PARIS, HARIANHALUAN.ID — Paris Saint-Germain dan Bayern Munchen kembali dipertemukan di panggung besar Liga Champions Eropa. Duel dua raksasa benua biru itu akan tersaji pada babak semifinal musim 2025/2026 dan dijadwalkan berlangsung Rabu (29/4) dini hari WIB. Pertandingan ini diprediksi menjadi salah satu laga paling panas musim ini karena mempertemukan dua tim dengan performa paling dominan sepanjang kompetisi.
Bukan tanpa alasan jika banyak pihak sejak awal memprediksi PSG dan Bayern akan bertemu di fase empat besar. Kedua klub tampil sangat konsisten sejak fase grup hingga babak gugur. Bayern bahkan sudah lebih dulu mengunci gelar Bundesliga beberapa pekan lalu, menegaskan dominasi mereka di kompetisi domestik Jerman.
Secara keseluruhan, laga nanti menjadi pertemuan ke-16 kedua tim di ajang Liga Champions. Bayern Munchen masih unggul dalam rekor pertemuan dengan sembilan kemenangan, sedangkan PSG baru mengoleksi enam kemenangan. Statistik itu menunjukkan dominasi wakil Jerman atas klub ibu kota Prancis tersebut.
Yang lebih menarik, Bayern selalu keluar sebagai pemenang dalam lima pertemuan terakhir kontra PSG. Termasuk kemenangan 2-1 yang mereka raih di Paris pada fase grup musim ini. Catatan itu tentu menjadi modal psikologis yang sangat penting bagi pasukan Vincent Kompany saat bertandang ke markas Les Parisiens.
Dalam fase gugur Liga Champions, Bayern juga jauh lebih dominan. Mereka pernah menaklukkan PSG pada final Liga Champions 2020 lewat kemenangan tipis 1-0. Selain itu, Bayern juga menyingkirkan PSG pada babak 16 besar musim 2022/2023 dengan agregat meyakinkan 3-0.
Satu-satunya keberhasilan besar PSG atas Bayern di fase gugur terjadi pada perempat final musim 2020/2021. Saat itu, PSG lolos berkat aturan gol tandang setelah agregat berakhir imbang 3-3. Momen tersebut masih menjadi salah satu kenangan terbaik PSG saat menghadapi raksasa Bavaria itu.
Secara umum, PSG memang belum terlalu konsisten saat menghadapi klub-klub Bundesliga. Dari 11 pertandingan terakhir di kompetisi UEFA melawan tim Jerman, mereka hanya meraih tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan enam kekalahan. Statistik ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Luis Enrique.
Meski demikian, PSG datang dengan kepercayaan diri tinggi karena berhasil mencatat sejarah dengan menembus semifinal Liga Champions dalam tiga musim beruntun. Pencapaian itu belum pernah diraih klub Prancis mana pun sebelumnya. Jika menang di laga ini, PSG juga akan mencatat kemenangan ke-100 di Liga Champions.
Bayern Munchen sendiri memiliki rekor luar biasa saat menghadapi klub asal Prancis. Mereka memenangkan 14 dari 16 pertandingan terakhir melawan tim Prancis, termasuk enam kemenangan dari tujuh laga tandang. Statistik tersebut memperlihatkan betapa nyamannya Bayern bermain menghadapi wakil Ligue 1.
Di fase gugur, Bayern juga tampil sangat solid. Mereka memenangi lima dari tujuh duel dua leg melawan klub Prancis dan selalu menang dalam tiga laga sistem gugur satu pertandingan. Secara keseluruhan, Bayern telah mencapai semifinal Liga Champions sebanyak 22 kali dan sukses lolos ke final sebanyak 11 kali.
Namun demikian, performa terbaru Bayern di fase semifinal tidak terlalu meyakinkan. Mereka tercatat menelan lima kekalahan beruntun dalam semifinal dua leg. Catatan negatif itu menjadi tantangan tersendiri bagi Vincent Kompany yang berambisi mengembalikan Bayern ke final Liga Champions.
Dari kubu PSG, bek sekaligus kapten tim Marquinhos berpeluang mencatat penampilan ke-120 di Liga Champions. Jika itu terjadi, ia akan menyamai rekor pemain Brasil yang saat ini masih dipegang Roberto Carlos. Sementara Nuno Mendes berpotensi menjadi pemain Portugal termuda yang mencapai 50 laga Liga Champions.
Di sisi lain, Bayern sangat bergantung pada ketajaman Harry Kane. Penyerang Inggris itu tampil luar biasa musim ini dengan koleksi 12 gol di Liga Champions 2025/2026. Jumlah tersebut menjadi rekor tertinggi bagi pemain Inggris dalam satu musim, melampaui sejumlah legenda sebelumnya.
Kane juga mencetak gol dalam lima pertandingan Liga Champions secara beruntun. Rekor itu sebelumnya hanya mampu dicapai Steven Gerrard pada musim 2007/2008. Dengan total 53 gol di semua kompetisi musim ini, Kane jelas menjadi ancaman terbesar bagi lini belakang PSG.
Luis Enrique diperkirakan tetap mengandalkan pola 4-3-3 dengan Ousmane Dembele sebagai motor serangan utama bersama Kvaratskhelia dan Doue. Sementara Bayern diprediksi tampil dengan skema 4-2-3-1 yang menempatkan Harry Kane sebagai ujung tombak, didukung Musiala, Olise, dan Diaz dari lini kedua. Melihat kekuatan kedua tim, pertandingan diprediksi berlangsung ketat dan sarat tensi tinggi. PSG memiliki keuntungan bermain di kandang, tetapi Bayern datang dengan pengalaman dan rekor superior. Laga diperkirakan berakhir imbang 2-2, dengan kedua tim saling berbalas gol dalam duel penuh drama menuju final Liga Champions. (*)











