OPINIUTAMA

Meneliti Songket, Merawat Budaya Lewat Media Digital: Project Based Learning Mahasiswa Antropologi Budaya ISI Padangpanjang di Pandai Sikek

×

Meneliti Songket, Merawat Budaya Lewat Media Digital: Project Based Learning Mahasiswa Antropologi Budaya ISI Padangpanjang di Pandai Sikek

Sebarkan artikel ini

Penulis: Azlin Resiana, M.Pd., dan Basyarul Aziz, M.Si (Dosen ISI Padangpanjang)

HARIANHALUAN.ID — Perkembangan media digital mengubah cara masyarakat memahami, mendokumentasikan, dan memperkenalkan budaya. Jika sebelumnya budaya diwariskan secara lisan antargenerasi, kini media sosial menjadi ruang baru untuk pelestarian budaya lokal. Fenomena ini menjadi fokus mahasiswa Program Studi Antropologi Budaya ISI Padangpanjang dalam kegiatan kuliah lapangan pada mata kuliah Media dan Budaya di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar. Pandai Sikek dikenal sebagai sentra kerajinan songket terbaik di Sumatera Barat.

Songket Minangkabau tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga merepresentasikan identitas budaya, nilai adat, filosofi hidup, dan status sosial Masyarakat Minangkabau.Kegiatan kuliah lapangan ini melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dengan mengobservasi proses pembuatan songket, mulai dari pemilihan benang, pewarnaan, penyusunan motif, hingga proses menenun yang membutuhkan ketelitian tinggi. Sebagian pengrajin masih mempertahankan teknik tradisional yang diwariskan secara turun-temurun.

Namun, di tengah modernisasi dan industri tekstil yang semakin berkembang, songket tradisional menghadapi berbagai tantangan. Produksi kain modern yang lebih cepat dan murah membuat minat generasi muda terhadap tenun tradisional semakin berkurang. Perubahan pola konsumsi masyarakat juga memengaruhi keberlangsungan industri songket lokal. Munculnya tren fashion yang kerap berganti-ganti, menjadikan songket semakin kurang diminati. Kondisi ini menuntut kreativitas penenun agar songket tetap dilirik, salah satunya dengan memanfaatkan media offline maupun online.

Melalui kuliah lapangan mata kuliah Media dan Budaya, mahasiswa tidak hanya mempelajari hubungan media dengan kehidupan sosial, tetapi juga mengimplementasikan media sebagai alat edukasi budaya. Sebagai bentuk implementasi, mahasiswa membuat konten kreatif berdasarkan hasil penelitian lapangan, seperti video pendek, dokumentasi visual, dan narasi edukatif tentang songket Pandai Sikek. Konten tersebut dipublikasikan melalui Instagram, TikTok, dan YouTube untuk memperkenalkan songket kepada generasi muda dengan pendekatan digital yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Baca Juga  Antisipasi Kecurangan dan Penyalahgunaan BBM Bersubsidi, Polres Pasbar Gelar Patroli Dialogis ke Sejumlah SPBU

Media sosial dipilih karena memiliki jangkauan luas dan mampu menyebarkan informasi dengan cepat. Dalam konteks budaya, media tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi juga ruang representasi identitas budaya. Konten digital yang dibuat mahasiswa menjadi bentuk dokumentasi sekaligus promosi budaya lokal agar tetap dikenal di tengah arus budaya populer global.

Dalam perpektif Antropologi Media, pembuatan Songket Pandai Sikek merupakan proses ketika media digital menjadi alat komunikasi dan menjadi ruang sosial tempat budaya dipresentasikan, dinegosiasikan dan diwariskan. Media massa dan media sosial terbukti berperan dalam membentuk kontruksi realitas sosial, identitas dan cara masyarakat memaknai simbol budaya. Di saat yang sama, media sosial memberikan ruang parstisipatif tempat pengguna mencampurkan narasi lokal dan global sehingga identitas budaya tampil dalam bentuk yang lebih dinamis.

Bila kita melihat tampilan media ini, mahasiswa juga melihat referensi dari sosial media. Beberapa referensi kajian sosial media ini memiliki tampilan audiovisual yang membangun identitas Songket Pandai Sikek memlaui narasi, visual, musik dan performa artistik. Temuan ini sejalan dengan studi Instagram tentang Pacu jalur dari FZ, Y., Salam, N.,& Yozani, R. (2026) “Budaya tradisional, identitas dan Media Baru: Representasi Pacu Jalur Pada Instagram @Kuantanesia” yang menunjukkan bahwa platform digital dapat berfungsi sebagai perantara budaya yang merekonstruksi identitas tradisi melalui visual, cerita lokal dan fitur platform seperti foto, video pendek dan reels.

Jika merujuk pada pandangan Geertz yang memahami budaya sebagai sistem makna dan simbol, songket dapat dipahami sebagai teks budaya yang sarat makna dan simbol sosial. Dalam konteks media digital, konsep representasi digital dan pemikiran Walter J. Ong menjelaskan bahwa perpindahan songket ke platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube tidak hanya mengubah media penyampaiannya, tetapi juga cara publik memaknainya melalui bentuk kelisanan sekunder.

Baca Juga  Kolaborasi Global Penting Untuk Ketahanan Pangan Dunia

Kegiatan mahasiswa di Pandai Sikek menunjukkan tiga proses utama: transformasi pewarisan budaya dari interaksi langsung ke dokumentasi digital, pergeseran pelestarian budaya dari pasif menjadi partisipatif dengan mahasiswa sebagai agen budaya digital yang memproduksi konten budaya, serta munculnya peluang dan tantangan media digital yang dapat memperkuat identitas budaya jika dimanfaatkan secara tepat, namun juga berisiko menimbulkan distorsi nilai dan penyempitan representasi budaya akibat arus informasi yang tidak tersaring dan dominasi algoritma yang mengutamakan konten viral.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan secara konvensional. Pemanfaatan media digital dapat menjadi strategi baru untuk menjaga eksistensi budaya tradisional. Generasi muda berperan penting sebagai penghubung antara tradisi dan teknologi.Melalui kegiatan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman akademik sekaligus memahami realitas sosial masyarakat secara langsung. Interaksi dengan pengrajin memberikan pemahaman bahwa budaya hidup dan berkembang bersama masyarakat pendukungnya.

Karena itu, pelestarian budaya memerlukan keterlibatan bersama, termasuk melalui media digital.Kegiatan ini menjadi contoh kontribusi dunia pendidikan dalam pelestarian budaya lokal. Dengan memadukan penelitian lapangan dan produksi media kreatif, mahasiswa menghadirkan bentuk pelestarian budaya yang relevan dengan perkembangan zaman. Songket Pandai Sikek bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas budaya yang harus terus dikenalkan kepada generasi mendatang. Dengan demikian, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bagian dari ekosistem pelestarian budaya yang lebih luas. (*)