Pada 2003, saat pertama kali dilantik sebagai Wali Kota, Amran Nur tidak mewarisi kota yang jaya tapi kota yang rapuh, lelah, kehilangan harapan dan terperangkap dalam nostalgia kejayaan tambang.
Namun ia membaca Sawahlunto bukan sekarat melainkan sedang dipersimpangan jalan menunggu arah baru.
Di saat banyak pemimpin berlomba mengeksploitasi bumi, Amran memilih strategi yang sangat berbeda, bukan ‘apa lagi yang bisa digali dan diambil dari dalam tanah’, melainkan ‘apa yang bisa diselamatkan dari sejarah’.
Pilihan ini terdengar mustahil bahkan dianggap mimpi kosong. Namun keberanian justru lahir dari keyakinan semacam itu.
Bangunan bekas tambang tidak diruntuhkan, melainkan dirawat. Terowongan tua dibuka kembali sebagai museum bawah tanah.
Stasium kereta Api, gudang-gudang tua, bekas kantor kolonial, dan permukiman lama disusun menjadi sebuah narasi kota yang seluruhnya menjadi museum.
Luka penindasan kolonial tidak ditutupi melainkan diceritakan. Sawahlunto diarahkan menjadi museum hidup, sebuah kota yang nyaman dibaca dengan langkah kaki, kamera dan rasa ingin tahu.
Amran Nur juga menghadirkan terobosan berani,
water boom pertama di kawasan Sumatera bagian tengah, mengkreasikan lahan gersang bekas tambang menjadi taman satwa,
membangun gelanggang pacuan kuda dengan spesifikasi fasilitas dan event-event berstandar nasional di puncak bukit nan indah, taman buah subur di tanah berbatu bekas galian tambang,
hingga event-event wisata dan budaya yang berskala Internasional,
Di rentang tahun 2009–2013, hanya ada sedikit tempat di dunia di mana Anda bisa menyaksikan dan menikmati musik etnik dan unik dari berbagai belahan dunia serta suku-suku di Indonesia, dimainkan oleh para profesional musik nasional dan dunia,
di atas panggung megah yang didirikan di antara bangunan- bangunan tua.
Penonton sering terkaget ketika tiba-tiba muncul kolaborasi, antara pemusik profesional dunia dan para talenta musik dan budaya Sawahlunto.
Lebih syahdu lagi menonton sambil lesehan dan tiba-tiba ketika selesai setiap penampilan, para pemusik hebat saat turun panggung kemudian tiba-tiba duduk lesehan di sebelah Anda dan mengajak Anda ngobrol.
Itulah Simfes, Sawahlunto Internasional Musik Fastival. Amran Nur membuat event itu di tengah kota tua Sawahlunto, bersama dengan kurator-kurator musik terbaik Indonesia dan dunia.
Atau event unik lainnya yang disebut makan bajamba. Setiap 1 Desember dalam rangka hari jadi kota. Makan bersama ditengah kota tua
Bersama puluhan ribu warga kota dan wisatawan. Dengan pakaian serta tradisi masing-masing etnis, semua orang berbaur, bercengkrama menikmati keberagaman dan kebersamaan multi etnis, Amran Nur juga sang pencetus event ini.












