Saat seorang Insinyur tambang belanda yang masih berusia muda ‘Willem Hendrik De Greve’
menemukan batubara dilembah sungai loento yang tidak berpenghuni, Sawahlunto pun terseret ke dalam pusaran sejarah dunia.
Batubara menjadi magnet raksasa yang menarik manusia dari segala penjuru; Eropa, Tiongkok dan seantero Nusantara, Jawa, Minangkabau, Batak, Bugis dan banyak lagi.
Sebagian dari mereka dikenang sebagai ‘orang rantai’, sebutan singkat mengurung tragedi kemanusiaan yang panjang.
Sawahlunto tumbuh dari penderitaan dan juga pertemuan. Dari penindasan lahir keragaman,
dari kekerasan muncul sedulur yang melintas batas. Tanpa disadari menjelma menjadi miniatur dunia, sebuah laboratorium sosial yang mendahului zamannya.
Seperti semua kota tambang keemasannya tak abadi. Tahun 2000 perusahaan tambang terbesar di kota ini berhenti beroperasi, Sawahlunto seperti terkena ‘Millennium Bug’, tanpa rencana kontigensi.
Batubara bukan habis namun entah kenapa mesin-mesinnya berhenti berdentum, kota ini memasuki fase paling suram.
Ekonominya mendadak mengkerut, ribuan penduduk berduyun-duyun meninggalkan kota karena kehilangan harapan, bangunan-bangunan terbengkalai dan identitas kota memudar.
Ibarat mobil yang sedang melaju kencang di jalan Tol dan tiba-tiba mogok. Para penumpangnya berhamburan turun dan mencari tumpangan lain.
Sawahlunto perlahan bersiap menghilang dari ingatan. Banyak kota tambang di dunia berakhir menjadi kota hantu dan Sawahlunto nyaris menyusulnya.
Padahal kota ini punya jejak keagungan. Dari rahimnya telah lahir tokoh-tokoh yang membentuk wajah Indonesia.
Muhammad Yamin, peracik Sumpah Pemuda dan perancang konstitusi bangsa. Jamaludin Adinegoro, pelopor jurnalistik modern yang menajamkan nalar publik.
Sutan Takdir Soedjatmoko, intelektual, diplomat, dan pemikir pembangunan Indonesia, serta pernah menjabat Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Tokyo. Mereka tokoh Sawahlunto berkilau di panggung Internasional.












