Oleh : Ganefri (Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sumbar dan Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar)
Dalam satu dasawarsa terakhir ini, banyak kekhawatiran bahkan menjadi keresahan di kalangan pengurus masjid dan tentunya masyarakat kita khususnya di Sumatera Barat (Barat), bahwa sulitnya mencari garin, bilal dan generasi muda yang aktif dalam penyelenggaraan ibadah harian di masjid. Remaja saat ini setelah tamat sekolah menengah atas, mereka lebih memilih meninggalkan kampung halamannya untuk kuliah atau mengadu untung di negeri orang dengan marantau. Hal ini seperti lazimnya generasi sebelumnya yang identik budaya marantau. Selain itu walaupun ada yang masih bertahan di kampung, mereka pun enggan untuk aktif dalam kegiatan masjid/ mushalla dan memilih di rumah atau bermain dengan komunitasnya.
Bagi nagari yang dekat dengan pusat pendidikan keagamaan seperti sekolah-sekolah agama atau pesantren masih dibilang aman dari kelangkaan generasi muda masjid, tapi bagi daerah yang tidak dekat dengan fasilitas tersebut, sulit untuk mencari para remaja yang punya dedikasi untuk aktif dalam kegiatan masjid. Sangat kita pungkiri bahwa orientasi pendidikan lanjut dan ekonomi serta keberlanjutan cita-cita ke masa depan menjadi faktor menyebabkan potensi terjadinya krisis remaja masjid, sehingga ada masjid yang aktifnya waktu shalat Magrib, Isya dan Shubuh.
Menyikapi hal ini tentu dilakukan kegiatan mengajak remaja untuk meramaikan masjid, hal ini sebaiknya dimulai sejak dini, kebiasaan orang tua membawa anak ke masjid adalah bagian dari internalisasi nilai pendidikan dan sekaligus membiasakan mereka untuk dekat dengan masjid, ada juga pengurus masjid yang kadang keras dalam mencegah anak-anak beraktivitas di masjid sehingga mereka menjadi kapok. Kegiatan remaja masjid, subuh mubarak, kegiatan MTQ, perayaan hari besar Islam (PHBI) dan sebagainya merupakan alternatif yang dimanfaatkan untuk momen meramaikan masjid untuk generasi muda di luar Ramadan.
Salah satu program positif dan strategis dijadikan program oleh Pemko Padang yakni dengan kegiatan Smart Surau, yang secara langsung berdampak terhadap kehadiran anak-anak usia Pendidikan dasar termasuk orang tuanya sekaligus di kegiatan ibadah masjid/ musala di seluruh wilayah Kota Padang untuk setiap harinya. Dari sekian banyak anak/ remaja yang aktif dalam kegiatan ini, insya allah ada di antara mereka yang akan menjadi remaja yang akan menjadi pelanjut baik sebagai muadzin, imam, bahkan khatib kelak atau ketua remaja masjid yang akan menjadi pionir dalam menarik teman-teman seusianya sebagai pilar dakwah ke depannya, sehingga regenerasi masjid tidak terputus.
Fenomena kelangkaan ‘anak siak’ ini harus dicarikan solusinya di tengah sangat berkurangnya generasi muda aktif dalam kegiatan masjid, memang sangat kita rasakan sekali masjid/ mushalla/ surau kita hanya diramaikan oleh partu (partai tua) yang kebanyakkan sudah berumur di atas 60 tahun. Sangat sedikit remaja yang mau ke masjid, mereka seolah sibuk dengan permainan gawai mereka dengan segala bentuk aplikasi dan interaksi dunia virtualnya, sehingga enggan untuk beribadah di masjid, hal ini dialami oleh berbagai wilayah di negeri ini.
Program pembentukan remaja masjid untuk terlibat dalam kegiatan masjid perlu mendapat perhatian serius kita pihak DMI dan Pemda akan bersinergi dalam kegiatan meramaikan dan memakmurkan masjid bersama program-program yang terencana dan terpola untuk membentuk habituasi generasi muda dan sekaligus regenerasi generasi muda untuk keberlanjutan aktivitas ibadah masjid yang tidak boleh terputus. Kita jadikan masjid menjadi daya tarik bagi generasi muda untuk beraktivitas, digitalisasi kegiatan masjid dan perpustakaan masjid, kegiatan lomba-lomba yang produktif serta kegiatan entrepreneur dengan kegiatan ekonomi produktif dapat memberikan daya adaptasi bagi generasi muda yang sibuk dan terlena menghabiskan waktu dan uangnya berjam-jam duduk di kafe.
Regenerasi remaja di masjid akan lebih bermakna jika bersinergis dengan urang rantau yang sangat tertarik terlibat dalam pemberdayaan anak nagari, untuk pembentukan kemandirian dan penggunaan keterampilan sebagai modal sosial dan modal kultural seandainya nanti mereka harus meninggalkan kampung untuk studi dan merantau. Maka di sini regenerasi di masjid tidak akan terputus karena ada pola pendidikan yang dibangun dengan sistem keberlanjutan, melibatkan generasi yang terutama memiliki basic pendidikan agama akan lebih tepat seperti melibatkan remaja yang sedang atau tamat di madrasah, pesantren atau lulusan sarjana di perguruan tinggi agama, sehingga kapasitas mereka untuk mengaplikasikan ilmunya tidak diragukan lagi dengan momen dan aksesibilitas yang terbuka. Semoga!











