OPINI

Visi dan Keteladanan Mengubah Takdir Sebuah Kota

×

Visi dan Keteladanan Mengubah Takdir Sebuah Kota

Sebarkan artikel ini

Oleh: Medi Iswandi (Ka. BPSDM Sumatera Barat)

HARIANHALUAN.ID – Narasi ini terlahir dari serpihan kenangan, yang ditempa oleh perjalanan kehidupan.

Takdir mempertemukan saya dengan Sawahlunto untuk pertama kalinya pada akhir 1996, sebuah kota yang kala itu sedang gemerlap dengan kehidupan,
digerakkan oleh irama tak henti
dari mesin-mesin tambang batubara yang menggali isi perut bumi.

Di masa itu, saya masih “Gen Z” era 90-an, mahasiswa Teknik Pertambangan pada sebuah universitas di Bandung, sedang melaksanakan praktek lapangan sebagai kewajiban dari tugas akhir meraih gelar kesarjanaan, menyaksikan langsung sebuah kota bagai dipuncak gairah nan hidup, tumbuh, dan menggantungkan denyut nadinya pada kekayaan yang tersimpan jauh di dalam tanahnya.

Dua tahun kemudian pada 1999, garis hidup membawa saya kembali ke kota ini, ketika nasib saya, seorang CPNS muda Sumatera Barat, ditugaskan pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sawahlunto, memulai babak baru kehidupan, langkah awal perjalanan fase dewasa saya.

Baca Juga  Ujian Kinerja di Balik WFH ASN

Rentang waktu 2000 sampai 2003 menyaksikan dan mengalami sendiri transformasi pahit sebuah kota menjadi sebuah pengalaman hidup saya yang luar biasa. Kilauan kota itu pudar berganti dengan kesenyapan yang mencekam.
Keheningan yang menyelimuti bukanlah kedamaian, melainkan kesunyian bagai pesakitan kehabisan tenaga.

Saat itu, sebutan “kota mati” menjadi realitas yang menusuk hati, seperti seseorang jagoan yang kehilangan harga diri.

Selama lebih dari tujuh belas tahun pengabdian di kota ini, saya menyelami setiap sudutnya,
Setiap lekuk wilayahnya, keberagaman etnisnya,
keramahan manusia-manusianya
telah menjadi guru dan sahabat yang paling bijak.

Kota ini mengajarkan saya, kalau luka sejarah tak perlu berakhir menjadi sebuah dendam,
serta kepemimpinan yang dilandasi hati nurani, sanggup mengubah jalan takdir sebuah wilayah.

Baca Juga  Keterbukaan Informasi Publik di Era Presiden Prabowo

Sawahlunto memang tidak dilahirkan dalam kenyamanan, tapi dari rahim yang terluka,
muncul dari tanah yang dirobek paksa, dari peluh dan darah yang mengucur tanpa identitas,
dari raga-raga yang dibelenggu untuk memuaskan kerakusan kolonial di abad ke-19.

Dalam peta global, Sawahlunto hanyalah noktah kecil di tengah Sumatera Barat. Namun dalam sejarah tambang dan penjajahan, kota ini adalah arsip bernyawa, sebuah dokumen lengkap tentang peradaban yang mengeksploitasi alam sekaligus menginjak martabat manusia, menyisakan ribuan makam dengan nisan bernomor urut pengganti nama.

Menjelang ujung abad ke-19, dunia dilanda dahaga akan energi. Revolusi Industri di Eropa memerlukan batubara dan kolonialisme merengkuh jauh hingga ke pelosok untuk memuaskannya.