Semua itu adalah bukti nyata bahwa sebuah kota yang disangka bertakdir mati bisa dihidupkan kembali, asal dikelola dengan visi, ketekunan dan keteladanan.
Namun warisan terpenting Amran Nur tidak berwujud batu atau beton. Dia membangkitkan kembali semangat masyarakat yang sudah padam dengan menanamkan investasi tidak populer tapi menentukan yaitu kualitas manusia.
Pendidikan dijadikan fondasi, sekolah diperbaiki,
kualitas guru ditingkatkan, beasiswa diberikan
dan cakrawala mimpi anak-anak Sawahlunto diperluas. Waktu membuktikan kebenaran arah ini. Lahirlah generasi baru yang terdidik dan percaya diri.
Kepemimpinan kota saat ini Walikota Riyanda dan Wakil Walikota Jeffry adalah anak-anak muda yang merupakan buah nyata dari investasi pada sumber daya manusia.
Amran Nur juga membangun birokrasi dengan keteladanan dan integritas yang tinggi. Dia berpantang menerima gratifikasi sekecil apa pun. Bahkan tradisi mentraktir atasan dihilangkannya dengan tegas, seraya bertanya, “Mengapa Anda mampu mentraktir walikota yang juga pengusaha? Apakah penghasilan Anda sebesar saya?”
Pertanyaan itu menjadi pembelajaran mendalam tentang kejujuran bagi seluruh jajarannya. Sebaliknya ia dikenal sangat dermawan kepada jajaran stafnya, saat tugas bersama keluar daerah bahkan ke luar negeri. Ia kerap menanggung biaya akomodasi dan menambah uang saku mereka.
Amran Nur juga orang yang berfikiran berbeda untuk kebiasaan saat ini, ia juga berpantang ada gambar wajahnya menghiasi baliho, siapapun yang memasang baliho yang ada wajahnya, langsung mendapat teguran keras darinya,
dia beranggapan akan lebih bermanfaat baliho itu jika dipenuhi gambar promosi wisata dan pesan kepada publik daripada wajahnya.
Bayangkan ia memenangkan konstelasi Pilkada langsung pada periode keduanya tahun 2008 dengan capaian lebih 70% suara tanpa satupun baliho wajahnya di Kota Sawahlunto ataupun media sosial, hal yang aneh bin ajaib.
Amran nur tidak hanya tegas kepada orang lain, tapi juga keras kepada dirinya sendiri. Beberapa tahun pada periode keduanya menjabat, ia mengalami gagal ginjal, logikanya kondisi ini harus membuatnya istirahat dan melakukan rutin cuci darah.
Apalagi ini diakhir periode kedua, seharusnya menjadi zona nyaman bagi dirinya. Tapi ia tidak melakukan hal tersebut, tidak mau cuci darah,
tidak mau bolak balik ke rumah sakit karena merasa menghambat aktivitasnya bekerja dan tidak mau orang mengasihani dirinya.
Ia memasang CAPD, sebuah benda diperutnya yang berfungsi sebagai filter pembersih cairan tubuh dan diganti setiap beberapa jam secara mandiri. Metode ini sangat beresiko karena jika tidak dalam kondisi higienis atau terlambat mengganti cairan pada filter tersebut bisa mengancam nyawa.












