsungan bisnis bank untuk terus bertumbuh. (*)





