OPINI

Sunyi di Pinggiran, Bising di Statistik

×

Sunyi di Pinggiran, Bising di Statistik

Sebarkan artikel ini

Oleh: Neneng Isnaniah

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Pembangunan acap kali terdengar nyaring di laporan resmi, tetapi terasa sunyi di kampung-kampung. Di sebuah jorong, pagi datang tanpa banyak tanda kehidupan.

Jalanan lengang, pintu rumah tertutup, dan yang tampak hanyalah mereka yang tertinggal dari arus produktivitas: lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Sementara itu, mereka yang berada pada usia kerja justru menghilang dari ruang sosial. Mereka bekerja—tetapi bukan di tempat yang mereka tinggali. Inilah wajah pembangunan yang jarang dibicarakan: hadir dalam angka, tetapi belum sepenuhnya hidup dalam keseharian.

Secara makro, cerita yang ditampilkan adalah kemajuan. Tingkat kemiskinan menurun, pendapatan per kapita meningkat, dan struktur ekonomi menunjukkan pertumbuhan.

Di atas kertas, arah pembangunan tampak jelas. Namun angka, sebagaimana kerap diingatkan dalam studi pembangunan, tidak selalu mampu menangkap denyut kehidupan.

Di tingkat lokal, banyak komunitas masih bertumpu pada sektor pertanian dan perkebunan—sektor yang sekaligus menjadi penopang dan sumber kerentanan. Fluktuasi harga komoditas dengan mudah menggoyahkan pendapatan.

Banyak warga bekerja sebagai buruh lepas, termasuk perempuan, dengan ruang kerja yang berada di luar kampung. Penghasilan ada, tetapi tidak cukup tinggal untuk menghidupkan ekonomi setempat.

Di titik inilah paradoks itu menjadi nyata: sumber daya melimpah, tetapi kehidupan lokal berjalan di tempat, ekonomi hanya sekedar, bukan menetap

Baca Juga  Wakili Kaum Perempuan, Ike Afri Yani Terpilih Jadi Anggota BAMUS Nagari Aua Kuniang

Dilihat dari kaca mata komunikasi pembangunan, persoalan ini dapat dibaca sebagai lemahnya sirkulasi ekonomi lokal. Uang memang masuk melalui upah dan hasil produksi, tetapi segera keluar kembali.

Ia tidak sempat berputar cukup lama untuk menciptakan efek berantai. Akibatnya, ruang ekonomi di tingkat komunitas menjadi dangkal. Usaha mikro sulit tumbuh, interaksi ekonomi terbatas, dan kehidupan sosial perlahan kehilangan energinya.

Kampung tidak benar-benar hidup, ia hanya berfungsi.Everett M. Rogers menekankan bahwa pembangunan sangat bergantung pada penyebaran dan adopsi inovasi dalam sistem sosial. Ketika inovasi tidak mengakar di tingkat lokal, pertumbuhan akan timpang—kuat di struktur, lemah di praktik.

Pandangan ini sejalan dengan Jan Servaes, yang menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup bersifat top-down. Tanpa partisipasi, masyarakat hanya menjadi penerima, bukan penggerak.

Lebih jauh, Paulo Freire mengingatkan bahwa tanpa kesadaran kritis, pembangunan berisiko menjauhkan masyarakat dari perannya sebagai subjek perubahan.Ketika Kampung Menjadi Tempat Singgah Nan perlahan hilang bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga kehidupan kolektif.

Kampung berubah menjadi ruang transit, tempat untuk pulang, beristirahat, lalu pergi kembali. Interaksi sosial menipis, ruang-ruang bersama kehilangan makna, dan waktu seolah berhenti lebih cepat dari yang seharusnya.

Padahal, potensi tidak pernah benar-benar absen. Ia hadir dalam bentuk sumber daya alam, tradisi, hingga jejak sejarah. Namun tanpa pengelolaan yang berbasis komunitas, potensi itu hanya menjadi latar, bukan penggerak.

Baca Juga  IPM & IMM: Cermin Ganda Membongkar Tabir Ilusi Kesejahteraan

Dari pinggiran, perubahan bisa dimulai alih-alih menunggu intervensi besar, perubahan sering kali justru lahir dari inisiatif kecil yang konsisten.

Membangun ruang temu bagi warga, menghidupkan usaha mikro, memperpanjang jam aktivitas ekonomi, hingga memanfaatkan media digital untuk membuka akses pasar—langkah-langkah ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki daya dorong yang nyata jika dilakukan bersama.

Dalam konteks komunikasi pembangunan, inisiatif lokal bukan pelengkap. Ia adalah inti. Pembangunan yang perlu dirasakan, kita perlu mulai bertanya ulang: untuk siapa pembangunan dijalankan, dan di mana ia benar-benar terasa?

Jika pembangunan hanya hidup dalam grafik dan tabel, sementara kampung-kampung tetap sunyi, maka ada sesuatu yang belum selesai. Barangkali, ukuran paling jujur dari pembangunan bukanlah angka pertumbuhan, melainkan apakah kehidupan benar-benar bergerak.

Apakah warung masih menyala hingga malam? Apakah percakapan masih terdengar di ruang-ruang bersama ?Apakah orang tidak hanya pulang untuk tidur, tetapi juga untuk hidup? Jika itu belum terjadi, maka pembangunan masih sebatas kabar. Dan di pinggiran, kesunyian akan terus menjadi tajuk yang tak pernah ditulis dalam laporan. (*).