OPINI

Visi dan Keteladanan Mengubah Takdir Sebuah Kota

×

Visi dan Keteladanan Mengubah Takdir Sebuah Kota

Sebarkan artikel ini
Medi Iswandi
Ka BPSDM Sumatera Barat

Tapi ada satu sosok lain yang namanya mungkin tak ditulis pada buku sejarah
namun jejaknya ada pada denyut kebangkitan kota ini : Amran Nur. Jika para pendahulunya mengabdi dengan gagasan di luar Sawahlunto,
Amran Nur memilih jalur pulang.

Dialah sang ‘arsitek’ yang mengolah puing-puing bekas tambang menjadi kepingan emas pariwisata, mengubah kenangan pedih menjadi museum hidup yang bermartabat.

Amran Nur membuktikan bahwa kepahlawanan tak selalu berarti mengubah dunia yang luas,
menyelamatkan tanah kelahiran sendiri dengan kedua tangan dan segenap hati merupakan Pahlawan yang sejati.

Sejarah tidak berjalan lurus. Seringkali berbelok karena satu tekad manusia. Kepulangan Amran Nur ke Sawahlunto tidaklah langkah biasa,
datang bukan sebagai pemburu kekuasaan melainkan sebagai seorang anak yang menunaikan amanah.

Baca Juga  Kota Tambang Bersejarah, Sawahlunto Ditetapkan Warisan Dunia Oleh UNESCO

Lahir pada 13 Oktober 1945, di tahun Indonesia belajar bernapas sebagai bangsa merdeka,
Amran tumbuh dalam nilai-nilai Minangkabau yang memandang merantau bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai persiapan untuk pulang dan mengabdi.

Setelah menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung, kemudian membangun karier sukses sebagai pengusaha di Jakarta.
Hidupnya mapan, harta sangat lebih dari sekedar berkecukupan dan sudah selesai dengan ambisinya.

Namun dalam sanubari orang Minang selalu ada rasa yang memanggil untuk pulang.
Di tengah kesuksesannya, gema suara almarhum sang ibu terus mengiang:
“Pulanglah, bangun kembali tanah kelahiranmu, sebelum kota ini lenyap ditelan zaman.”

Baca Juga  Persiapan Pendidikan Anak di era Society 5.0

Pesan berisi amanah bahwa ilmu, harta, dan pengalaman di rantau hanya bermakna bila mengabdi untuk kampung halaman.

Keputusan itu mengguncang. Anak-anaknya bingung bertanya, mengapa meninggalkan kenyamanan ibu kota, rumah besar dengan hidup mapan demi sebuah kota kecil yang hampir dilupakan sejarah?

Mengapa memilih jalan terjal ketika jalan rata terbentang luas? Bagi Amran Nur ini bukan soal kalkulasi materi. Ini soal bakti kepada ibu,
tanggung jawab moral sebagai anak Sawahlunto.

Ia tahu pulang berarti memikul beban yang lebih berat, bukan untuk berkuasa melainkan untuk menepati janji.